RSS Feed

Sawasdee ….. Mam, Where Are You From?

This slideshow requires JavaScript.

Perjalanan perdanaku ke Bangkok Thailand berawal dari informasi tiket promo sebuah maskapai penerbangan AA. Walaupun aku siap berjalan sendiri kesana, namun aku  ingin berbagi  pengalaman dan menurutku semakin banyak orang yang ikut, semakin meriah rasanya. Berbekal niat itulah aku memberanikan diri mengajak beberapa teman. Namun sayangnya perjalanan perdana tidak cukup menyakinkan teman-teman. Hanya Maryatilah yang percaya akan kemampuanku melakukan perjalanan keluar negeri. Dengan mudahnya dia bersedia mengikuti rencanaku ke Thailand di liburan semester tahun ini.

Maryati adalah temanku semasa SMA. Kami bisa cocok satu sama lain. Aku suka dia karena dia paling pintar dikelas. Sewaktu SMA dulu aku sering bertanya tentang pelajaran yang aku senangi dan  dia dengan mudah memberi penjelasan kunci jawaban selalu setelah ulangan. Maryati juga pernah bergabung dalam perjalan pertamaku membawa rombongan beberapa teman ke Kuala Lumpur dan Singapore. Dia cukup senang dengan perjalanan dengan biaya hemat yang aku adakan. Sepertinya itulah alasannya untuk kembali bergabung dalam perjalanan keluar negeri ini.

Dia segera mentransferkan sejumlah uang untuk memesan tiket pesawat dan sisanya menjelang keberangkatan. Walau ada keterlambatan keuangan yang ia miliki, namun dengan niat yang kuat, dia akhirnya dapat memecahkan masalahnya. Tidak akan sulit mencari solusi bagi orang pintar sepertinya. Kerjasamanya dengan seorang Dosen di sebuah Universitas negeri di Jakarta membuahkan kesepakatan kerja dengan uang lelah dibayarkan sebelum mulai proyeknya. Senang rasanya kalau teman percaya terhadap aku dan dari situ aku berjanji untuk dapat kembali menyenangkannya.

Namun berdasarkan pengalaman sebelumnya, hanya ada satu  hal yang aku kurang suka dari dia. Dia senang sekali berfoto ria di berbagai tempat sampai beberapa kali pose dengan beberapa persyaratan yang sangat detil yang menurutku hal itu menghabiskan waktu. Aku suka juga senang berfoto tapi aku lakukan cukup sekali dalam waktu yang singkat saja untuk dokumentasi.  Maka dari itu aku berniat lebih sabar menghadapi situasi itu.

Tiba waktu keberangkatan kami ke Bangkok, kami janjian di pool bus Damri namun kami naik taksi online ke bandara Soetta karena takut ketinggalan pesawat. Sesampainya kami di terminal 3 bandara Soetta kami langsung menuju gate atau pintu masuk pesawat dengan santai karena waktu kami masih luang. Awalnya kami tunggu di gate sesuai dengan yang kami lihat di papan pengumuman  namun karena aku curiga gatenya sepi maka aku tanya petugas di sekitar dan ternyata gate nya telah berubah dan kami pindah segera. Setelah menunggu selama  beberapa puluh menit kami pun masuk ke pesawat.

Kami menikmati kursi kami yang letaknya berada di barisan depan. Kami juga menikmati makanan ringan di pesawat dan tanpa terasa tidak sedikitpun kami berdua tidur karena kami saling berbagi cerita yang menarik dalam hidup kami masing masing. Padahal kami pun tidak tertidur di dalam taksi sebelumnya. Kami berdua terlalu bersemangat untuk mendapatkan pengalaman di Bangkok.

Setibanya kami di bandara Don Muang, kami antri di barisan passpor asing. Sebetulnya kami bisa saja antri di barisan pemegang passpor negara asean tapi karena sudah kepalang antri disitu kami menikmati saja antriannya yang cukup panjang. Bandara don muang ini merupakan  bandara lama  yang sangat sempit kesannya karena langit-langitnya yang sangat rendah.

Ada seorang petugas imigrasi wanita dengan potongan rambut yang amat pendek. Aku jadi terpana dibuatnya. Aku jadi teringat istilah ladyboy yaitu wanita yang sebetulnya laki-laki. Namun untuk petugas tersebut aku balikan isilahnya yaitu boylady karena dia amat terlihat seperti laki-laki yang sebetulnya wanita. Roknyalah yang menunjukkan identitas aslinya. Lain-lain terutama suaranya amat tegas mendukung pendapatku. Dengan tegasnya ia beberapakali mengusir para turis yang berdiri menunggu di selasar ruang setelah imigrasi. Hal ini memang menganggu lalu lintas turis yang akan turun ke gerbang ketibaan.

Selesai melewati imigrasi, kami langsung turun ke bawah dan mencari kios sim card lokal. Aku beli satu simcard lokal seharga 199bath untuk kami pakai berdua. Aku sempatkan diri menanyakan biaya sewa mobil ke hotel dikios sebelahnya, mereka menawarkan mobil dengan biaya 900bath ke hotel. Aku juga tanyakan harga sewa yang lebih rendah namun pelayannya menyarankan aku untuk memakai jasa taksi meter di gate 8 yang paling ujung.

Kami berdua akhirnya naik taksi meter. Bahasa thai yang amat asing bagiku membuat agak sedikit takut ketika aku lihat si supir tidak begitu fasih berbahasa Inggris. Aku sodorkan voucher hotel ku untuk menyakinkan dia mengerti kemana akan mengantar kami. Dia mengangguk-angguk dan berkata “yes, mahannop street”. Aku amati dan pastikan supir taksi yang akan mengantar kita terlihat baik dan ramah sehingga rasa itu hilang. Nama sopirnya adalah Phesan. Sebuah nama yang unik.

Didalam taksi aku berkomunikasi dalam bahasa sunda dengan Maryati dengan sengaja supaya phesan tidak mengerti toh kamipun tidak mengerti apa yang dia tanyakan kepada kami dalam bahasanya. Setelah ia mencoba berkomunikasi dalam bahasa Inggris sebisanya,  baru kamipun berbahasa Inggris.  Aku menanyakan beberapa bahasa thai dalam bahasa Inggris dan dari pelajaran bahasa thai yang singkat dalam taksi tersebut. kami cukup terhibur dengan caranya mengajarkan bahasa thai dengan bahasa Inggris yang minim. Awalnya aku berpikir Maryati akan tertidur didalam taksi sepanjang jalan, tapi rupanya dia hanya tidur sekejap saja dan kembali menikmati pemandangan kota Bangkok sambil kadang bersenandung.

Karena hostel yang kami tuju berada di dalam gang atau yang disebut “soi” dalam bahasa thai, phesan berputar-putar di sekitar jalan mahannop beberapa kali sampai-sampai ia keluar menanyakan hal tersebut ke beberapa orang sekitar. Sampai akhirnya dia dapatkan dan kami semua berteriak gembira “yaaay” seperti anak kecil. Phesan menunjukkan meter dan aku bayar beserta tips dan surcharge yang harus aku bayar sebanyak 50 bath. Total dengan tips untuk phesan aku bayar 300 bath. Cukup terjangkau. Dari pada aku ambil resiko naik bus di negara yang belum aku pahami daerahnya.

Sampai di hostel kami istirahat. Pemilik hostel adalah seorang bule Perancis yang dapat aku simpulkan dari logat bahasa Inggrisnya yang ke Perancisan. Dia bilang “second floor” kami mendengarnya “seven floor”. Kami terkaget mendengarnya. Setelah sama-sama tahu ada salah pengertian, kami semua tertawa. Di hari selanjutnya kami tahu bahwa istrinya  orang Thailand.

Hostelnya bersih dan kamarnya luas. Setelah istirahat sebentar, kami keluar mencari restoran berlabel halal tapi kami tidak menemukannya, sehingga akhirnya kami ke gerai seven eleven yang terdekat untuk mencari makan malam. Beruntung ada beberapa makanan beku yang berlabel halal disana. Dan beberapa makanan beku berlabel halal itu lumayan hemat dan enak sehingga menjadi beberapa kali menu makan malam kami disana. Cita rasa asem, asin, dan pedas, sangat khas cita rasa Thailand.

Esok hari setelah sarapan sederhana di hostel, pemilik hostel dengan ramah menanyakan tujuan kami hari itu. Aku beritahukan tujuan kami dan dia dengan senang hati memberikan petunjuk jalan menuju ke sana yang padahal sudah aku pelajari dari google maps. Sesuai dengan informasi yang aku dapat, ternyata hostel kami sangat dekat dengan lokasi beberapa tempat yang ingin kami kunjungi seperti Wat Pho, Wat Arun, Grand Palace dan Giant Swing.  Dari hostel ke Wat Pho cukup kami tempuh dalam waktu 10 menit saja.

Awalnya kami menuju Grand Palace namun karena antrian turis mengular akhirnya aku memutuskan untuk mengunjungi wat pho dulu yang letaknya berada tepat di belakang Grand Palace. Kami menuju Wat Pho dengan mudah dan menikmati keindahan sekitar istana itu yang sangat bersih.

Setelah kami menikmati Wat Pho, kami menuju Wat Arun yang juga tidak jauh dari Wat Pho. Keluar dari pintu kami menuju pasar tradisional dan pelabuhan kecil Tha Tien. Tiket untuk naik perahu menyebrangi sungai Chao Praya hanya sebesar 4 bath. Dan sampailah kami di kuil fajar Wat Arun yang terlihat putih megah dari pelabuhan. Dari sana kami kembali ke hostel untuk istirahat dan lanjut menuju Khaosan Road dengan taksi online.

Esok harinya kembali ke Grand palace. Sayangnya antriannya tetap panjang mengular. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke pasar tradisional di pelabuhan Tha Tien. Di perjalanan kami bertemu dengan seorang laki-laki yang pandai berbahasa Inggris. Dia memperkenalkan dirinya dan memberi tahu kami bahwa ia adalah seorang guru bahasa Inggris. Senangnya hati kami bertemu guru lain di luar negeri, dia dengan ramahnya menanyakan tujuan kami. Dia menyarankan kami untuk pergi ke pelabuhan Ranchapini untuk menikmati perjalanan dengan perahu sederhana  mengelilingi sungai kecil untuk melihat desa kuno dan pasar terapung disana. Sebetulnya kami tidak punya waktu untuk berlama-lama lagi karena kami ingin pergi ke MBK yaitu sebuah mall yang terkenal di tengah kota sesuai rencana kami.  Namun karena si lelaki itu menyarankan kami mengunjunginya dengan naik tuktuk kami jadi tertarik apalagi ongkos tuktuknya cukup murah hanya 20 bath.

Setibanya di pelabuhan itu, kami jadi urung karena perkiraan perjalanan perahu yang berkisar satu jam lamanya. Supir tuktuk yang mengetahui kebatalan kami sepertinya agak kecewa. Sepertinya dia jadi batal dapat komisi. Untuk meyenangkannya kami naik tuktuknya kembali keliling kota sebesar 100 bath dan melanjutkan perjalanan ke MBK dengan taksi online.

Di MBK kami membeli beberapa oleh-oleh dan barang-barang titipan. Kami menikmati beberapa makanan khas seperti manisan buah mangga dan durian kering yang banyak di tawarkan oleh setiap gerai makanan. Kami juga menikmati kegiatan tawar manawar ketika berbelanja disana. Walupun MBK merupakan mall besar, namun hampir semua barang yang ada didalam toko bisa kita tawar, apalagi bila kita membelinya dalam jumlah banyak. Kami juga melihat pasar malam di seberang mall MBK dan kami kembali melihat-lihat dagangan disana. Setelah selesai kami puas berkeliling, kami kembali ke hostel dengan memesan taksi online dan istirahat.

Esok harinya kami ke Giant swing yaitu semacan tugu di tengah kota berbentuk ayunan yang tinggi sekali. Setelah berfoto kami kembali ke hostel untuk check out dan pindah ke hotel di daerah Pratunam. Letak hotelnya tepat di belakang pratunam market. Setibanya disana kami langsung ke pasar pratunam yang ramai sekali. Kami makan siang dan belanja oleh-oleh disana. Pasar pratunam merupakan pasar yang cukup luas yang menyediakan segala kebutuhan dengan harga murah dan bisa di tawar pula. Di hari ketiga Maryati mulai merasa lelah,  sedang aku masih ingin mengunjungi tempat lain yaitu Asiatique. Sehingga aku memutuskan untuk ke sana malam hari sendirian dengan menggunakan ojek online. Sedangkan Maryati istirahat di hotel.

Sopir ojek online yang mengantar aku ke Asiatique bernama Fanny wang. Saya tanyakan namanya ke resepsionis hotel karena tulisan namanya dalam bahasa thai yang seperti tulisan sansekerta sebelum dia datang menjemput saya. Tampang fanny ini terlihat cape dan lusuh namun senyum dan caranya menyapa tidak akan pernah saya lupakan “Sawasdee Mam”. Saya balik merespon “Sawasdee kaa” dengan senyum yang manis dia berkata “Asiatique?”, aku mengangguk dan lalu dai berikan aku helm yang lain untuk aku pakai. Di tengah perjalanan kembali aku perhatikan Fanny dari belakang. Aku pastikan dia adalah wanita tulen Dia menanyakan sesuatu yang membuat telingaku geli mendengarnya karena logat bahasa thainya. “Mam, where are you from….”, aku jawab Indonesia, lalu kepalanya mengangguk-angguk.

Selesai menikmati Asiatique aku segera kembali memesan ojek online. Ketika menunggu ojekku datang, terdengar azan Magrib sangat jelas disana. Rupanya ada mesjid besar di seberang Asiatique sebuah mesjid Bangkok yang cukup besar. Ada keinginan untuk mampir kesana namun ojek online yang aku pesan sudah datang.Tak  lama aku duduk di motor, temanku Maryati yang menunggu di hotel jugamenelpon menanyakan keberadaanku. beberapakali dia menelponku. dia rupanya khawatir juga. perjalanan kami kesekian hari ini menambah kedekatan kami. yang awalnya aku tidak suka kebiasaanya berlama-lama foto, aku malah enjoy dan jadi suka berfoto ria.

Hari terakhir kami disana, kami mengunjungi teman di KBRI yang letaknya tidak jauh dari hotel. Dia adalah pak Olih, dia seorang guru di sebuah Sekolah Indonesia Bangkok yang sama-sama merupakan orang Bogor Kabupaten. Aku mengenalnya ketika ikut pelatihan guru di Adelaide, Australia Selatan. Yang diakhir cerita, dia merupakan teman dari temanku pak Roy. Betapa dunia ini sempit terasa. Setelah lama tak bertemu akhirnya kami bertemu di kota Bangkok. Dengan penuh kagum aku mendengarkan pengalamannya di sana.  Aku  jadi teringat ketika mengikuti program mengajar disekolah Indonesia di luar negeri ke Malaysia dan Davao Filipina, namun sayang aku tidak mendapat restu dari suami sehingga kesempatan itu tidak sempat aku nikmati.

Dari informasi yang aku dapat dari pa Olih, kami jadi bisa mengunjungi mesjid Darul Amman dan makan siang di sebuah restoran halal disebelah mesjid bernama restoran halal Hj. Fatornee yang letaknya tidak jauh dari KBRI. Kami juga mencoba kereta dari BTS Ranchidewi ke BTS Saphan Taksin PP dan kembali ke hotel untuk check out dan menuju bandara Don Muang untuk kembali ketanah air tercinta. kami sempat berkenalan dengan beberapa orang guru dari Indonesia dan kami membuat janji untuk kembali melakukan travel bersama di tahun depan. Dengan  setumpuk juta rindu untuk keluarga tercinta  dan restu dari Allah SWT SWT, kami akhirnya tiba dengan selamat di tanah air.

Aku tersenyum ketika teringat jaketku tertinggal di Bandara Don Muang namun Alhamdulillah selalu aku ucapkan dalam hati, karena yang penting dan sederhana  bagiku adalah aku sampai dengan selamat dengan banyak kenangan indah disana.

 

Advertisements

Passpor yang Hilang di SG2KL July 2018

This slideshow requires JavaScript.

SG2KL adalah rute perjalanan saya membawa rombongan teman-teman ke Singapore lalu ke Kuala Lumpur. Setelah beberapa kali membawa rombongan, rute SG2KL ini merupaka rute yang jarang saya tempuh. Saya lebih sering menggunakan rute yang sebaliknya yaitu KL2SG dengan alasan agar kepulangan kita ke tanah air bisa lebih cepat karena perjalanan pulang dari Singapore jarak tempuhnya  lebih pendek. Hanya dengan sekitar satu jam kita sudah sampai ditanah air tercinta.  Faktor lelah dan kangen pulang kadang juga memicu emosi dan bad mood para traveller. Belum lagi luasnya bandara KLIA lebih luas dari Changi dari pengalaman yang saya rasakan.

Perjalanan SG2KL bulan Juli 2018 ini diminta oleh beberapa guru dari MTS Negeri Bogor yang merupakan teman dari ibu Andi yang sudah ikut SG2KL bulan Desember 2017 lalu. Mereka hanya berjumlah 5 orang yaitu bu Laelatul dengan anakk bungsunya, bu Yunita, bu Lia dan bu Hani. Sehingga saya berusaha untuk mengajak teman lain di group “Plan SGKL” yang saya buat di applikasi Whatssaap.

Seharusnya SG2KL bulan ini merupakan  jadwal ideal untuk berlibur karena  jangka waktu libur anak sekolah yang cukup lama. Namun entah setelah beberapakali saya mencoba mengajak beberapa teman untuk ikut serta dalam perjalanan tidak satupun yang berminat untuk menambah kuota yang kosong. Banyak alasan mulai dari masih mudik, masih tugas, belum ada uang dan belum bikin passpor.

Total peserta hanya 6 orang dengan saya sebagai pemandu. Saya amat menyayangkan hal ini karena untuk sewa mobil sebagai media trasportasi disana minimal ada 10 kursi.  Dan biaya sewa mobil van bisa lebih murah bila dibagi lebih banyak peserta.  Biaya hotel juga sama halnya. Lebih murah kalau ditanggung lebih banyak orang. Setelah sekian lama menunggu teman yang ingin bergabung itu tak kunjung tiba, dan karena saya tidak suka hal yang mubazir, akhirnya saya memutuskan untuk membawa serta kedua anak saya setelah mendiskusikannya dengan suami saya.

Awalmya saya berniat untuk mengajak mereka di tahun berikutnya, namun karena hal tersebut akhirnya saya ajak mereka serta. Mereka amat senang campur heran seperti tidak percaya. Karena tiba-tiba saja saya segera memesan tiket pesawat PP CGK –KUL yang sedang promo. Tiket ekonomis yang cukup membantu dalam berhemat. Namun saya kembali memikirkan perjalanan ke Singaporenya, hal itu juga yang saya khawatirkan akan melelahkan kedua anak saya dan teman lain yang belum punya pengalaman keluar negeri bahkan mereka belum punya pengalaman naik pesawat terbang. Akhirnya saya putuskan untuk kembali memesan tiket pesawat dari Kuala Lumpur ke Singapore dan memesan tiket bus untuk kembali ke Kuala Lumpurnya.

Itinerary perjalanan saya rencanakan satu hari di Singapore dan dua hari di Kuala Lumpur. Tiket promo yang sudah saya pesan memang murah tapi itu membantu tersedianya biaya dalam pemesanan tiket pesawat ke Singapore, namun penerbangannya terakhir di malam hari. Saya sudah informasikan semua tentang persyaratan tiket promo ini mulai dari jadwal sampai dengan batas bawaan yang hanya seberat 7 Kg di kabin pesawat di pertemuan kami sebelum berangkat.

berkenaan dengan jadwal, ini sangat mepet sekali dengan waktu keberangkatan pesawat kita ke Singapore yang terbang diawal pagi. Sehingga tidak memungkinkan bagi kami semua untuk beristirahat ke hotel dahulu. Sehingga saya beritahukan semua bahwa kita akan istirahat dan mandi di KLIA sebelum naik pesawat menuju Singapore. Dan mereka semua setuju, begitu pula dengan kedua anak saya.

Saya kembali menghubungi pa Kanusi untuk meminta bantuannya kembali dan perihal menitipkan koper-koper kami. Karena kalau kita bawa serta, itu akan sangat tidak nyaman bagi kita semua untuk jalan-jalan sambil membawa koper walau koper-koper tersebut sudah ada rodanya. Untungnya pa Kanusi mau kami titip koper-koper tersebut  setelah memberikan rincian biayanya. Koper-koper tersebut  dia antar kehotel sebelum kami datang.

Semua tiket  pesawat sudah di pesan, begitu pula tiket bus dan voucher hotel sudah ditangan. Tiba waktu keberangkatan, kita semua bertemu di bandara Soetta terminal 3. Seperti biasa kita berkumpul dahulu untuk berkenalan dan foto-foto sebelum berangkat.

Pesawat yang kami tumpangi mengalami delay selama satu jam. Untungnya saya sudah hubungi pa Kanusi tentang hal ini. Sehingga ketika kami datang Pa Kanusi sudah siap. Saya kesulitan menghubunginya sewaktu ingin menanyakan posisinya, karena dia menginformasikan saya untuk menunggu di gate 4 dan saya tidak melihat gate 4 yang ada gate terakhir itu gate3. Stelah mengisu ulang kartu lokal yang saya punya, akhirnya kita dapat kejelasan posisi yang seharusnya kita tuju yaitu gate 3. Pa Kanusi spontan memanggil saya ketika dia melihat saya dan kami diajak ke mobilnya pribadinya yaitu sebuah toyota Alphard. Hal itu pula yang sempat membingungkan saya. Saya pikir dia seperti biasa membawa mobil van” Ababil”nya yang tidak saya lihat.

Setelah memasukkan semua koper yang akan kami titip, saya meminta pertolongannya untuk membawa kami ke level atas yang merupakan lantai keberangkatan atas pertimbangan kelelahan.  Pa Kanusi dengan baik hati bersedia menolong kami. Padahal tanpa sepengetahuan saya,  ada istrinya di dalam mobil menunggu. Pa kanusi juga memperkenalkan istrinya kepada kami semua. Kami tidak banyak meresponnya karena kecapean. Anak-anak juga, mereka mengalami jetlag.

Setelah sampai di lantai keberangkatan, kami istirahat sebentar sambil makan dan minum di seven eleven,  dan kami bergantian ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Ternyata keadaan malam itu sekitar jam 02.00 tidak seperti yang saya duga, keadaan KLIA amat ramai. Banyak dari mereka yang tidur di pinggiran lobby bandara dan itu juga yang menjadi pengalaman saya pertama melakukan hal yang sama dengan para calon penumpang lain, tidur di pinggiran lobby. Sementara teman-teman saya lain memilih surau untuk tidur-tiduran, saya memilih pinggiran gate untuk tidur bersama kedua anak saya. Ada sekitar satu jam saya menemani mereka tidur, dan saya kembali membangunkan mereka untuk segera menuju gate keberangkatan.

Setelah tiba di gate, anak-anak kembali saya suruh istirahat. Teman-teman saya cukup lama baru mereka sampai di gate sebelum pesawat berangkat. Saya duduk didepan sementara anak-anak dan teman-teman di belakang. Inginsekali bertukat tempat duduk tapi saya sengaja ingin melatih kemandirian dan keberanian anak-anak saya.

Mendarat di Changi, saya turun paling terakhir karena kedua anak saya sulit sekali bangun tidur. Apalagi anak saya yang bungsu. Sementara teman-teman guru dan  anaknya sengaja saya suruh untuk lebih dahulu keluar agar mereka leluasa ke toilet atau berfoto-foto.

Sekitar 15 menit  saya baru bertemu ibu Hani yang duduk di depan tiolet sementara yang lainnya  masih di dalam toilet. Saya kembali menunggu mereka semua keluar toilet sekitar 10 menit kemudian mereka mulai muncul keluar. Namun alangkah kagetnya ketika tiba-tiba bu Hani merasa kehilangan passpornya. Saya kembali menanyakan dan menyarankannya untuk memeriksa kembali tas, jaket, dan toilet. Hal ini pernah saya alami ketika membawa anak anak sekolah ke Amerika. Saya berusaha tenang dan  juga ikut memeriksa tas dan jaketnya dan memang passpornya tidak ada. Sampai kita berinisiatif untuk kembali ke pesawat namun di perjalanan kembali, seorang petugas melarang kami kembali karena pesawat kami sudah tidak ada. Kami pun membuktikannya karena dari jendela bandara, sudah tidak ada pesawat di gate kami keluar tadi. Muka saya pucat memikirkan hal ini dan terlebih bu Hani yang passpornya hilang.

Kami kembali menuju tempat semula dan bertemu teman dan anak-anak saya yang masih mengantuk. Kami semua segera menuju imigrasi. Saya meminta teman lain dan anak-anak saya untuk menunggu kami sementara saya dan bu Hani melaporkan hal kehilangan itu. Petugas yang kami datangi kembali meminta kami kembali mencarinya di tas dan jaket. Si petugas yang cantik itu juga meminta saya untuk memeriksa tas saya. Saya sempat menolak karena saya duduk berjauhan dengannya namun saya ikuti untuk memastikan itu.

Muka ibu Hani bertambah pucat ketika saya meminta keputusannya untuk ditinggal di Changi sendirian atau kami semua terpaksa  ikut menunggu perihal passpornya yang hilang itu tanpa kepastian dan kerugian  waktu dan uang yang pasti. Saya juga berusaha menenangkan nya tanpa menutupi kemungkinan passpornya benar-benar hilang. Bahwasanya dia tidak perlu khawatir karena ini masalah passpor yang hilang saja, bukan karena hal lain. Bahwa ada kemungkinannya ada  orang nanti dari embarkasi Indonesia untuk mengurusi hal itu sebagai layanan kepada warganya. Dengan sabar dia memutuskan untuk menunggu sendiri di changi dan mempersilahkan kami semua untuk keluar dari Changi airport untuk meneruskan perjalann kami sesuai dengan itinerary yang sudah kita setujui. Saya saran kan dia untuk segera menghubungi saya jika passpornya ketemu dan saya sarankan untuk segera menuju mesjid Sultan dengan taksi untuk bertemu kami disana.

Dengan tersitanya  waktu kami karena hal itu, saya menjelaskan ketidak mungkinan kita mengunjungi semua tempat yang ada di itinerary. Saya memutuskan untuk tidak mengunjungi Sentosa karena letakknya yang paling jauh. Kami makan pagi dahulu setelah keluar dari imigrasi di lobby terminal 4, memastikan makan dengan rapi dan tidak menyampah dan setelah selesai menuju tempat menunggu bus shuttle free untuk menuju terminal 2 karena stasiun MRT adanya di situ.

Di terminal 2 kami naik MRT menuju kota. Dan turun di stasiun Rafless Place untuk segera menuju Merlion park tempat di mana patung ikan berkepala singa yang menjadi ikon khas negara Singapore berada. Kami berfoto bersuka hati dan bersyukur keadaan dalam cuaca cerah. Walau sudah beberapa kali kesitu, tidak pernah merasa bosan melihat keramaian disana. Walaupun tak lupa selalu mengecek pesan di wa dan berharap agar passpor bu Hani segera di temukan. Dan benar adanya, bu Hani memberi tahukan kabar baik bahwa passpornya sudah ketemu namun belum ada di tangannya, passpor tersebut telah balik kembali ke Kuala Lumpur dan akan balik kembali ke Singapore di siang hari yang tak menentu waktunya.

Setelah puas di Merlion Park kami lanjut kembali naik MRT menuju Bugis. Kami makan siang masing masing disana dan langsug shopping dalam jangka waktu yang kita setujui untuk kembali bertemu di depan seven eleven di depan Bugis street. Saya dan kedua anak saya memilih makan siang menu makanan beku di seven eleven dan lanjut ikut bershopping ria dengan yang lain. Toko pertama yang kami kunjungi adalah toko “ABC” serba $1.

Setelah puas di Bugis street kembali saya terima pesan dari bu Hani yang memberitahukan bahwa dia sudah berada di mesjid Sultan. Saya minta dia untuk menunggu kami dilantai atas mesjid yang kebetulan adalah ruang sholat untuk wanita. Kami segera menuju ke masjid dengan menggunakan taksi. Biasanya saya ajak rombongan untuk berjalan kaki karena jarak ke mesjid dari Bugis itu dekat. Berhubung mereka sudah lelah saya bayarkan taksi untuk mereka.

Saya tidak kedalam mesjid karena sedang halangan namun ketidak hadiran teman-teman membuat saya terpaksa meminta mereka untuk turun dan segera menuju ke Golden Mile compleks tempat bus yang akan mengantar kami pada jam 16.00  kembali ke Kuala Lumpur berada. Jarak nya dekat dari mesjid namun untuk kesekian kalinya saya tidak tega membuat mereka berjalan kaki, apalagi bu Hani yang sudah terlihat tak bersemangat karena dia hanya dapat mengunjungi 1 tempat dari beberapa tempat yang ada di itinerary.  Saya mengerti kekecewaannya, namun waktu disana adalah sangat berharga. Bila kita tertinggal bus, itu berarti  hanguslah ongkos bus yang sudah dibayarkan. Karena taksi tidak bisa berehenti di halte bus,  kita naik bus umum menuju kesana. Saya totalkan kerugian saya sebesar $30 untuk naik 2 taksi dan sekali naik bus tapi itu tidak menjadi masalah dibanding kerugian waktu yang seharusnya bisa maksimal.

Setelah selesai melewati kedua imigrasi di perbatasan Singapore dan Malaysia kami kembali mengalami keterlambatan. Bus yang kita tumpangi mengambil penumpang lain dahulu di bus terminal Larkin Johor Bahru. Saya tertidur di perjalanan dan ketika terbangun saya langsung kenal bus terminal itu karena saya baru saja ke Johor di bulan Februari yang lalu. Saya perkirakan kita ketibaan kami di Kuala Lumpur akan sangat larut sehingga saya kembali menghubungi pa Kanusi untuk kembali menjemput kami di Berjaya Times square.

Dihari-hari selanjutnya di Kuala Lumpur berjalan dengan lancar karena keleluasaan waktu kita disana. Pengalaman dalam menghadapi berbagai situasi menambah kekuatan dan pemahaman saya dalam memecahkan masalah ketika travelling. Terima kasih kepada teman-teman atas kerjasama dan kesabaran dalam melakukan perjalanan ini.

Jalan-Jalan Bersama Nelly

This slideshow requires JavaScript.

Nelly adalah sebuah  kumpulan yang terdiri dari ibu-ibu cantik dan lincah yang dibentuk oleh salah seorang teman suami saya sewaktu SMP dulu. Sebagian dari mereka sudah menjadi nenek sehingga dari  situlah nama Nelly tercipta. Saya mengenal mereka melalui suami saya yang secara tidak sengaja menceritakan hobi saya jalan-jalan sambil bawa rombongan di salah satu acara reuni mereka.

Ketika suatu hari di awal bulan november 2017 suami saya memberitahukan keinginan para Nelly untuk jalan-jalan ke negara Singapore dan Malaysia dan meminta bantuan saya untuk menyusun rencana perjalanan dan juga pembiayaannya, saya dengan senang menerima permintaan itu, apalagi suami juga ikut karena selama ini saya selalu jalan sendiri. Dengan segera saya melihat kalender dan mencari tiga hari libur yang berderet.

Saya mencari info diawal desember 2017 dan saya temukan libur yang berderet itu di bulan Februari dan April 2018. Saya kemukakann ide tanggal di group WA yang saya buat dan dengan segala pertimbangan akhirnya mereka memilih tanggal 13-15 April untuk merealisasikan perjalanan mereka.  Dengan kompak merekapun langsung mentransfer sejumlah uang yang saya gunakan untuk memesan pesawat pulang pergi.

Itinerary perjalanan saya ajukan dengan rincian dua hari di Kuala Lumpur menginap 2 malam dan satu hari di Singapore tanpa menginap. Namun akhirnya itinerary berubah karena keinginan mereka untuk bisa menginap di Singapore semalam sehingga otomatis menginap di Kuala Lumpurnya juga hanya semalam. Dan karena biaya hidup di Singapore lebih besar 3x lipat, mereka mau  menambah biaya perjalanan untuk makan, akomodasi dan hotel di Singapore. Saya juga merubah dan menentukan perjalanan menuju Singapore dengan pesawat yang sebelumnya selalu saya lewat jalan darat yang menghabiskan waktu 5 jam karena mereka ingin tiba di sana sore hari untuk dapat menikmati kemegahan Merlion park dimalam harinya.

Awalnya semua berjalan dengan baik sampai tiba waktunya di awal tahun 2018 saya melihat kalender yang berbeda-beda versi liburannya. Sebagian tampak tanggal 13 April itu merah dan di sebagian kalender lain yang beredar, tanggal itu tidak merah alias tidak libur. Ini membuat kita semua yang akan jalan-jalan menjadi khawatir karena kita semua sebagian besar adalah pekerja. Dan ternyata tanggal 13 april itu tidak merah. Saya sendiri juga khawatir karena saya ada jadwal mengajar dihari jumat itu. Mendekati keberangkatan sebagian besar memutuskan untuk mengajukan cuti. Saya sendiri menunggu keputusan tanggal tersebut libur atau tidak sampai ke detik akhir dan akhirnya saya dapatkan pemecahan masalahnya. Yaitu saya meminta untuk menukar tugas mengawas saya ke hari lain dan di perkenankan oleh bagian kurikulum yang saya hadapi. Alhamdulillah masalah terpecahkan.

Tiba waktu berangkat kita semua berkumpul di bandara Soekarno Hatta. Dan kali itu pertama saya bertemu para Nelly setelah beberapa bulan sebelumnya kita hanya kontak di group WA saja. Mereka semua penuh gaya dan semangat dan juga dermawan. Saya menyenangi hal ini selalu disetiap perjalanan, yaitu bertemu orang baru dan mengenal mereka dengan singkat selama 3 hari perjalanan selalu dan berharap dapat melanjutkan hubungan di kemudian hari.

Pesawat kami berangkat menuju Kuala Lumpur dengan sedikit delay, ini sudah terprediksi sebelumnya karena pada waktu itu maskapai penerbangan kami sedang banyak di bicarakan orang kerena sering terjadi keterlambatan di jadwal penerbangannnya. Kami tiba satu jam lebih lambat dan keadaan imigrasi di KLIA2 sangat ramai waktu itu. Saya khawatir pa Kanusi yang selalu membatu perjalanan saya di Kuala Lumpur terlalu lama menunggu. Saya hitung dengan persiapan isi kartu sim lokal dan lain-lain, kami mengalami 2 jam delay. Setelah dapat menghubungi pa Kanusi, ternyata pa Rabei yang menjemput kami dan menghantar kami ke tujuan pertama kami yaitu ke mesjid Putra Jaya. Disana kami baru bertemu pa Kanusi yang akan  melanjutkan tugas pa Rabei menghantar kami keliling kota Kuala Lumpur. Sampai dimesjid  Putra Jaya kami langsung makan siang dulu di retoran melayu Warisan Putra yang halal tentunya. Setelah makan kami sholat Dzuhur dan sekalian Ashar. Dan melanjutkan perjalanan ke Batu Caves.

12Perjalanan cukup melelahkan dan sebagian besar dari mereka baru pertama kali naik pesawat ke luar negeri sehingga di van mereka semua tertidur. Sampai di Batu Caves mereka foto-foto dan kami menikmati air kelapa yang segar seharga 5 RM disana. Dan segera melanjutkan perjalanan ke Petronas dan Central market. Kami makan malan di restoran Chow Kit dan menuju hotel Aira di jalan Raja Laut.

Ada yang berbeda dengan perjalanan sebelumnya.  Selama ini saya membawa teman atau rombongan, saya belum pernah diberi tips dan saya pun tidak pernah mengharapkannya karena perjalanan yang saya ajukan adalah perjalanan hemat, namun perjalanan dengan Nelly ini saya menerima sejumlah uang tips yang lumayan besar dan mereka dengan inisiatif sendiri memberikannya kepada saya dan juga kepada pa Kanusi yang mengantar kami.  Sehingga pa Kanusi mendapat tips dua kali. Dari saya dan dari para Nelly. Sungguh kedermawan mereka terbukti.

Esok pagi  hari kami langsung check out dan kembali melanjutkan perjalanan keliling kota dengan pak Kanusi. Tujuan pertama adalah Dataran Merdeka , KL Gallery dan sultan abdul Samad building. Sungguh cantik keadaan di sana sewaktu pagi, masih sepi, bersih dan dingin. Kami puas-puaskan berfoto disana dengan dress code merah menyala. Kebetulan pa Kanusi pun memakai kaos kerah merah sama dengan suami saya, padahal saya tidak memberitahukannya sehingga kami semua sepertinya kompak sekali.

Setelah puas di dataran merdeka, kami lanjut ke KLIA untuk naik pesawat menuju Singapore. Alhamdulillah pesawat berangkat on time. Walau tampak lelah di pagi itu, Saya ajak Nelly untuk memcoba naik MRT ke Bugis dan sesampai di Bugis mereka langsung segar kembali. Terbukti dengan jelas bahwa shopping memang membuat semangat semua kelompok ibu-ibu.

Sementara mereka shopping,  saya dan suami yang sibuk mengurusi koper-koper mereka. Baru saja sehari semalam mereka di Kuala Lumpur, koper-koper mereka sudah beranak pinak. Saya salah menunggu taksi online. Tempat saya dan suami berada di depan Bugis juction  tempat taksi biasa dan taksi on line tidak boleh kesitu sehingga saya harus membatalkan pemesanan dan setelah beberapa waktu akhirnya saya memutuskan naik taksi biasa.

Awalnya ada kekhawatiran taksi biasa tidak akan mau mengangkut kami berdua dengan 10 koper dan beberapa tas lainnya. Tapi setelah mengantri bagian kami mendapatkan seorang supir taksi yang sangat ramah dan mau mengantar kami beserta koper-koper dan tas-tas bawaan yang lain. Sungguh sesuatu yang memalukan tampaknya kami berdua dengan segala itu ketika menunggu taksi di depan mall itu. Alhamdulillah terselamatkan oleh supir taksi yang baik hati itu dan juga ada suami yang setia membantu.

Setelah check in hotel, kami makan siang dulu di restoran Soul sebelah hotel. Ada simbol halal dipintu masuk restoran kecil itu. Nasi lemaknya enak sekali karena memang sudah jam 2 an waktu yang tepat dan makanan yang enak mengisi semangat saya dan suami kami bahkan memutuskan untuk memesan makan malam dan sarapan disitu.

kami kembali menemani para Nelly di Bugis Street. Berkenaan dengan kegiatan shopping, waktu dua setengah jam itu tidak cukup sehingga sambil menunggu Nelly berkumpul di tempat itu, saya dan suami ikut berbelanja oleh-oleh disana. Selesai  shopping kita kembali ke hotel dengan terpisah taksi. Supir taksi yang suami saya naiki tidak tahu letak hotel kami sehingga ia memutuskan untuk turun di mesjid Sultan dan berjalan kaki ke hotel yang jaraknya memang dekat. Ada untungnya begitu, para Nelly jadi tahu bahwa jarak hotel ke mesjid dekat sehingga mereka dapat kesana sendiri tanpa harus saya temani.

Malam hari setelah istirahat dan makan, kami pergi ke Merlion Park yang memang gemerlap di malam hari. Kami pergi dengan van yang kami sewa. Dan setelah puas disana, kami pulang. Saya dan suami kembali ke Mesjid Sultan untuk belanja oleh-oleh di toko depan mesjid setelah sholat Isha dan kembali ke hotel untuk istirahat.

Pagi harinya ternyata para Nelly sholat Shubuh di Mesjid Sultan berjamaah bahkan dan salah satu dari mereka setelah sholat  kembali ke Merlion Park supaya dapat menikmati foto-foto disana di pagi hari. Sungguh Nelly yang satu ini berani dan kreatif. Saya dan suami juga jalan-jalan dan foto-foto di sekitar mesjid juga. Kami menikmati kebersamaan kami setiap saat disana.

Setelah sarapan, kami semua check out hotel dan menitipkan koper-koper kami dan melanjutkan jalan-jalan dengan menggunakan van yang saya sewa di Hobijalanasia, kami menuju ke Merlion Park lagi untuk foto-foto dan lanjut ke Sentosa untuk foto-foto depan Universal Sudio Singapore dan mencoba naik Monorail ke patung singa disana yang lebi besar ukurannya dari yang ada di Merlion Park.  Disana kami jalan-jalan dan shopping.

13Dari Sentosa, kami menuju mesjid Sultan lagi untuk makan siang di restoran Minang yang letaknya di belakang Mesjid. Pa Nizzam yang kebetulan seorang muslim dari Fillipina juga ikut makan dan sholat disana. Dan setelah itu kita kembali ke hotel untuk mengambil koper-koper kami.

Kami mampir dulu ke Mesjid Hj. Fatimah yang letakknya juga tidak jauh dari hotel. Ini pertama kalinya saya  kesana dan mengajak teman-teman kesana karena saya perkirakan waktu kita masih leluasa sebelum ke bandara Changi. Sebelumnya jauh hari saya sudah tahu ada mesjid unik  yang namanya dari seorang nama perempuan ini namun tidak pernah sempat mengunjunginya. Kunjungan saya kesana menambah pengetahuan saya tentang masjid yang ada di Singapore.

Dengan sedikit masalah di van pa Nizzam, akhirnya kita tiba juga di bandara Changi. Sebagian Nelly kembali berburu belanjaan disana walau sebagian tidak ikut karena sudah lelah dan rindu keluarga sehingga ingin cepat pulang ke rumah masing-masing. Begitu juga dengan saya dan suami. Kami habiskan waktu berkomunikasi dengan menggunakan fasilitas Wifi gratis yang tersedia di bandara canggih itu. Alhamdulillah perjalanan kami selamat walau kami mengalami delay kembali untuk beberapa menit. Perjalanan dengan Nelly memberi banyak kesan indah dan menambah pengalaman saya dalam travelling.

Cerita Uang Receh 2 Shilling

Pagi hari di hostel saya terbangun, walau tidak saya dengar suara azan shubuh, saya segera bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan ambil wudhu. Kamar mandi sistem berbagi ini yang membuat saya semangat untuk beraktifitas lebih awal dari yang lain. Selesai mandi saya baru melihat jam dari telepon genggam yang ternyata masih lama ke waktu shubuh. Saya tunaikan shalat tahajjud dan lalu buka-buka telepon genggam memanfaatkan fasilitas wifi hostel yang lumayan kenceng. Saya balas-balas pesan yang kemarin tidak sempat saya respon. Tak lama beberapa teman juga terbangun dan sama memulai kegiatan pagi itu. Saya keasyikan WA-an setelah dapat respon dari suami di rumah. Dan akhirnya saya sadar teman-teman bahkan sudah sholat shubuh semua, dan saya malah sholat yang terakhir jadinya karena WA-an. Ya Allah Maha Pengampun, ampuni dosaku ini, dalam hati saya berkata.

Waktu makan pagi, saya memang agak curiga ketika memesan makanan take away untuk sarapan di restoran dekat hostel, kakak yang melayani pesanan, ia asal Batam, saudara saya,  meminta saya untuk membawa saja serta teman-teman untuk sarapan di restorannya dengan dalih belum ada pekerja yang mengerjakan take away dan murah sarapan hanya 2RM saja. Setahu saya paling murah sarapan di malaysia itu berupa nasi lemak paling tidak 3-4RM, 6RM sudah dengan teh Tarik hangat.

Ternyata memang 2RM tapi untuk satu macam hidangan saja. Jadi apa yang mereka siapkan prasmanan, setiap temanku mengambil tidak hanya satu macam saja lauk bahkan ada yang ambil nasi dan mie atau bihun pula, Karbo plus karbo gitu. Bagaimana tidak teman-teman pasti tergoda untuk mencoba berbagai lauk yang dihidangkan. Sebagian teman sudah saya minta untuk mengambil dua macam hidangan dengan minum namun ketika mereka mengambil hidangan si Kakak itu bilang boleh-boleh semua diambil sama makanya mereka ambil berbagai macam hidangan. Semua hidangan terlihat enak dan menggugah selera makan dan saya pun merasa begitu. Beruntungnya, kenyataan sebanding dengan apa yang di rasakan. Setiap hidangannya memang enak. Restonya dapat direkomendasikan. Restoran Engku sebelah hostel Warm Blanket.

Tiba giliran saya membayar semua yang sudah kami makan, si kakak asal dari Batam itu nyengir. Saya bilang dia sudah menjebak saya sehingga saya harus mengeluarkan ringgit saya lebih dari yang saya siapkan untuk makan pagi itu. Namun saya tidak keberatan membayarnya, kami sudah sangat puas dengan semua yang kami makan, pelayanannya cepat dan juga ramah. Saya pun sudah berjaga-jaga kalau ini terjadi. Dari pengalaman membawa rombongan teman sebelumnya, jadi selain  saya jatahkan minimal tapi saya juga siapkan jatah maksimal untuk makan teman-teman. Saya minta diskon untuk semua biaya makan kami. Dia hitungkan biaya makan kami kalau take away, dia perlihatkan hasilnya kepada saya dan saya bilang “curang”. Diapun memberikan diskon makan kami sambil tertawa.

Dia bilang saya pelit ketika saya menukarkan beberapa uang shilling 20 cent agar saya dapatkan 2 shilling uang 10 cent Malaysia untuk saya gunakan di mesin air otomatis depan hostel kami. “Kakak ni pelit kali! ” ujarnya. Saya tidak sedikitpun tersinggung dengan ucapannya, saya memang berusaha memanfaatkan uang shilling yang saya miliki untuk saya berikan ke teman-teman saya yang butuh air minum. “ini untuk teman-teman saya dan perjalanan kami masih jauh. “ saya jawab. Dia tersenyum dan malah meminta botol-botol air yang saya bawa dalam kantong plastik. Dia pergi kebelakang dan kembali membawa botol-botol itu penuh dengan air minum. Saya terima botol-botol itu  dan saya berikan uang receh shilling itu kepadanya, namun ia menolaknya. Saya  memaksa dia untuk menerima uang receh saya, tapi dia menolaknya lagi. Lalu saya bilang “ kalau shilling tidak mau ya?”. Dia menjawab “sudah lah kak, ambil saja”.  sambil tersenyum geli.

Saya dapatkan shilling-shilling itu ketika belanja makanan ringan atau air mineral di Larkin sambil menunggu teman –teman yang belum datang. Setiap belanja saya dapati kembalian shilling ini selalu tepat tidak kurang dan tidak lebih. Di kota saya tinggal uang-uang receh itu seperti tidak ada harganya, di buang dan dilupakan. Hanya pa ogah saja yang mau menerima uang receh itupun minimal gopek. Sama halnya kakak dari Batam itu berpikir. Tapi di sini 1 shilling bisa berarti sebotol minum air mineral refill dan 1 shilling itu dipakai teman saya mengisi air sepulang dari Sutera Mall. 1 shilling lainnya menjadi sebentuk bantuan sesama ketika seseorang belanja dan kurang 1 shilling untuk barang yang ia beli. Dia seorang laki-laki Cina yang belanja di mini market disamping Central market. Dia berterima kasih kepada saya hanya karena 1 shilling. Si kasir seorang melayu pun juga berterima kasih kepada saya karena saya sudah memberikan shilling itu kepadanya.koin malaysia

Perjalanan ke Johor Bahru

Februari lalu saya kembali membawa beberapa teman guru  yang ingin jalan-jalan ke Malaysia. Yang tujuan utama mereka adalah  ingin mengajak anak-anak mereka ke Legoland, maka saya atur perjalanan yang mulai dari Singapore lalu ke Johor Baru dan lanjut ke Kuala Lumpur.

Ditengah proses pembentukan group perjalanan, awalnya hanya ada 6 orang yang bergabung, lalu ada 3 orang lagi dari depok yang ingin bergabung dengan catatan mereka ingin melaksanakan tugas literasi yang diberikan oleh kepala sekolah mereka dengan cara mengunjungi  beberapa perpustakaan yana ada disana.

Karena tujuan pertamanya adalah mengunjungi legoland untuk anak-anak dari dua orang bunda di group, maka saya rancang perjalanan dari Jakarta ke Singapore, lalu ke Johor Bahru,  lanjut ke Kuala Lumpur dan pulang ke Jakarta.

Legoland berada di Johor Bahru yang berbatasan dengan Singapore. Saya sudah pernah menjalani rute dari Singapore ke Malaysia sebelumnya, namun saya tidak pernah singgah ke legoland Johor Bahru. Adapun saya pernah singgah beberapa kali di rest area di daerah bernama Gelang Patah yang merupakan daerah di Johor Bahru hanya untuk istirahat sebelum masuk ke imigrasi check point Malaysia dan lalu Singapore.

Dengan senang hati aku menerima permintaan mereka ke Johor Bahru, karena aku selalu senang dapat menambah wawasan dan pengalaman dalam melakukan setiap perjalanan. Dengan biaya yang terbatas dan terjangkau, saya atur mulai dari transportasi udara,  darat, penginapan dan makan dan lain-lain. Untuk tiket pesawat, pemesanan tiket pulang pergi dilakukan terpisah berselang hari. Pertama 6 penumpang termasuk saya, satu penumpang menyusul di keesokannya dan 3 penumpang lain di seminggu setelahnya. Harganya memang tidak sama namun masih terjangkau menurut hitungan saya.

Pada hari keberangkatan kami semua sepakat tepat waktu bertemu pagi di depan bandara Soekarno Hatta di terminal 2E. Saya janjian dengan peserta perjalanan yang dari Bogor untuk berangkat bersama menggunakan bus damri, sedangkan peserta dari Depok mereka memakai jasa taksi online bersama-sama untuk menuju bandara.

Setiba di bandara, kami semua saling berkenalan karena selama ini komunikasi berjalan melalui group di whatsApp yang saya buat saja. Setelah berkenalan kami semua melakukan check in untuk mendapatkan Boarding pass kami masing-masing. Ada sedikit kesalahan dalam pengetikan nama namun hal itu mudah tertanggulangi karena kebijakan maskapai yang mempermudah penumpang dalam hal pemesanan. Cukup memperlihatkan passpor asli sudah cukup. Alhamdulillah dan setelah mendapatkan boarding pass, kami semua melakukan prosedur imigrasi dan segera menuju lobby tunggu pesawat.

Beruntung pesawat kami sesuai jadwal sehingga kami tidak menunggu lama dan segera tiba di Changi bandara Singapore yang terkenal bagusdan lengkap fasilitasnya . Segera setelah mendarat di Changi terminal 1, kami ambil sky train menuju terminal 2 karena letak stasiun MRT ada di sana  dan segera aku mengingat kembali pengalaman mencari stasiun MRT yang berada di bawah bandara di kunjungan pertamaku ke Singapore beberapa tahun yang lalu.

Dengan bantuan tanda-tanda dan tanya-tanya, akhirnya kami berhasil menemukan stasiun MRT dan segera membeli tiket melalui mesin tiket yang berada tidak jauh dari loket manual. Saya agak lama mengingat kembali bagaimana menggunakan mesin tiket itu, namun ada seorang ibu tua yang bertugas membantu setiap orang yang ingin membeli tiket di mesin.  Aku beli 9 lembar tiket ke stasiun Rafles Place untuk teman-teman,  dan saya sendiri, saya pakai kartu MRT saya yang lama yang masih tersisa SG$ 16 ketika aku periksa di mesin tiket. Kami segera masuk ke MRT dan menikmati perjalanan setelah mendapatkan tiket.

Saya sempat lupa untuk segera pindah flatform ketika MRT kami mencapai stasiun Tanah Merah untuk pindah MRT yang menuju Tuas Link karena di Tanah Merah ada dua line hijau yang berbeda, ada satu berakhir di Tuas Link dan satu lagi berakhir di Pasir Ris. MRT yang kami naiki kembali ke Changi maka kami terpaksa turun di stasiun Expo yaitu stasiun yang letaknya diantara Changi dan  Tanah Merah dan lanjut balik naik MRT lagi ke arah Tanah Merah dan pindah MRT di flatform yang menuju Tuas Link diakhir stasiun jalur hijau itu. Dan akhirnya kami dapat mencapai stasiun Rafles Place setelah melewati beberapa stasiun MRT.

Keluar dari stasiun Rafles Place, saya langsung arahkan teman-teman menuju Merlion Park melewati jembatan penghubung yang ada di sebuah mall menuju hotel Fullerton di seberang Jalan. Setelah sampai di seberang, pemandangan ikonik kota Singapore berupa gedung bernama Marina Sand Bay, Museum Art,  Esplanade dan Merlion park membuat takjub teman-teman yang sebagian besar belum pernah melihatnya. Bagi mereka yang sudah pernah ke Singapore, termasuk saya tetap saja terpesona dengan pemandangan sekitar siang itu.  Dengan segera kami semua mengabadikan pemandangan dengan mengambil foto selfie dan juga wefie bersama dalam berbagai gaya, walaupun awan hitam ikut menghiasi langit Singapore siang itu.

Selesai berfoto dan menikmati pemandangan dan suasana merlion Park siang itu,  saya segera mengajak teman-teman untuk melanjutkan perjalanan ke Bugis. Sehingga kami semua kembali ke stasiun Rafles Place dan menambah tiket kami untuk lanjut naik MRT ke daerah Bugis.

Sampai di stasiun Bugis, awan hitam tak terbendung lagi untuk hujan sehingga yang awalnya saya akan mengajak mereka ke Mesjid Sultan dahulu saya urungkan. Saya sarankan mereka untuk menikmati belanja di Bugis Street dengan harapan hujan reda setelah beberapa waktu. Niat saya untuk mengantarkan beberapa dari teman yang ingin mengunjungi perpustakaan terdekatpun terganggu karena hujan cukup deras. Sehingga saya hanya sanggup menunjukkan gedung putih tinggi beratap kerangka baja putih  yang merupakan perpustakaan Nasional Singapore dari Bugis Street dan merekapun bisa mengerti.

Hujan cukup menyita waktu kami di Bugis Street. Segera setelah hujan mereda, kami lanjutkan perjalanan ke Mesjid Sultan yang tidak jauh letaknya dari  Bugis Street. Permasalahan muncul karena bawaan mereka mulai memberat oleh belanjaan mereka di Bugis tadi. Sebagian anak mengeluh kecapean dan bunda-bunda berusaha menghibur mereka dengan bujuk rayu ala bunda pintar.

Sesampai di Mesjid Sulthan kami melaksanakan Sholat dan setelah itu kembali berbelanja di toko-toko souvenir di sekitar mesjid. Saya sendiri menikmati hidangan ala Padang yang ada diujung belakang mesjid sendirian karena mereka sudah makan siang semua di Bugis. Selesai puas menikmati mesjid, tak lupa foto-foto, kami semua menuju stasiun bus menuju Johor yang berada tidak jauh dari Mesjid Sulthan yaitu stasiun bus Queen street.

Ditemani rintik hujan yang melemah, semangat langkah kaki kami semua menguat menuju stasiun bus Queen street. Namun sayang, pemandangan antrian penumpang bus begitu mengular membuat kami semua agak kecewa. Terpikir jarak dan waktu yang tidak mungkin terjangkau karena antrian itu, saya mengajak teman-teman untuk naik taksi ke Johor. Walau biaya transportasinya jauh lebih mahal, namun atas pertimbangan beberapa hal mulai dari kenyamanan imigrasi yang bisa dilakukan di mobil dan efektifitas waktu berhubung saya  sudah sewa mobil yang akan menjemput kami di stasiun bus Larkin jam 09.00 malam. Kebijakan sewa jemput dan antar harus tepat waktu. Bila lewat waktu maka saya akan kena wajib bayar kelebihan waktu tersebut. Saya beruntung teman-teman memutuskan yang terbaik untuk kita semua dengan menyetujui ide saya untuk ganti naik taksi menuju Johor Bahru walaupun mereka harus menambah biaya transportasi lagi.

Kebijakan taksi di Singapore yang hanya boleh mengangkut maksimal 4 penumpang membuat kami harus terpisah kendaraan menuju Johor Bahru. Aku harus sewa 3 taksi dan menyakinkan beberapa teman-teman yang terpisah untuk tenang dan juga beberapa kali menyakinkan para sopir taksi  yang akan membawa kami agar menurunkan kami ditempat yang sama di stasiun  bus Larkin di Johor Bahru. Setelah sepakat baru kami naik taksi semua.

Sepanjang jalan menuju perbatasan ternyata lalu lintas luar biasa sangat macet karena diakhir pekan banyak warga Malaysia yang pulang kerja pulang dan banyak pula warga Singapore yang ingin berlibur ke Malaysia. Dan kami warga Indonesia ikut memacetkan lalu lintas karena ingin ke Johor Bahru. Kami juga melihat banyak orang berjalan kaki di pinggiran jalan. Mereka berjalan dari imigrasi Singapore ke imigrasi Malaysia yang berjarak 3 kilo meter jauhnya karena mereka mungkin ketinggalan bus yang mereka tumpangi sebelumnya.

Hal itu sebetulnya sudah disampaikan oleh Mr. Jason. Ia adalah orang yang saya hubungi melalui WhatsApp, Ia dari pihak jasa sewa mobil khusus jalur Singapore- Johor Bahru (SGJB) yang akan menjemput kami dari stasiun bus Larkin ke Hotel Warm Blanket dan sebaliknya dihari berikutnya. Ia sudah informasikan keadaan macet dan sibuknya antrean di setiap imigrasi. Ia menyarankan saya untuk langsung ambil jasa layanan sewa mobilnya langsung dari Singapore ke hotel namun karena biayanya yang cukup mahal makanya saya hanya ambil sebagian layanannya. Lagi pula tetap lebih mahal biayanya dibandingkan memakai jasa taksi.

Perjalanan melewati perbatasan Singapore dan Malaysia menghabis waktu selama 3 jam yang biasanya hanya sekitar 1,5 jam atau 2,5 jam dengan bus umum dari informasi supir taksi dan juga dari yang saya baca di beberapa blog orang-orang yang berbagi pengalaman mereka mengunjungi Johor Bahru dari Singapore.

Setibanya di stasiun bus Larkin, saya lihat 3 dari teman saya sudah menunggu kami. Kami turun dari taksi dan tak lupa ucapkan terima kasih. Kami menunggu 4 orang teman kami yang belum muncul. Kami menunggu cukup lama, saya dan teman-teman lain cukup khawatir. Sambil menunggu saya sempatkan mengganti nomor hp dengan nomor Malaysia yang sudah saya bawa. Saya top up dan paketkan data agar saya dapat menghubungi supir yang akan menjemput dan mengantar kami ke hotel.  Saya minta mereka untuk menunggu kami 10 menit agak telat dari perjanjian. Dan setelah beberapa waktu akhirnya ke 4 teman kami muncul dari taksi yang mereka tumpangi. Kami semua bertanya atas keterlambatan mereka. Ternyata si supir taksi yang mengantar mereka melaksanakan sholat dulu di rest area sebelum perbatasan Singapore. Kami semua tertawa lega mengetahui pemasalahan keterlambatan mereka. Saya rasa itu adalah suatu keterlambatan yang penuh berkah bagi ke-4 teman kami dan juga kami yang ikut menunggunya.

Segera kami menuju mobil yang sudah menunggu kami di luar terminal, mereka menunggu di depan KFC dan kebetulan kami belum makan, saya tawarkan teman-teman untuk menikmati ayam goreng nanti di hotel dan mereka setuju. Apalagi anak-anak, mereka dengan senang menyetujuinya.

Kami tiba di hotel Warm blanket sekitar jam  10 malam, kamar-kamar keluarga yang kami pesan cukup menyenangkan. Walau tempat tidurnya bertingkat, tapi tidak sulit bagi kami untuk naik ke kasur atas karena tangganya besar-besar dan lebar. Anak-anak malah menikmati tangga-tangga tersebut untuk duduk-duduk santai bahkan makan dan beraktifitas lain disitu.

Saya tidak langsung tidur. Setelah shalat saya sempatkan keluar untuk mengisi ulang botol air minum kami di mesin air isi ulang yang letaknya di luar depan hotel. Beberapa teman ikut serta dan menikmati keadaan sekitar hotel yang tenang malam itu. Ada gerai Seven Eleven dan sebuah restauran yang cukup ramai. Saya yang belum sempat makan segera memesan makanan disitu. Makanannya enak dan dari menujuga daftar harga yang saya lihat cukup bervariasi dan terjangkau harganya. Maka saya putuskan untuk mengajak teman-teman untuk sarapan di restoran Engku esok paginya.

Setelah makan malam, sambil packing bersama,  saya ngobrol dengan teman-teman sekamar yaitu guru-guru dari sebuat SDIT di Depok. Saya senang mendengar kesan mereka semua pada hari itu. Mereka semua kecapean namun mereka semua merasa senang dan terkesan dalam melewati setiap waktu disana tadi. Kami cukup lama baru bisa tidur karena suasana di luar agak ramai dengan gelegar kembang api. Kami bahkan dapat melihat kilatan kembang api dari jendela di hotel.

 

 

 

 

TEACHER GUIDE

ig

Julukan diatas diberikan kepadaku di salah satu akun IG teman guru yang ikut  gabung dalam perjalanan hemat backpacker ke Malaysia dan Singapore ketika libur selama 4 hari di bulan Desember 2017 yang lalu. Aku merasa tersanjung atas julukan itu. Setelah beberapa kali menjadi pemandu perjalanan baru kali ini ada peserta yang memberi aku julukan itu.

Sebetulnya ini perjalanan backpack grup yang ke-3 yang aku buat. Sebelumnya aku juga sudah 2 kali memandu perjalanan keluar negeri untuk teman-teman guru dan 3 kali untuk  kalangan anak murid SMP disekolahku. Jadi total jumlah menjadi pemandu perjalanan keluar negeri sebanyak 6 kali dan aku masih berniat menambah perjalanku selagi aku mampu dan tentunya atas izin suami dan anak-anakku.

Dulu sebelum aku berani memandu perjalanan, aku dipandu oleh orang yang menangani perjalanku ke Australia setelah lulus tes seleksi  West Java Teacher’s Training di Adelaide, Australia selatan. Perjalananku yang pertama kali ke luar negeri dan pertama kalinya ku punya pengalaman membaca tanda di bandara dan naik pesawat terbang menjadi bekal ilmu ku memandu perjalanan selanjutnya.

Sebelum keberangkatan keluar negeri aku persiapkan diri secara fisik dan  juga material. Aku banyak membaca pengalaman orang lain di beberapa blog di internet dan aku juga banyak mencari informasi sekitar tanda-tanda di bandara, peraturan yang berlaku yang terdapat dalam daftar FAQ (Frequenly Asked Question) yaitu daftar pertanyaan yangumumnya sering ditanyakan banyak orang, aku pelajari makna signs and notices, aku pelajari peta-peta kota yang aku tuju dari peta yang aku unduh di internet goggle maps dan aku pelajari semua itu secara serius.

Setelah aku merasa paham dengan prosedur perjalanan ke luar negeri, aku beranikan diri merencanakan perjalanan mandiri yang  merupakan keinginan  temanku yang ingin punya pengalaman ke luar negeri pada awalnya. Perjalanan diikuti oleh seorang teman dekat dan suamiku. Awalnya dua teman dekatku yang akan ikut tapi salah satu temanku akhirnya mengurungkan niatnya bergabung jadi  aku ajak suamiku serta. Setelah bujuk rayu, akhirnya kami bertiga pergi.

Setelah sebelumnya meminta izin satu hari cuti kepada kepala sekolahku  agar perjalanan kami kedua negara bisa selesai dalam waktu tiga hari. Dan perjalanan pertama kami itu sukses kami laksanakan dengan biaya yang lumayan hemat. Suamiku bahkan amat menikmatinya, padahal  pada awalnya dia tidak tertarik. Perjalanan ke dua negara Singapore dan Malaysia sukses meninggalkan kenangan manis bagi kami semua.

Dari mulut kemulut temanku menceritakan pengalamannya, lalu muncullah beberapa niat dari teman lain yang juga mengajak kerabat mereka untuk ikut serta dan dari situlah aku mulai memandu perjalanan yang selanjutnya ke negara-negara tetangga berdasarkan pertimbangan biaya yang hemat dan permintaan mereka . Aku bahkan beribadah umroh dengan cara backpackeran juga. Prinsip hematku selalu aku terapkan dalam setiap perjalananku.

Selain membaca-baca berbagai sumber bacaan dan juga melalui internet, disetiap perjalanan hemat keluar negeri ku menambah ilmu dan pengetahuan tentang situasi keadaan kedua negara tetangga itu, otomatis menambah percaya diriku dalam melaksanakan tugas memandu setiap perjalanan. Aku juga menjalin hubungan baik dengan beberapa pemilik travel, pemilik bus, driver, tour guide dan manager beberapa hotel di negara tetangga itu.

Dari menjadi pemandu disetiap grup, grup yang terdiri dari teman-teman guru adalah yang paling menyenangkan karena sudah sama-sama dewasa walaupun tidak mudah untuk menyenangkan semua peserta di grup namun mereka lebih mudah diatur dan cepat mengerti. Di pihak lain, untuk perjalanan anak sekolah lebih beresiko dan melelahkan. Aku bahkan beberapa kali mengalami hilang degup jantung gara-gara masalah yang  mereka hadapi di perjalanan. Maka dari itu aku selalu meminta pertolongan salah seorang teman yang membuka jasa travel setelah perjalanan pertamaku dengan anak-anak muridku ke St. Louis Amerika.

Dalam jadwal atau  itinerary yang aku susun selalu aku rancang semi backpacker dengan pertimbangan untuk kaya pengalaman namun tidak melelahkan karena berdasarkan pengalaman dan pengamatanku, rata-rata orang kita tidak terbiasa berjalan kaki. Selanjutnya aku biasa sewakan van, atau bus kalau pesertanya banyak. Perjalanan aku rancang 3-4 hari penuh di tanggal merah Jumat atau Senin agar tidak mengganggu hari-hari kerjaku sebagai guru.

Banyak pengalaman yang aku dapat disetiap kegiatan memandu. Pernah aku di direpotkan dengan hilangnya passpor salah seorang peserta, adapun peserta yang menyamakan keadaan di negara tersebut dengan negara sendiri yang beresiko di denda, peserta yang makan dan minum ketika berada  dalam transportasi umum berkamera disana, kebiasaan peserta yang membuat bising para penghuni hotel lain, peserta usil yang memicu amarah warga negara tetangga, peserta yang kalap belanja sehingga berpengaruh kepada jatah bawaannnya di pesawat, peserta yang jatuh sakit dan harus pulang lebih awal dari jadwal, peserta yang tidak disiplin dalam waktu dan lain-lainnya.

Namun semua pengalaman itu aku ambil sisi positifnya, aku jadi bertambah kaya pengalaman menghadapi berbagai situasi dan mengambil solusi. Tapi dari semua itu, aku senang melihat para peserta perjalanan yang bahagia dapat mewujudkan mimpi mereka,  memberikan pengalaman baru kepada mereka yang tidak punya pengalaman berwisata keluar negeri dan aku senang mereka merasa bangga bahwa mereka mampu  keluar negeri seperti halnya orang-orang tertentu yang leluasa secara keuangan. Karena otomatis dengan itu aku menjadi tambah kaya dan berpengalaman menjadi seorang guru pemandu perjalanan.

 

Sponsorin Bukuku Dong

Sudah ada yang sponsorin cetak buku saya, barangkali ada yang mau sponsorin lagi?