RSS Feed

Cerita Uang Receh 2 Shilling

Pagi hari di hostel saya terbangun, walau tidak saya dengar suara azan shubuh, saya segera bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan ambil wudhu. Kamar mandi sistem berbagi ini yang membuat saya semangat untuk beraktifitas lebih awal dari yang lain. Selesai mandi saya baru melihat jam dari telepon genggam yang ternyata masih lama ke waktu shubuh. Saya tunaikan shalat tahajjud dan lalu buka-buka telepon genggam memanfaatkan fasilitas wifi hostel yang lumayan kenceng. Saya balas-balas pesan yang kemarin tidak sempat saya respon. Tak lama beberapa teman juga terbangun dan sama memulai kegiatan pagi itu. Saya keasyikan WA-an setelah dapat respon dari suami di rumah. Dan akhirnya saya sadar teman-teman bahkan sudah sholat shubuh semua, dan saya malah sholat yang terakhir jadinya karena WA-an. Ya Allah Maha Pengampun, ampuni dosaku ini, dalam hati saya berkata.

Waktu makan pagi, saya memang agak curiga ketika memesan makanan take away untuk sarapan di restoran dekat hostel, kakak yang melayani pesanan, ia asal Batam, saudara saya,  meminta saya untuk membawa saja serta teman-teman untuk sarapan di restorannya dengan dalih belum ada pekerja yang mengerjakan take away dan murah sarapan hanya 2RM saja. Setahu saya paling murah sarapan di malaysia itu berupa nasi lemak paling tidak 3-4RM, 6RM sudah dengan teh Tarik hangat.

Ternyata memang 2RM tapi untuk satu macam hidangan saja. Jadi apa yang mereka siapkan prasmanan, setiap temanku mengambil tidak hanya satu macam saja lauk bahkan ada yang ambil nasi dan mie atau bihun pula, Karbo plus karbo gitu. Bagaimana tidak teman-teman pasti tergoda untuk mencoba berbagai lauk yang dihidangkan. Sebagian teman sudah saya minta untuk mengambil dua macam hidangan dengan minum namun ketika mereka mengambil hidangan si Kakak itu bilang boleh-boleh semua diambil sama makanya mereka ambil berbagai macam hidangan. Semua hidangan terlihat enak dan menggugah selera makan dan saya pun merasa begitu. Beruntungnya, kenyataan sebanding dengan apa yang di rasakan. Setiap hidangannya memang enak. Restonya dapat direkomendasikan. Restoran Engku sebelah hostel Warm Blanket.

Tiba giliran saya membayar semua yang sudah kami makan, si kakak asal dari Batam itu nyengir. Saya bilang dia sudah menjebak saya sehingga saya harus mengeluarkan ringgit saya lebih dari yang saya siapkan untuk makan pagi itu. Namun saya tidak keberatan membayarnya, kami sudah sangat puas dengan semua yang kami makan, pelayanannya cepat dan juga ramah. Saya pun sudah berjaga-jaga kalau ini terjadi. Dari pengalaman membawa rombongan teman sebelumnya, jadi selain  saya jatahkan minimal tapi saya juga siapkan jatah maksimal untuk makan teman-teman. Saya minta diskon untuk semua biaya makan kami. Dia hitungkan biaya makan kami kalau take away, dia perlihatkan hasilnya kepada saya dan saya bilang “curang”. Diapun memberikan diskon makan kami sambil tertawa.

Dia bilang saya pelit ketika saya menukarkan beberapa uang shilling 20 cent agar saya dapatkan 2 shilling uang 10 cent Malaysia untuk saya gunakan di mesin air otomatis depan hostel kami. “Kakak ni pelit kali! ” ujarnya. Saya tidak sedikitpun tersinggung dengan ucapannya, saya memang berusaha memanfaatkan uang shilling yang saya miliki untuk saya berikan ke teman-teman saya yang butuh air minum. “ini untuk teman-teman saya dan perjalanan kami masih jauh. “ saya jawab. Dia tersenyum dan malah meminta botol-botol air yang saya bawa dalam kantong plastik. Dia pergi kebelakang dan kembali membawa botol-botol itu penuh dengan air minum. Saya terima botol-botol itu  dan saya berikan uang receh shilling itu kepadanya, namun ia menolaknya. Saya  memaksa dia untuk menerima uang receh saya, tapi dia menolaknya lagi. Lalu saya bilang “ kalau shilling tidak mau ya?”. Dia menjawab “sudah lah kak, ambil saja”.  sambil tersenyum geli.

Saya dapatkan shilling-shilling itu ketika belanja makanan ringan atau air mineral di Larkin sambil menunggu teman –teman yang belum datang. Setiap belanja saya dapati kembalian shilling ini selalu tepat tidak kurang dan tidak lebih. Di kota saya tinggal uang-uang receh itu seperti tidak ada harganya, di buang dan dilupakan. Hanya pa ogah saja yang mau menerima uang receh itupun minimal gopek. Sama halnya kakak dari Batam itu berpikir. Tapi di sini 1 shilling bisa berarti sebotol minum air mineral refill dan 1 shilling itu dipakai teman saya mengisi air sepulang dari Sutera Mall. 1 shilling lainnya menjadi sebentuk bantuan sesama ketika seseorang belanja dan kurang 1 shilling untuk barang yang ia beli. Dia seorang laki-laki Cina yang belanja di mini market disamping Central market. Dia berterima kasih kepada saya hanya karena 1 shilling. Si kasir seorang melayu pun juga berterima kasih kepada saya karena saya sudah memberikan shilling itu kepadanya.koin malaysia

Advertisements

Perjalanan ke Johor Bahru

Februari lalu saya kembali membawa beberapa teman guru  yang ingin jalan-jalan ke Malaysia. Yang tujuan utama mereka adalah  ingin mengajak anak-anak mereka ke Legoland, maka saya atur perjalanan yang mulai dari Singapore lalu ke Johor Baru dan lanjut ke Kuala Lumpur.

Ditengah proses pembentukan group perjalanan, awalnya hanya ada 6 orang yang bergabung, lalu ada 3 orang lagi dari depok yang ingin bergabung dengan catatan mereka ingin melaksanakan tugas literasi yang diberikan oleh kepala sekolah mereka dengan cara mengunjungi  beberapa perpustakaan yana ada disana.

Karena tujuan pertamanya adalah mengunjungi legoland untuk anak-anak dari dua orang bunda di group, maka saya rancang perjalanan dari Jakarta ke Singapore, lalu ke Johor Bahru,  lanjut ke Kuala Lumpur dan pulang ke Jakarta.

Legoland berada di Johor Bahru yang berbatasan dengan Singapore. Saya sudah pernah menjalani rute dari Singapore ke Malaysia sebelumnya, namun saya tidak pernah singgah ke legoland Johor Bahru. Adapun saya pernah singgah beberapa kali di rest area di daerah bernama Gelang Patah yang merupakan daerah di Johor Bahru hanya untuk istirahat sebelum masuk ke imigrasi check point Malaysia dan lalu Singapore.

Dengan senang hati aku menerima permintaan mereka ke Johor Bahru, karena aku selalu senang dapat menambah wawasan dan pengalaman dalam melakukan setiap perjalanan. Dengan biaya yang terbatas dan terjangkau, saya atur mulai dari transportasi udara,  darat, penginapan dan makan dan lain-lain. Untuk tiket pesawat, pemesanan tiket pulang pergi dilakukan terpisah berselang hari. Pertama 6 penumpang termasuk saya, satu penumpang menyusul di keesokannya dan 3 penumpang lain di seminggu setelahnya. Harganya memang tidak sama namun masih terjangkau menurut hitungan saya.

Pada hari keberangkatan kami semua sepakat tepat waktu bertemu pagi di depan bandara Soekarno Hatta di terminal 2E. Saya janjian dengan peserta perjalanan yang dari Bogor untuk berangkat bersama menggunakan bus damri, sedangkan peserta dari Depok mereka memakai jasa taksi online bersama-sama untuk menuju bandara.

Setiba di bandara, kami semua saling berkenalan karena selama ini komunikasi berjalan melalui group di whatsApp yang saya buat saja. Setelah berkenalan kami semua melakukan check in untuk mendapatkan Boarding pass kami masing-masing. Ada sedikit kesalahan dalam pengetikan nama namun hal itu mudah tertanggulangi karena kebijakan maskapai yang mempermudah penumpang dalam hal pemesanan. Cukup memperlihatkan passpor asli sudah cukup. Alhamdulillah dan setelah mendapatkan boarding pass, kami semua melakukan prosedur imigrasi dan segera menuju lobby tunggu pesawat.

Beruntung pesawat kami sesuai jadwal sehingga kami tidak menunggu lama dan segera tiba di Changi bandara Singapore yang terkenal bagusdan lengkap fasilitasnya . Segera setelah mendarat di Changi terminal 1, kami ambil sky train menuju terminal 2 karena letak stasiun MRT ada di sana  dan segera aku mengingat kembali pengalaman mencari stasiun MRT yang berada di bawah bandara di kunjungan pertamaku ke Singapore beberapa tahun yang lalu.

Dengan bantuan tanda-tanda dan tanya-tanya, akhirnya kami berhasil menemukan stasiun MRT dan segera membeli tiket melalui mesin tiket yang berada tidak jauh dari loket manual. Saya agak lama mengingat kembali bagaimana menggunakan mesin tiket itu, namun ada seorang ibu tua yang bertugas membantu setiap orang yang ingin membeli tiket di mesin.  Aku beli 9 lembar tiket ke stasiun Rafles Place untuk teman-teman,  dan saya sendiri, saya pakai kartu MRT saya yang lama yang masih tersisa SG$ 16 ketika aku periksa di mesin tiket. Kami segera masuk ke MRT dan menikmati perjalanan setelah mendapatkan tiket.

Saya sempat lupa untuk segera pindah flatform ketika MRT kami mencapai stasiun Tanah Merah untuk pindah MRT yang menuju Tuas Link karena di Tanah Merah ada dua line hijau yang berbeda, ada satu berakhir di Tuas Link dan satu lagi berakhir di Pasir Ris. MRT yang kami naiki kembali ke Changi maka kami terpaksa turun di stasiun Expo yaitu stasiun yang letaknya diantara Changi dan  Tanah Merah dan lanjut balik naik MRT lagi ke arah Tanah Merah dan pindah MRT di flatform yang menuju Tuas Link diakhir stasiun jalur hijau itu. Dan akhirnya kami dapat mencapai stasiun Rafles Place setelah melewati beberapa stasiun MRT.

Keluar dari stasiun Rafles Place, saya langsung arahkan teman-teman menuju Merlion Park melewati jembatan penghubung yang ada di sebuah mall menuju hotel Fullerton di seberang Jalan. Setelah sampai di seberang, pemandangan ikonik kota Singapore berupa gedung bernama Marina Sand Bay, Museum Art,  Esplanade dan Merlion park membuat takjub teman-teman yang sebagian besar belum pernah melihatnya. Bagi mereka yang sudah pernah ke Singapore, termasuk saya tetap saja terpesona dengan pemandangan sekitar siang itu.  Dengan segera kami semua mengabadikan pemandangan dengan mengambil foto selfie dan juga wefie bersama dalam berbagai gaya, walaupun awan hitam ikut menghiasi langit Singapore siang itu.

Selesai berfoto dan menikmati pemandangan dan suasana merlion Park siang itu,  saya segera mengajak teman-teman untuk melanjutkan perjalanan ke Bugis. Sehingga kami semua kembali ke stasiun Rafles Place dan menambah tiket kami untuk lanjut naik MRT ke daerah Bugis.

Sampai di stasiun Bugis, awan hitam tak terbendung lagi untuk hujan sehingga yang awalnya saya akan mengajak mereka ke Mesjid Sultan dahulu saya urungkan. Saya sarankan mereka untuk menikmati belanja di Bugis Street dengan harapan hujan reda setelah beberapa waktu. Niat saya untuk mengantarkan beberapa dari teman yang ingin mengunjungi perpustakaan terdekatpun terganggu karena hujan cukup deras. Sehingga saya hanya sanggup menunjukkan gedung putih tinggi beratap kerangka baja putih  yang merupakan perpustakaan Nasional Singapore dari Bugis Street dan merekapun bisa mengerti.

Hujan cukup menyita waktu kami di Bugis Street. Segera setelah hujan mereda, kami lanjutkan perjalanan ke Mesjid Sultan yang tidak jauh letaknya dari  Bugis Street. Permasalahan muncul karena bawaan mereka mulai memberat oleh belanjaan mereka di Bugis tadi. Sebagian anak mengeluh kecapean dan bunda-bunda berusaha menghibur mereka dengan bujuk rayu ala bunda pintar.

Sesampai di Mesjid Sulthan kami melaksanakan Sholat dan setelah itu kembali berbelanja di toko-toko souvenir di sekitar mesjid. Saya sendiri menikmati hidangan ala Padang yang ada diujung belakang mesjid sendirian karena mereka sudah makan siang semua di Bugis. Selesai puas menikmati mesjid, tak lupa foto-foto, kami semua menuju stasiun bus menuju Johor yang berada tidak jauh dari Mesjid Sulthan yaitu stasiun bus Queen street.

Ditemani rintik hujan yang melemah, semangat langkah kaki kami semua menguat menuju stasiun bus Queen street. Namun sayang, pemandangan antrian penumpang bus begitu mengular membuat kami semua agak kecewa. Terpikir jarak dan waktu yang tidak mungkin terjangkau karena antrian itu, saya mengajak teman-teman untuk naik taksi ke Johor. Walau biaya transportasinya jauh lebih mahal, namun atas pertimbangan beberapa hal mulai dari kenyamanan imigrasi yang bisa dilakukan di mobil dan efektifitas waktu berhubung saya  sudah sewa mobil yang akan menjemput kami di stasiun bus Larkin jam 09.00 malam. Kebijakan sewa jemput dan antar harus tepat waktu. Bila lewat waktu maka saya akan kena wajib bayar kelebihan waktu tersebut. Saya beruntung teman-teman memutuskan yang terbaik untuk kita semua dengan menyetujui ide saya untuk ganti naik taksi menuju Johor Bahru walaupun mereka harus menambah biaya transportasi lagi.

Kebijakan taksi di Singapore yang hanya boleh mengangkut maksimal 4 penumpang membuat kami harus terpisah kendaraan menuju Johor Bahru. Aku harus sewa 3 taksi dan menyakinkan beberapa teman-teman yang terpisah untuk tenang dan juga beberapa kali menyakinkan para sopir taksi  yang akan membawa kami agar menurunkan kami ditempat yang sama di stasiun  bus Larkin di Johor Bahru. Setelah sepakat baru kami naik taksi semua.

Sepanjang jalan menuju perbatasan ternyata lalu lintas luar biasa sangat macet karena diakhir pekan banyak warga Malaysia yang pulang kerja pulang dan banyak pula warga Singapore yang ingin berlibur ke Malaysia. Dan kami warga Indonesia ikut memacetkan lalu lintas karena ingin ke Johor Bahru. Kami juga melihat banyak orang berjalan kaki di pinggiran jalan. Mereka berjalan dari imigrasi Singapore ke imigrasi Malaysia yang berjarak 3 kilo meter jauhnya karena mereka mungkin ketinggalan bus yang mereka tumpangi sebelumnya.

Hal itu sebetulnya sudah disampaikan oleh Mr. Jason. Ia adalah orang yang saya hubungi melalui WhatsApp, Ia dari pihak jasa sewa mobil khusus jalur Singapore- Johor Bahru (SGJB) yang akan menjemput kami dari stasiun bus Larkin ke Hotel Warm Blanket dan sebaliknya dihari berikutnya. Ia sudah informasikan keadaan macet dan sibuknya antrean di setiap imigrasi. Ia menyarankan saya untuk langsung ambil jasa layanan sewa mobilnya langsung dari Singapore ke hotel namun karena biayanya yang cukup mahal makanya saya hanya ambil sebagian layanannya. Lagi pula tetap lebih mahal biayanya dibandingkan memakai jasa taksi.

Perjalanan melewati perbatasan Singapore dan Malaysia menghabis waktu selama 3 jam yang biasanya hanya sekitar 1,5 jam atau 2,5 jam dengan bus umum dari informasi supir taksi dan juga dari yang saya baca di beberapa blog orang-orang yang berbagi pengalaman mereka mengunjungi Johor Bahru dari Singapore.

Setibanya di stasiun bus Larkin, saya lihat 3 dari teman saya sudah menunggu kami. Kami turun dari taksi dan tak lupa ucapkan terima kasih. Kami menunggu 4 orang teman kami yang belum muncul. Kami menunggu cukup lama, saya dan teman-teman lain cukup khawatir. Sambil menunggu saya sempatkan mengganti nomor hp dengan nomor Malaysia yang sudah saya bawa. Saya top up dan paketkan data agar saya dapat menghubungi supir yang akan menjemput dan mengantar kami ke hotel.  Saya minta mereka untuk menunggu kami 10 menit agak telat dari perjanjian. Dan setelah beberapa waktu akhirnya ke 4 teman kami muncul dari taksi yang mereka tumpangi. Kami semua bertanya atas keterlambatan mereka. Ternyata si supir taksi yang mengantar mereka melaksanakan sholat dulu di rest area sebelum perbatasan Singapore. Kami semua tertawa lega mengetahui pemasalahan keterlambatan mereka. Saya rasa itu adalah suatu keterlambatan yang penuh berkah bagi ke-4 teman kami dan juga kami yang ikut menunggunya.

Segera kami menuju mobil yang sudah menunggu kami di luar terminal, mereka menunggu di depan KFC dan kebetulan kami belum makan, saya tawarkan teman-teman untuk menikmati ayam goreng nanti di hotel dan mereka setuju. Apalagi anak-anak, mereka dengan senang menyetujuinya.

Kami tiba di hotel Warm blanket sekitar jam  10 malam, kamar-kamar keluarga yang kami pesan cukup menyenangkan. Walau tempat tidurnya bertingkat, tapi tidak sulit bagi kami untuk naik ke kasur atas karena tangganya besar-besar dan lebar. Anak-anak malah menikmati tangga-tangga tersebut untuk duduk-duduk santai bahkan makan dan beraktifitas lain disitu.

Saya tidak langsung tidur. Setelah shalat saya sempatkan keluar untuk mengisi ulang botol air minum kami di mesin air isi ulang yang letaknya di luar depan hotel. Beberapa teman ikut serta dan menikmati keadaan sekitar hotel yang tenang malam itu. Ada gerai Seven Eleven dan sebuah restauran yang cukup ramai. Saya yang belum sempat makan segera memesan makanan disitu. Makanannya enak dan dari menujuga daftar harga yang saya lihat cukup bervariasi dan terjangkau harganya. Maka saya putuskan untuk mengajak teman-teman untuk sarapan di restoran Engku esok paginya.

Setelah makan malam, sambil packing bersama,  saya ngobrol dengan teman-teman sekamar yaitu guru-guru dari sebuat SDIT di Depok. Saya senang mendengar kesan mereka semua pada hari itu. Mereka semua kecapean namun mereka semua merasa senang dan terkesan dalam melewati setiap waktu disana tadi. Kami cukup lama baru bisa tidur karena suasana di luar agak ramai dengan gelegar kembang api. Kami bahkan dapat melihat kilatan kembang api dari jendela di hotel.

 

 

 

 

TEACHER GUIDE

ig

Julukan diatas diberikan kepadaku di salah satu akun IG teman guru yang ikut  gabung dalam perjalanan hemat backpacker ke Malaysia dan Singapore ketika libur selama 4 hari di bulan Desember 2017 yang lalu. Aku merasa tersanjung atas julukan itu. Setelah beberapa kali menjadi pemandu perjalanan baru kali ini ada peserta yang memberi aku julukan itu.

Sebetulnya ini perjalanan backpack grup yang ke-3 yang aku buat. Sebelumnya aku juga sudah 2 kali memandu perjalanan keluar negeri untuk teman-teman guru dan 3 kali untuk  kalangan anak murid SMP disekolahku. Jadi total jumlah menjadi pemandu perjalanan keluar negeri sebanyak 6 kali dan aku masih berniat menambah perjalanku selagi aku mampu dan tentunya atas izin suami dan anak-anakku.

Dulu sebelum aku berani memandu perjalanan, aku dipandu oleh orang yang menangani perjalanku ke Australia setelah lulus tes seleksi  West Java Teacher’s Training di Adelaide, Australia selatan. Perjalananku yang pertama kali ke luar negeri dan pertama kalinya ku punya pengalaman membaca tanda di bandara dan naik pesawat terbang menjadi bekal ilmu ku memandu perjalanan selanjutnya.

Sebelum keberangkatan keluar negeri aku persiapkan diri secara fisik dan  juga material. Aku banyak membaca pengalaman orang lain di beberapa blog di internet dan aku juga banyak mencari informasi sekitar tanda-tanda di bandara, peraturan yang berlaku yang terdapat dalam daftar FAQ (Frequenly Asked Question) yaitu daftar pertanyaan yangumumnya sering ditanyakan banyak orang, aku pelajari makna signs and notices, aku pelajari peta-peta kota yang aku tuju dari peta yang aku unduh di internet goggle maps dan aku pelajari semua itu secara serius.

Setelah aku merasa paham dengan prosedur perjalanan ke luar negeri, aku beranikan diri merencanakan perjalanan mandiri yang  merupakan keinginan  temanku yang ingin punya pengalaman ke luar negeri pada awalnya. Perjalanan diikuti oleh seorang teman dekat dan suamiku. Awalnya dua teman dekatku yang akan ikut tapi salah satu temanku akhirnya mengurungkan niatnya bergabung jadi  aku ajak suamiku serta. Setelah bujuk rayu, akhirnya kami bertiga pergi.

Setelah sebelumnya meminta izin satu hari cuti kepada kepala sekolahku  agar perjalanan kami kedua negara bisa selesai dalam waktu tiga hari. Dan perjalanan pertama kami itu sukses kami laksanakan dengan biaya yang lumayan hemat. Suamiku bahkan amat menikmatinya, padahal  pada awalnya dia tidak tertarik. Perjalanan ke dua negara Singapore dan Malaysia sukses meninggalkan kenangan manis bagi kami semua.

Dari mulut kemulut temanku menceritakan pengalamannya, lalu muncullah beberapa niat dari teman lain yang juga mengajak kerabat mereka untuk ikut serta dan dari situlah aku mulai memandu perjalanan yang selanjutnya ke negara-negara tetangga berdasarkan pertimbangan biaya yang hemat dan permintaan mereka . Aku bahkan beribadah umroh dengan cara backpackeran juga. Prinsip hematku selalu aku terapkan dalam setiap perjalananku.

Selain membaca-baca berbagai sumber bacaan dan juga melalui internet, disetiap perjalanan hemat keluar negeri ku menambah ilmu dan pengetahuan tentang situasi keadaan kedua negara tetangga itu, otomatis menambah percaya diriku dalam melaksanakan tugas memandu setiap perjalanan. Aku juga menjalin hubungan baik dengan beberapa pemilik travel, pemilik bus, driver, tour guide dan manager beberapa hotel di negara tetangga itu.

Dari menjadi pemandu disetiap grup, grup yang terdiri dari teman-teman guru adalah yang paling menyenangkan karena sudah sama-sama dewasa walaupun tidak mudah untuk menyenangkan semua peserta di grup namun mereka lebih mudah diatur dan cepat mengerti. Di pihak lain, untuk perjalanan anak sekolah lebih beresiko dan melelahkan. Aku bahkan beberapa kali mengalami hilang degup jantung gara-gara masalah yang  mereka hadapi di perjalanan. Maka dari itu aku selalu meminta pertolongan salah seorang teman yang membuka jasa travel setelah perjalanan pertamaku dengan anak-anak muridku ke St. Louis Amerika.

Dalam jadwal atau  itinerary yang aku susun selalu aku rancang semi backpacker dengan pertimbangan untuk kaya pengalaman namun tidak melelahkan karena berdasarkan pengalaman dan pengamatanku, rata-rata orang kita tidak terbiasa berjalan kaki. Selanjutnya aku biasa sewakan van, atau bus kalau pesertanya banyak. Perjalanan aku rancang 3-4 hari penuh di tanggal merah Jumat atau Senin agar tidak mengganggu hari-hari kerjaku sebagai guru.

Banyak pengalaman yang aku dapat disetiap kegiatan memandu. Pernah aku di direpotkan dengan hilangnya passpor salah seorang peserta, adapun peserta yang menyamakan keadaan di negara tersebut dengan negara sendiri yang beresiko di denda, peserta yang makan dan minum ketika berada  dalam transportasi umum berkamera disana, kebiasaan peserta yang membuat bising para penghuni hotel lain, peserta usil yang memicu amarah warga negara tetangga, peserta yang kalap belanja sehingga berpengaruh kepada jatah bawaannnya di pesawat, peserta yang jatuh sakit dan harus pulang lebih awal dari jadwal, peserta yang tidak disiplin dalam waktu dan lain-lainnya.

Namun semua pengalaman itu aku ambil sisi positifnya, aku jadi bertambah kaya pengalaman menghadapi berbagai situasi dan mengambil solusi. Tapi dari semua itu, aku senang melihat para peserta perjalanan yang bahagia dapat mewujudkan mimpi mereka,  memberikan pengalaman baru kepada mereka yang tidak punya pengalaman berwisata keluar negeri dan aku senang mereka merasa bangga bahwa mereka mampu  keluar negeri seperti halnya orang-orang tertentu yang leluasa secara keuangan. Karena otomatis dengan itu aku menjadi tambah kaya dan berpengalaman menjadi seorang guru pemandu perjalanan.

 

Sponsorin Bukuku Dong

Sudah ada yang sponsorin cetak buku saya, barangkali ada yang mau sponsorin lagi?

Pipi Tak bisa Terbang Lagi

Zaman dahulu kala burung pingupenguin-on-ice-coloring-page-700x933in dapat terbang sama seperti burung lainnya. Ia mempunyai sayap yang lebar dan tubuh yang ideal. Didalam suatu hutan tinggalah seekor pinguin bernama Pipi. Pipi senang tinggal didalam hutan itu bersama teman burung-burung lainnya. Ada Meri si burung merpati, Solek si burung dara dan  Riri si burung kenari.

Sehari-hari mereka habiskan waktu mereka terbang kesana dan kesini dan hinggap dipohon-pohon yang mereka sukai. Sehabis terbang, tentu saja tenaga mereka terkuras dan mereka semua merasa kelelahan. Untuk mengumpulkan tenaga mereka kembali, mereka mencari buah-buahan di sekitar hutan.

Dari kecil Pipi mempunyai selera makan yang besar sehingga  ia banyak menghabiskan buah-buahan yang ada dihutan. Baik buah-buahan yang ada diatas pohon dan  juga buah-buahan yang jatuh ketanah. Badannya bertambah besar setiap harinya karena banyak makan.

Pada awalnya Meri, Solek dan Riri tidak menyadari besarnya selera makan Pipi. Sampai tiba waktunya musim paceklik, tumbuh-tumbuhan jarang berbuah. Barulah mereka merasa telah dirugikan oleh Pipi.

Pagi hari Pipi rajin kehutan mencari makanan. Pipi petik semua buah-buahan yang dia temukan dan memakannya semua diatas pohon dan tak terlewatkan juga buah-buahan yang jatuh ketanah. Sehingga habislah sumber makanan para burung dihutan itu. Meri, Solek dan Riri merasa keberatan dan mereka mengajukan protes.

“ Pipi kau terlalu banyak makan buah-buahan yang ada dihutan ini.” Protes Meri

“ Kami juga lapar, tapi kami tidak kebagian buah-buahan.” Protes solek

“Ya, kau serakah, kau habiskan semua makanan kami.” Protes Riri.

Pipi tidak merasa bersalah, dia pikir dia berhak memakan buah-buahan itu karena dia lah yang terlebih dahulu mendapatkannya.

“Aku bangun pagi sekali makanya aku temukan buah-buahan itu. Lagi pula aku hanya makan sedikit saja kok.” Kata Pipi membela diri.

“Bagimu sebuah mangga kecil dan masih kurang memuaskan, tapi bagi kami mangga tersebut bisa untuk makan kami selama empat hari.” Protes Meri, solek dan Riri.

“Sebagai teman seharusnya kau memperhatikan kami, jangan kau habiskan semua makanan di hutan ini.” Protes Solek

“Lagi pula makan terlalu banyak juga tidak baik untuk kesehatanmu Pipi.” Riri memperingatinya.

Karena tidak mampu memberi alasan yang tepat bagi perbuatannya yang memang dia bersalah,  akhirnya Pipi berjanji akan menyisakan buah-buahan yang ada dihutan lain waktu untuk teman-temanya.

Namun dihari berikutnya, karena Pipi terbiasa makan banyak, ia kesulitan untuk menangani rasa lapar perutnya, lalu dia mengingkari janjinya. Dia kembali menghabiskan buah-buahan yang ada di hutan terkecuali buah-buahan yang masih mentah atau busuk.

Ditengah malam ketika semua penghuni hutan tertidur, ia terbang dengan susah payah keseluruh pelosok hutan untuk mencari buah-buahan yang ada diatas maupun buah-buahan yang sudah jatuh di bawah tanah. Dia kumpulkan semua buah-buahan yang ia dapat dan dia bawa pulang untuk dia makan didalam sarangnya malam itu juga. Dia bahkan memakan semua buah-buahan beserta kulit dan bijinya sekaligus agar tidak tertinggal jejak buah-buahan itu disarangnya. Dan setelah ia selesai makan secepatnya ia tertidur. Hal itu membuat tubuh Pipi membesar tak tekendali.

Dipagi hari kembali burung-burung lain mencari makanan termasuk Meri, Solek dan Riri. Namun sayang mereka sama sekali tidak mendapatkan satu buah pun yang bisa dimakan karena buah-buahan yang berada diatas pohon masih mentah, sementara yang sudah jatuhpun busuk.

Mereka spontan mencurigai Pipi sebagai sebab dari semua kejadian ini. Serta merta mereka semua geram dan bersama-sama menuju sarang Pipi untuk meminta penjelasan dan pertanggung jawabannya.

“ Pipi, keluar kau dari sarang mu!” Teriak Meri.

“Berikan sebagian buah-buahan yang kau ambil, kami lapar.” Pinta Solek

“ kenapa kau ingkari janjimu Pipi?” Tanya Riri

Mendengar teriakan teman-temannya, Pipi terbangun dan berusaha keluar dari sarangnya dengan bersusah payah. Namun tidak berhasil karena tubuhnya Pipi lebih besar dari lubang sarangnya.  Dia tidak bisa melewati lubang sarangnya dan keluar menemui teman-temannya.

Teman-temannya menjadi tidak sabar, mereka mengira bahwa Pipi bersembunyi. Lalu mereka semua mendekati dan menggoyang-goyangkan sarang Pipi karena kesal . mereka mengira Pipi sengaja sembunyi. Semakin lama guncangan mereka semakin kuat sehingga secara tidak sengaja sarang Pipi terjatuh dari batang pohon.

Meri si burung merpati, Solek si burung dara dan  Riri si burung kenari terkejut spontan terbang ke bawah untuk mengangkat kembali sarang Pipi. Namun usaha mereka sia-sia, sarang Pipi terlalu berat untuk mereka angkat dan terjatuhlah sarang itu. Pipi terpental keluar ketika sarang tersebut mendarat di tanah dan mengakibatkan kedua sayapnya patah. Dan mereka semua terkejut melihat tubuh Pipi yang membesar.

“Pipi kenapa kau tidak keluar terbang agar tidak terjatuh seperti tadi?” tanya Meri Merpati

Pipi tidak menjawab, ia meringis kesakitan. Ia malu berkata sejujurnya bahwa tubuhnya tidak bisa keluar dari sarangnya karena ia sudah menjadi terlalu besar. Sementara solek dan Riri membantu mengangankatkan kembali sarang Pipi keatas pohon.

“Pipi kau pasti telah ingkar janji.” Tuduh Meri

“Lihatlah tubuhmu sudah tidak seperti dulu lagi. Dulu kau sama seperti kami kecil dan lincah sekarang kau besar dan sulit untuk keluar masuk sarangmu sendiri.” Komentar Solek

“Ya, kau ingkari janjimu dan inilah balasannya.” Tambah Riri

Meri, Solek dan Riri yang marah akhirnya tidak mau berteman lagi dengan Pipi danmereka meninggalkan Pipi seorang diri. Setelah mereka semua pergi Pipi berusaha untuk terbang menuju sarangnya lagi dan lagi. Namun ternyata ia tidak bisa terbang seperti dahulu kala kerena sayapnya patah akibat terjatuh dan badannya sudah sangat terlalu berat. Pipi menyesal, ia berjalan keluar hutan menuju lautan luas dan tidak kembali lagi ke hutan karena malu.

 

MINUS DERAJAT CELCIUS DI TURKI

tukrPulang beribadah Umroh saya dan suami langsung lanjut perjalanan ke Turki. Perjalanan kami ambil umroh plus Turki dengan pertimbangan  biaya ke Turki yang terhitung murah. Harap maklum setiap kali saya selalu berpikir hemat untuk setiap perjalanan kami. Saya ingin uang sisanya bisa lebih manfaat untuk hal lainnya sehingga faktor kenyamanan hotel dan fasilitas tidak menjadi hal yang paling penting dalam kegiatan backpack kami. Namun backpack kali ini diluar dugaan, kami malah dapat hotel dan fasilitas akomodasi yang terbilang mewah bagi kami. Mungkin karena tujuan utama perjalanan kami ini murni beribadah jadi berkah segala sesuatunya.

Bukan bermaksud apa-apa dengan menuliskan ini, lebih banyak kenangan lain tapi saya ingin kenangan manis ini dapat saya ingat detilnya dikala saya mulai sulit mengingatnya. maka dari itu saya berusaha menulisnya dari catatan-catatan yang saya buat di sobekan kertas dan dari ingatan-ingatan yang masih masih segar ketika saya menuliskan ini.

Day 1

Kami meninggalkan Mekah dini hari jam 03.00, penerbangan ke Turki dimulai dari Riyadh. Sampai bandara Riyadh yang menurut saya cukup kecil, kami sholat subuh setelah check in. Ada kejadian lucu ketika kami berdua terpisah rombongan ketika sholat subuh, kami agak bingung  ketika kami tidak melihat teman-teman serombongan, dan juga dengan masalah setiap sign dan notice yang didominasi oleh bahasa arab namun dengan percaya dirinya kami langsung saja kami memasuki imigrasi yang ternyata itu bagian penerbangan lokal.

Kami masuk terpisah,  bagian wanita di periksa di ruangan tertutup sedangkan suami masuk jalur imigrasi di luar. Setelah selesai saya keluar menuju belt untuk mengambil tas dan jaket saya namun ternyata petugas imigrasi berkata sesuatu yang terdengar tidak familiar bahasanya “Sisos” ucapnya. Karena saya berpikir dia sedang berbahasa Arab saya memintanya berbahasa Inggris. Saya berujar”in English please!”. Si petugas mengangguk dan kembali berujar “Sisos, ….English”. Masya Allah ternyata kuping saya yang error, saya baru ngeh ada gunting yang saya gunakan untuk Tahalull ads didalam tas saya. Saya langsung berpikir suami saya juga pasti mengalami hal yang sama, dan ternyata benar. Sambil senyum tertawa memikirkan kebodohan tadi kami langsung ke ruang tunggu.

Kami menunggu peserta lain sekitar 10 menit di ruang tunggu di depan gate penerbangan. Untuk penerbangan pesawat Saudi, informasi  gate tidak di cantumkan di boarding pass sehingga kita harus senantiasa stand by melihat papan boarding dan disitu kami baru sadar bahwa kami berada di gate yang salah yaitu di gate penerbangan lokal karena semua penerbangan yang terlihat di papan boarding semua tujuannya domestik.

Secepatnya kami keluar dari area penerbangan lokal dan kembali ke meeting point kami. Karena kami tidak juga bertemu teman-teman serombongan, kami akhirnya masuk segera ke bagian imigrasi lagi tapi kali ini kami yakin tidak salah masuk lagi, ini betul bagian penerbangan luar negeri dengan rasa yang agak cemas karena kami tidak juga melihat teman-teman serombongan di antrian imigrasi.

Setelah memastikan penerbangan di papan boarding, kami duduk diruang tunggu dan berusaha tenang karena yakin melihat jam penerbangan yang masih luang. Tak lama setelah 10 menit duduk disitu, barulah kami melihat serombongan teman-teman kami memasuki ruang tunggu. Rupanya banyak dari mereka yang berbelanja barang bebas pajak atau duty free sebelum memasuki bagian imigrasi. Alhamdulillah.

Di pesawat kami duduk dibarisan paling belakang bersebelahan dengan mushola pesawat. Pesawat yang kami tumpangi tidak penuh penumpang sehingga banyak dari teman serombongan dapat melanjutkan  tidur di bangku-bangku yang kosong dengan bebas. Ada  beberapa teman kami yang sengaja ke mushola pesawat untuk sholat dhuha, rebahan setelah sholat dan bahkan pijit-pijitan secara bergantian. Namun tak lama mereka yang melakukan aktifitas lain selain sholat di mushola itu di tegur seorang pramugara untuk kembali ke kursi masing-masing.  Perjalanan sekitar 4 jam menuju Turki berjalan lancar. Kami siap dengan long john, jaket, kupluk dan sarung tangan terpasang di  badan ketika sudah mulai turun mendekati tujuan. Saya melihat berderet-deret pegunungan yang putih tertutup salju dari atas pesawat.  Tidak terbayang dinginnya karena belum pernah mengalami musim dingin sebelumnya.

busSampai  turun di bandara Attaturk,  saya langsung merasakan angin dingin mengenai pipi. Saya spontan menutupi pipi saya dengan kedua tangan saya. Segera kami turun dari pesawat  dan naik bis bandara yang bentuknya lucu. Ukurannya lebih besar dan lebar dari bis-bis biasa sehingga dapat memuat penumpang lebih banyak. Saya duduk dibelakang dengan suami sambil menikmati pemandangan bus lucu yang lain yang berada di belakang bis kami. Di dekat kursi kamipun ada beberapa penumpang asli warga Turki yang cantik dan ganteng dan juga ramah-ramah. Kami nilai itu  dari senyuman mereka yang tulus.

Sampai didalam bendara kami semua berkumpul dan berfoto-foto dahulu dan menyiapkan masing-masing visa elektronik yang ada pada hp kami masing-masing. Setelah selesai melewati proses imigrasi kami menuju belt untuk mengambil koper masing-masing. Karena koper kami rata-rata sudah penuh oleh-oleh dari Arab, koper-koper tersebut terasa berat untuk di geret-geret, kami memerlukan troley barang. Troley disana tidak gratis. Untuk dapat memakainya,  kita harus memasukan coin 1 lira di slotnya. Karena kami tidak punya recehan koin, tour leader kami yang baik pa Fauzan memberi beberapa koin 1 lira yang ia punya. Kerena tidak semua kebagian koin maka saya gabungan dengan ibu Winda.

Sampai di barisan troley kami langsung masukan koin tersebut ke slotnya namun kami kesulitan untuk menarik troley tersebut. Kami minta bantuan petugas bandara yang sedang lewat. Dengan baiknya petugas itu membantu kami dan kami malah dapat koin gratis darinya karena dia tidak mau koinnya diganti. Baru sampai bandara Turki sudah di traktir, rejeki tapi kami harus berbagi. Kami berikan koin kami kepada yang lain yang tidak kebagian koin.

Keluar bandara Attaturk menuju tempat parkir dimana bus dan supir kami sudah menunggu. Udara dingin bersuhu -1 derajat celcius dengan langit biru yang cerah menakjubkan kami semua. Dingin sekali seperti berada di freezer, saya dan suami saling bermain hembus-hembusan udara yang keluar dari mulut kami. Ketika kami tersadar bahwa ketika berbicara atau terkekeh takjub, dari mulut kami keluar asap saking dinginnya, mulut kami menjadi mulut naga semua.

Kami di sambut oleh wanita muda cantik yang bernama Gamze pemilik travel Skyhav  yang rupanya sudah mempunyai anak karena ia bawa serta anaknya bekerja dan seorang sopir bis bernama pa Mehmet. Pa Mehmet membantu memasukan koper-koper kami kedalam bagasi bis. Kami segera masuk ke dalam bis putih itu mencari kehangatan. Dari luar, bis sepertinya biasa namun ketika kami masuk kedalamnya ternyata bisnya canggih karena terdapat wifi dan tv di setiap kursi sehingga penumpang bis  yang dudukdibelakang bisa melihat pemandangan depan bis dengan leluasa melalui tv tersebut. Gamze dan pa Fauzan memberikan beberapa informasi tempat-tempat yang kami lewati sepanjang jalan. Kami juga mendapatkan beberapa informasi sekitar budaya dan sejarah negara Turki dari mereka.

tirisDari bandara kami langsung menuju ke Bursa yang berada di bagian Turki Asia.  Di perjalanan menuju hotel Karsivaray di Bursa, kami berhenti sejenak disebuah rest area untuk sholat. Dari situ saya belajar bahwa bahasa Turki mesjid adalah”mescit’ dan istilah wanita itu “bayan” dan laki-laki adalah  “bay”. Saking dinginnya disitu saya tayamum karena tidak tahan terkena air walaupun tersedia air hangat untuk wudhu. Dan segera menuju bis menghangatkan badan.

Sampai di hotel saya kembali takjub karena hotelnya bagus bintang lima. Kami langsung makan malam ala Buffet yang mewah. Segala tersedia. Macam-macam makanan ala Turki tersedia. Namun saya tidak menemui kebab Turki yang terkenal di kota saya. Makanan yang memanjakan mata  rupanya tidak selaras dengan lidah saya. Sebagian besar terdiri dari sayuran dan selalu ada irisan buah zaitun yang sudah di asinkan. Saya memilih lebih banyak makanan desert berupa roti, kue, puding dan salad saja untuk makan malam itu.

Setelah makan malam saya mampir ke toko souvenir yang ada di dalam hotel  membeli pashmina untuk kakak ipar saya. Setelah melihat-lihat dan harganya lumayan mahal saya urung mau membeli salah satunya yang saya suka, tapi karena pelayannya baik sekali dan ramah pula, akhirnya jadi saya beli satu . setelah dibungkus saya dan suami langsung menuju kamar hotel. Kamar hotel kami sangat bagus. Ini merupakan kejutan indah, kami sudah lama tidak menikmati kebersamaan berdua karena rutinitas bekerja, anak-anak dan lain sebagainya, jadi kami anggap ini hadiah dari ibadah kami.

Day 2

Esok pagi kami sarapan bersama. Menu sarapan pagi itu lebih baik dari semalam saya bisa dengan lahap dan semangat makannya. Saya ambil beberapa roti, croisant dan yogurt untuk perbekalan di perjalanan bis. sesuai rencana kami berangkat pagi jam 07.00. keluar dari hotel terasa lebih dingin dari hari sebelumnya karena pagi itu suhu mencapai -5 derajat celcius. Didepan hotel terlihat gundukan salju putih di atas rumput taman hotel dan kami sempat berfoto dengan latar salju ditaman tersebut namun kala itu matahari masih belum tampak sehingga pemandangan masih gelap. Tour hari itu kami dipandu oleh seorang gadis Turki yang cantik bernama Nilai dan Pa Mehmet sudah siap kembali mengantar kami keliling kota Bursa dan lanjut ke Instambul daerah Turki bagian Eropa.

uluPertama-tama kami mengunjungi mesjid agung di Bursa bernama Ulucamii tepat jam 8 pagi. Ulucamii merupakan mesjid tertua dan terbesar yang ada diBursa. Sebelumnya saya sempat melihat-lihat mesjid lain disepanjang jalan. Sungguh unik mesjid-mesjid disana, mereka tampak sama semua dengan ciri khas kubah yang lebar dan menara-menara tinggi dan kurus di setiap sudut mesjid. Namun karena mesjid ini mesjid tertua maka tembok dan desain bangunannya lebih terlihat antik dan sederhana. Petugas masjid sempat sempat marah kepada Nilai karena kami menaruh sepatu di luar mesjid karena tempat sepatu di sediakan di dalam masjid. Didalam tengah masjid ada semacam kolam pancuran yang berguna untuk tempat berwudhu. Didalam mesjid terdapat-tiang-tiang besar yang di hiasi oleh kaligrapi yang indah. Saya sempat berfoto didalam masjid yang sebelumnya saya tidak tahu kalau itu dilarang. Saya tahu setelah salah satu dari rombongan kami di tegur untuk tidak berfoto oleh seorang petugas masjid.

Di luar masjid terdapat beberapa kios kecil. Saya sempat melihat beberapa souvenir yang akhirnya saya memutuskan membeli satu pashmina lagi dengan bertujuan menukarkan uang 100 Lira saya menjadi recehan yang lebih kecil. Pashmina yang ada disalah satu kios cantik-cantik. Saya membeli satu yang asli buatan Bursa seharga 35Lr. Saya minta 5 receh koin 1 Lr untuk kembalian saya. Ketika menuju bus saya berpapasan dengan wanita tua yang meminta sedekah. Untung saya sudah punya recehan jadi saya berikan koin 1Lr saya kepadanya lalu langsung bergabung naik bus dengan yang lain.

Tempat kedua yang kami kunjungi adalah  Munira, yaitu tempat penjualan lokumo turkish delight yang merupakan makanan khas Turki berupa gula-gula yang bahan dasarnya adalah madu dan atau juga dari gula. Pemilik toko memberikan beberapa deskripsi tentang barang-barang yang di jual di munira. Kami mendengarkan sambil mencicipi beberapa lokumo yang ditawarkan. Yang terbuat dari gula harganya  lebih murah dan sudah dikemas dalam kotak. Lokumo asli dari madu dijual di gerai terpisah. Satu kilo seharga 100Lr dan dapat di campur rasanya, ada yang di balut safron, coklat, kacang, dan lain-lain beraneka rasa. Selain Lokumo di jual juga minyak zaitun dan madu asli dengan kualitas terbaik di Bursa.  Kami hanya membeli sekotak lokomu karena kami kurang suka manis, sebotol kecil madu untuk menjaga  stamina dan bendera Turki untuk menambah koleksi saya. Sebetulnya bendera itu tidak di jual tapi saya meminta untuk  membelinya dan si pelayan mau menjual bendera setelah meminta ijin kepada bosnya dan kami setuju akan harganya.

Di perjalanan berikutnya Nilai juga memberikan kami beberapa informasi tentang budaya di Turki. Mulai dari kopi turki dan makanan khas sampai dengan mitos yang ada di itu Mata Biru yang dipercaya sebagai simbol pembawa berkah. kami berhenti sejenak di sebuah rest area, diberikan waktu 15 menit untuk mereka yang ingin ke toilet. Berhubung toiletnya berada didalam sebuah swalayan maka spontan kami serombongan ikut turun tidak sekedar ke toilet tapi juga berbelanja. Saya pun ikut serta berbelanja.  Karena waktu yang sempit saya hanya membeli sekotak kecil Lokumo dan beberapa gantungan kunci dan gelang dengan simbol Mata biru seharga 3 Lr. Saya melihat si pelayan dan bosnya kewalahan melayani kami karena kami semua bergegas dan terburu-buru dalam membeli barang-barangnya.

Kami melanjutkan perjalanan  ke kota, dan sepanjang jalan kami melihat banyak sekali pohon zaitun yang tertutup salju. Pa Mehmet menurunkan kami ditengah jalan yang tebal saljunya sehingga kaki kami amblas ketika turun dari bis. Kami bermain salju disitu sebentar dan berfoto bersama. Baru kali itu  saya dan suami memegang salju, walau dingin kami saling melempar bola salju seperti di film –film romantis.

Dari bermain salju kami lanjut ke sebuah cafe bernama Apollo di kota Istanbul untuk makan siang. Menuju ke cafe, Nilai guide kami menunjukkan kami  penjual roti  ismit di pinggir jalan dan menerangkan bahwa orang Turki biasa memakan roti itu di sore hari. Karena penasaran saya dan suami membeli sepotong roti Ismit yang cukup besar untuk berdua. Tekstur roti yang padat seperti adonan pretzel . Ketika kami berdua makan teman-teman juga ikut mencicipi roti itu. Rasanya enak dan wangi wijennya menambah selera. Untung kami berbagi sehingga tidak terlalu kenyang perut. Sampai di cafe kami lihat hidangan disajikan prasmanan dengan beraneka macam rupa. Saya ambil beberapa sendok nasi, macam salad ,  daging asap yang dicampur mayonaise dan roti beraneka rasa. Sayuran yang disajikan khas selalu dicampur minyak zaitun.

Setelah makan siang kami lanjut ke istana Topkapi. Sepanjang jalan menuju istana Topkapi kami mengagumi benteng-benteng konstantinopel tinggi sepanjang selat Bhosporus. Istana mewah yang berubah fungsi menjadi museum yang menyimpan banyak koleksi kejayaan Islam  ini merupakan istana bagi raja-raja penguasa Turki diabad kejayaan pada awalnya. Didalam museum saya melihat banyak koleksi barang-barang bersejarah. Saya senang melihat koleksi-koleksi senjata para rasul, sahabat nabi  , prajurit pahlawan penyebar agama Islam dan para kerabat terdekat. Beberapa barang koleksi yang saya lihat didalam baju jazirah yang masih lengkap dengan helm dan baju besi, tameng, palu gada, panah, pedang, senapan antik , berjenis-jenis jam antik, pakaian,  kaligrafi, kunci kabah dan juga Al quran .   Dari semua koleksi yang membuat saya takjub  adalah pedang Rasul, tongkat nabi Musa as dan baju siti Fatimah yang masih utuh.

Berdekatan dengan Topkapi ada museum lain yang megah dan terkenal Agung dengan menara-menara yang tinggi menjulang yaitu museum Hagia Sofia. Bangunan itu dulunya merupakan gereja  lalu berubah menjadi mesjid di masa kejayaan Utsmaniyah,  sekarang berubah fungsi  menjadi museum. Namun sayang  di hari senin Hagia sofia tutup maka kami tidak bisa mengunjunginya. Kami cukup mengagumi keindahan Hagia Sofia dari luar dengan berfoto berlatar bangunan Byzantium itu.

Kami Sholat Dzuhur di mesjid biru atau the Blue Mosque. Letak mesjid tersebut dekat dari Hagia Sofia. Mesjidnya sangat besar dan juga megah. Sebetulnya mesjid tersebut terbuat dari batu marmer putih namun nampak biru yang konon itu merupakan pantulan warna biru dari air laut  Marmara yang melintasi selat Bhosporus. Saya berwudhu walau menahan dingin udaranya dan lalu sholat didalam masjid tersebut. Takjub dan haru selalu menyertai waktu berdoa saya selesai sholat. Kembali selalu bersyukur atas segala nikmat yang saya rasakan.

Setelah sholat kami berkumpul didepan mesjid biru berfoto dan menikmati jagung rebus dan roti Ismit yang diolesi nutella bersama-sama sambil menunggu bis kami datang. Saya bertanya kepada Nilai bagaimana cara mengucapkan terima kasih dan juga mengatakan maaf dalam bahasa Turki sambil menunggu pa Mehmet datang. Dari situ saya tahu “Tesekkuler” mengucap terima kasih dan “Uzqunum” Meminta maaf. Saya merasa butuh untuk mengetahui itu karena saya sering bertemu orang-orang turki yang baik dan ramah lagi pula tujuan kami selanjutnya adalah pasar di Turki jadi akan banyak terjadi komunikasi ketika terjadi transaksi jual beli. Dua kata itu akan mewakili keramahan saya sebagai orang Indonesia di mata orang Turki.

Awalnya kami akan mengunjungi Grand Bazaar namun atas persetujuan bersama kami memutuskan untuk mengunjungi Spicy Market karena menurut teman kami yang pernah kesana, harga barang-barang di sana lebih murah dari pada di Grand Bazaar. Maka pa Mehmed mengantar kami kesana.

Hari mulai sore menjelang magrib. Pasar tutup jam 7 maka kami hanya punya waktu sekitar 1 jam untuk berbelanja. Diluar gerbang Spicy market berdiri beberapa serdadu gagah dengan pakaian bebas dan  dengan senapan laras berjaga-jaga karena waktu itu sedang ramai peristiwa penembakan sehingga setelah jam 7 keamanan di perketat. Kami masuk kedalam pasar tersebut dan menikmati waktu belanja kami. Harga barang-barang disana memang lebih murah, untuk gelang mata biru yang sama saya beli di rest area,saya beli dengan harga hanya 1 Lr. Saya beli lagi beberapa souvenir, kaos dan sebuah pasmina lagi untuk saya pakai menahan angin malam yang dingin. Tak lupa selalu saya ucapkan “Tesekkuler” selesai berbelanja dan saya lihat mereka senang sekali dan merespon dengan kata yang sama ” Tesekkuler”.

Keluar dari pasar keadaan sudah mulai gelap dan tak lama toko-tokonya pun tutup dengan cepat sekali. Saya lihat serdadu-serdadu bertambah banyak dan berpakaian komplit pula dan siap memegang senapannya  kembali berjaga-jaga di sekitar pasar yang hampir tutup semua. Kami semua berkumpul di depan pasar menunggu bis kami datang. Nilai berulang kali menelpon pa Mehmed dan tak lama  kemudian bis putih pa Mehmet datang menjemput kami semua.

Pa Mehmet langsung mengantar kami semua ke sebuah restauran kebab di tengah kota dan disitulah kami semua makan malam dengan menu yang sama yaitu kebab Turki. Reseptionis restoran menyambut kedatangan kami dengan ramah. Sebelum menyantap kebab kami semua diberi irisan buah apel dan jeruk, soup dan roti lalu, berbeda dengan kebab Turki yang selama ini saya makan di kota kami, kebab Turki disana tidak dibungkus oleh roti namun kebab disajikan dipiring berupa lipatan daging kebab yang digulung dan disajikan dengan nasi,  kentang  berbumbu yang di hancurkan dan sayuran.  Kami semua menikmati makan malam kami di restoran itu.

Setelah makan malam kami langsung diantar ke hotel Titanic. Sekali lagi kami merasakan pelayanan dan fasilitas hotel bintang lima. Kami langsung menuju ke kamar masing-masing dan beristirahat kerena besok hari kami kembali akan menikmat kota Istanbul  dan langsung menuju bandara untuk persiapan pulang ke tanah air.

Day 3.

Pagi hari jam 06.00 kami sudah bersiap sarapan dan siap menikmati kota Istanbul. Dari hotel kami mengunjungi sebuah butik lokal yang terkenal akan desain jaket yang bergaya dan berkualitas. Kami di beri suguhan teh hangat sebelum menyaksikan peragaan busana. Kami menyaksikan peragaan jaket-jaket musim dingin yang semuanya terbuat dari kulit domba Turki yang Halus dan ringan. Baru kali ini saya menyaksikan peragaan busana langsung. Para modelnya cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Beberapa teman di rombongan juga ada yang diajak untuk menjadi model. Itu merupakan hiburan tersendiri dan berkesan. Kalau ada jaket yang sesuai dengan selera, maka kita boleh mencatat nomor jaket yang ada tergantung ketika di peragakan diatas cat walk.

Ada beberapa jaket yang saya taksir. Saya pikir kalau harganya sekitar US$100-200 saya mau beli karena saya suka dengan detail dan warna jaket tersebut. Setelah selesai peragaan busana saya katakan niat itu ke suami dan dia menyetujuinya. langsung kami mencari-cari jaket nomer 303 yang saya suka. Namun Innalillahi ternyata jaket yang saya suka harganya diatas US$1000. Jaket-jaket lainnya pun harganya sama, mahal semua. Beberapa teman kami yang berduit ada yang membeli jaket-jaket tersebut. Wow …bahkan ada jaket yang seharga dengan biaya umroh backpacker kami. Karena tidak ada jaket seharga uang saya yang tersisa akhirnya saya turun gedung dan di lantai bawah ternyata banyak jaket dan tas dengan harga sale namun tetap mahal. Saya keluar gedung dengan penuh keheranan akan harga-harga Jaket tersebut. Salah satu teman saya dari Garut pernah menawarkan sebuah tas kulit seharga 400 ribu yang saya anggap masih mahal, disitu harganya bisa 10 x lipat lebih mahal. Masyaallah  mahal sekali jaket-jaket kulit itu.

Dari Butik kami diantar pa Mehmet ke kapal pesiar yang bersiap mengantarkan kami keliling dan menyusuri selat Bhosporus. Kami sebrangi jembatan Al Fatih, kami lewati Tanduk Emas,  kami susuri benteng-benteng peninggalan abad kejayaan dan kami kagumi pemandangan spektakular kota Istanbul yang unik dan romantis. Segala sudut kota cantik dan bersih.

Kapal pesiar yang kami naiki adalah milik Gamze pemilik travel. Kami tak kuasa menahan gembira menikmati keindahan pemandangan sekitar jetty yang cantik dan bersih romantis sekali. Sebelum pesiar kami berfoto-foto dan di dek kapal. Bendera Turki yang berkibar-kibar menjadi latar foto yang paling diminati kami semua. Rasa nasionalisme bangsa Turki sangat kental dengan berkibarnya banyak bendera itu disetiap sudut kota, gedung, pertokoan, rumah dan kapal pesiar. Setelah puas berfoto diluar kapal sambil menahan dinginya angin laut, kami kedalam kapal yang berada di bawah. Kami saling berbincang mengagumi keindahan dan keramahan Turki sambil menikmati teh hangat yang ditawarkan pelayan kapal. Sebagian dari kami menikmati kopi khas Turki. Tak lupa kami juga berfoto didalam dek kapal pemandangan pesisir yang indah tampak jelas terlihat dari jendela kapal.

Pesiar selama kurang lebih 1 jam setengah tak terasa berakhir di kala terasa akan merindukan saat-saat ini kelak karena hari itu merupakan hari terakhir kami menikmati Turki. Sedih rasanya meninggalkan tempat itu terlalu singkat. Seharusnya kami masih punya satu hari lagi untuk menikmati Turki namun terjadi perubahan jadwal berdasarkan pertimbangan cuaca. Beberapa teman dari rombongan menambah tinggal disana sehingga mereka tidak bareng pulangnya dengan kami. Sempat terpikir untuk ikut extend namun rasa rindu kepada anak-anak dan tanah air tidak sebanding nilainya dengan itu, belum lagi lelah dan waktu yang mepet menjelang habis liburan panjang. Saya rasa anak-anak kami juga berhak menghabiskan waktu dimasa liburan bersama kami orang tuanya.  Pa Mehmet mengantar mereka yang tidak ikut serta pulang di Spicy market.  Kami berpisah saling melambaikan tangan dan mengucap salam.

Dingin -1 derajat celsius kembali saya rasakan di airport. Namun kali ini saya tidak mengigil malah tertarik untuk menikmatinya. Sebelum turun bus saya tinggalkan buah pome dan beberapa jeruk mandarin di kursi bus untuk pa Mehmed yang sudah dengan berbaik hati menghantar kami. Peluk dan salam hangat untuk Nilai, gadis baik, cantik dan pintar yang selalu mendampingi kami,  kesan yang baik meninggalkan rasa dingin itu dengan menyelimuti hangatnya keramahan Turki yang tertinggal di benak saya.

 

My Day to Day Umroh Backpacker part 2

Hari kelima

Dihari kelima saya dan bu Winda berniat untuk kembali ke Raudhah namun atas saran tour leader kami ustadz Fikri dan pa Fauzan kami urungkan niat walaupun terasa sedih tidak bisa ke Raudhah lagi dan meninggalkan masjid Nabawi yang megah. Setelah sholat shubuh saya isi botol air saya dengan air zam-zam untuk perbekalan minum di bus. Panitia menyiapkan air mineral untuk jamaah namun rasanya tidak afdhol kalau tidak minum zam-zam. kami kembali ke hotel untuk persiapan berangkat mengambil miqot di Bir Ali dan menuju Mekah untuk melakukan Umroh. Dari hotel kami semua sudah mandi dan bersiap cantik polos memakai pakaian serba putih dan para laki-laki sudah gagah memakai kain ihram.

miqot-bir-aliSepanjang jalan di bus saya dan suami kembali membaca buku panduan berumroh kami saling berpandangan dan berharap umroh kami bisa lengkap. Setiap saat saya ingat saya meminta maaf selalu atas kesalahan-kesalahan yang pernah saya buat kepadanya. Tak lupa kami berdua senantiasa berzikir dan berdoa memohon kelancaran dan keselamatan untuk perjalanan umroh kami. Pemandangan sepanjang jalan menuju Mekah sungguh menakjubkan, sepanjang jalan saya lihat  gunung-gunung batu menjulang. Saya merasa seperti berada dia planet lain, buka planet bumi.

Setiba di miqot Bir Ali kita semua turun dan bersiap kembali membersihkan diri atau sekedar berwudhu dan sholat sunat 2 rakaat. Kami kumpul kembali sejenak untuk berfoto bersama dan sebelum melanjutkan perjalanan, kami kembali bersama-sama berniat Umroh “Labaika llahumma Umrotan” dan sebanyak-banyaknya membaca Talbiyah “Labbaikallahumma Labbaik, Labbaika Laa syarikalaka labbaik. Innal Hamda wan ni’mata laka walmulka laa syarika laka”. Setelah itu kami kembali menuju bus masing-masing untuk melanjutkan perjalanan ke Mekah.

Sungguh semangat berumroh kami rasakan sepanjang jalan kami semua terus bertalbiyah dan berzikir. Sampai tiba di malam hari kami di kota Mekah di tanah Haram. Perjalanan bus sekitar 6 jam tidak terasa ketika dari jauh jam raksasa Mekah sudah terlihat begitu menjulang tinggi sebagai patokan betapa sudah dekatnya kami ke Masjidil Haram ke Baitullah.

Bangunan fisik Hotel kami di Mekah tidak sebagus hotel di Madinah namun itu bukan sesuatu yang dapat menurunkan semangat kami beribadah. Setelah turun bus kami langsung menuju kamar masing-masing sekedar untuk menaruh koper dan kembali ke lobbi untuk lanjut ke Masjidil Haram berumroh.  Bagusnya dari kamar saya  dan kedua teman saya bu Erli dari Jakarta dan Bu Nur dari Madura adalah jendelanya yang langsung menghadap jalanan besar yang kanan kirinya banyak toko dan merupakan jalan utama menuju Masjidil haram. Jadi dari jendela kami jelas terlihat jamaah yang lalu lalang ke Masjidil Haram dan juga pemandangan orang-orang berjual beli dari jendela itu.

Suami saya sudah siap menyiapkan ekor kain ihram untuk dapat saya pegang ketika berumroh. Kami berjalan sekitar 700 meter malam itu menuju Masjidil Haram bersama-sama. Sampai di Masjidil Haram, kami masuk dari gerbang 88. Kami langsung mengambil wudhu untuk bersiap sholat Isya. Setelah sholat selesai kami mulai proses Umroh di pandu oleh Mutowif yang berpengalaman. Kami turun ke lantai dasar dan di situlah saya lihat Kabah yang begitu sederhana namun dasyat daya tariknya sehingga menjadi pusat ibadah umroh kami. Dengan spontan kami semua mengagungkan nama Allah.

Proses umroh kami diawali dengan tawaf mengelilingi Kabah sebanyak 7 kali putaran yang dimulai dari Rukun Hajar Aswad. Di tandai oleh lampu hijau dimana kami memulai putaran tawaf, kami miringkan badan kami ke kiri sambil mengangkat tangan sambil memulai membaca doa-doa yang sudah kami pelajari di buku panduan manasik Haji dan Umroh. Tak terasa putaran demi putaran kami lalui bersama dan tak terasa pula air mata ini selalu menetes mengucap syukur, merasa kagum, takjub dan berbahagia akan satu tahap proses umroh yang kami jalani dengan lancar.

Setelah tawaf selesai kami sholat 2 rakaat di belakang Maqam Ibrahim  dan lanjut menuju Ma’sa untuk lanjut melaksanakan Sa’i yaitu perjalanan sebanyak 7 kali bolak balik diantara bukit Safa dan Marwah. Tak lepas saya pegangi ekor Ihram suami walau terasa lelah namun lebih terasa besar semangatnya untuk menyelesaikan ibadah Umroh ini. Ibadah ini betul-betul merupakan ibadah fisik dan saya bersyukur bahwa kami masih sanggup melaksanakannya jika di banding para jemaah yang sudah tua bahkan renta terengah-engah, mereka beribadah didorong kursi roda atau di papah sanak saudaranya. Doa sa’i kami ucapkan dari awal di bukit safa sampai berakhir di bukit Marwa.

Selesai Sa’i kami berkumpul saling bergantian melaksanakan Tahallul yaitu mengunting rambut sebagai tanda pembebasan seseorang dari larangan Ihram. Saya dan suami rupanya yang paling terakhir menyelesaikan Sa’i. Tak terasa sudah jam 2 dini hari kami semua kelelahan namun kami tetap berada di Masjidil Haram untuk menunggu sampai sholat Subuh.

Hari keenam

Selesai sholat subuh kami semua kembali ke hotel. Sepanjang perjalanan hotel kami melihat sederet tukang bersih-bersih yang menunggu sedekah dan kebaikan para jemaah yang ingin berbagi rejeki. Saya dan suami sudah menyiapkan beberapa lembar uang 1 Real an untuk dibagikan sebagai tanda berbagi kebahagian kami yang sudah dapat sampai ke tanah Haram ini.

Kami bersyukur walaupun di hotel ini fasilitas nya kurang bagus namun makanan yang disajikan pihak katering hotel sangat nikmat karena semua sajiannya merupakan hidangan khas Indonesia. Kami mengobrol dengan para pekerja kateringnya yang merupakan orang Indonesia dari Madura. Bagi saya mereka juga pahlawan-pahlawan bangsa yang sudah berjuang meningkatkan kesejahteraan keluarga dan pendapatan negara. Saya salut mereka orang-orang yang berani meninggalkan tanah air dan menahan rindu berada jauh dari kampung halaman dan keluarga tercinta. Kami berkenalan dan saling berbagi cerita. Salah satu pegawai yang ramah bernama mas Hidayat dan yang lain yang juga ramah bernama mas……saya lupa namanya karena namanya agak unik tampangnya galak tapi baik hati orangnya. Dia senang kepada saya karena kalau habis makan saya selalu membantu mereka membawakan piring-piring kotor ke dapur.

Setelah sholat Dzuhur, sesuai jadwal kami akan diajak keliling kota Mekah ke peternakan onta, ke museum Masjidil Haram dan ke miqot  di Hudaibiyah. Namun bukan rejeki saya dan suami beserta dua orang teman serombongan ibu Ani dan Ibu Wiwi yang tidak bisa ikut karena kurang cepat menuju lobi. Kami berempat ketinggalan bus yang akan membawa kami kesana. Kami sudah berusaha mengejar bus namun tidak terkejar karena busnya hampir ditilang polisi setempat, sopir bus meninggalkan kami. Kami berusaha mengejar namun urung karena lalu lintas cukup macet dan sopir taksi yang kami tanya tidak mengerti alamat museun Masjidil Haram. Akhirnya kami berempat menikmati waktu keliling pasar dan berbelanja.

Hari ketujuh

Dini hari kami terbangun, setelah mencuci baju dan mandi saya dan bu Erli menuju masjidil Haram untuk kembali tawaf. Tawaf kami akhiri dengan sholat di Hijr Ismail. Kami juga sempat menyentuh kiswah, Alhamdulillah dan setelahnya menangis mengucap syukur atas segala kemudahan dalam beribadah. Kami lanjut menunggu sholat subuh dan baru kembali kehotel setelah sholat.

Setelah sarapan kami kembali diajak keliling berziarah ke beberapa tempat seperti Jabal Tsur, Arafah, Musdalifah, Mina, Jabal Nur, Jabal Rahmah dan Jaronah. Bagi yang ingin mengumrohkan bisa mengambil miqot lagi diJaronah. Kali ini semua jamaah tidak ada yang ketinggalan. Saya sudah diwanti-wanti suami agar bergegas kumpul di lobi jika tidak ingin ketinggalan lagi.

jabalrahmah

Jabal Rahmah

Yang paling berkesan adalah ketika kami berada di Jabal Rahmah. Saya dan suami berdoa menghadap kiblat, khusuk berdua kami berdoa meminta segala yang terbaik dan yang utama supaya kehidupan berkeluarga kami bisa damai, langgeng dan harmonis sampai kami tua. Kami berfoto berdua bergantian dengan pasangan yang lain dari rombongan. Romatis sekali rasanya kami bergandengan tangan mendaki puncak Jabal Rohmah, rasanya seperti ledakan rindu dipertemukan lagi layaknya nabi Adam dan siti Hawa yang baru bertemu di tempat itu setelah sekian lama berpisah.

Hari kedelapan

Rombongan terbagi dua pada hari ini sebagian dari rombongan pergi ke Thaif untuk menikmati keindahan alam disana. Thaif merupakan salah satu daerah yang paling subur disana. Kami tidak ikut rombongan itu karena untuk ke Thaif dikenakan biaya lagi yang lumayan besar bagi kami. Saya dan suami memilih untuk berwisata kuliner menikmati makanan khas Arab.

Kami sengaja membeli makanan disalah satu kios makanan cepat tepat di depan gerbang 88 Masjidil Haram karena tiap kali kami pulang dan pergi sholat di Masjidil Haram, kios makan itu selalu penuh pembeli. Awalnya kami ingin sekali membeli Al Baik yang merupakan ayam goreng cepat saji yang terdiri dari 4 potong ayam goreng tepung yang hidangkan bersama kentang goreng, roti 2 bongkah, saos tomat dan mayonaise seharga 13 real cukup untuk kami berdua makan. Namun kami bosan dan ingin mencoba menu lain jadi kami berdua memilih membeli Kobtha. Semacam sawarna namun berisi daging  yang tebal seperti patty namun berbentuk persegi panjang. Kami juga mencoba martabak telur ala arab, martabak mereka lebih tebal kulitnya dibanding martabak ala Indonesia yang renyah karena tipis kulitnya. Untuk minumnya kami beli juice buah campur yang segar.

Hari kesembilan

Di hari Jumat di kota Mekah terlihat lebih ramai dari hari biasanya, kegiatan berdagang dan belanja lebih ramai. Banyak penjual jalanan yang biasanya tergesa-gesa sambil waspada berjualannya kalau tidak bisa ditangkap polisi setempat  tapi pada hari jumat  para penjual yang banyak terdiri wanita-wanita kulit hitam lebih santai berdagang di pinggir jalana. Dagangan mereka murah meriah mulai dari pacar arab, pashmina, tasbih, siwak, gamis India, gamis Arab, bahkan jam tangan. Saya sempat beli jam tangan seharga 5 Real yang di toko saya lihat harganya 10 Real sepulang sholat subuh.

Saya sempat tidak sengaja mengambil foto latar belakang keramaian pasar namun tiba-tiba seorang penjual terlihat marah dan spontan menutupi mukanya dengan  gamis dagangannya. Dia pikir saya sengaja memotonya. Saya cukup mengelengkan kepala dan menunjuk kearah keramaian sehingga dia tidak jadi marah. Untung Allah memberikan kesempurnaan tubuh saya, dimana bahasa kita berbeda namun bahasa tubuh cukup membantu satu sama lain untuk mengerti.

didepan kios-kios makanan penuh orang mengantri makanan yang disedekahkan bagi para jamaah yang membutuhkan. Karena banyak pula para jemaah yang tidak cukup bekalnya. Saya melihat jemaah yang banyak mengantri itu berasal dari negara-negara miskin. Nikmat berbagi lebih sering saya rasakan di Mekah. Selesai sholat banyak jamaah yang baik hati bersedekah kurma, biskuit, jus, permen bahkan tisu. Sering kali saya menginginkan sesuatu saya dapatkan selesai sholat di masjidil Haram. Misalnya saya merasa lapar dan ingin ngemil yang manis-manis, tiba-tiba saja seseorang dari belakang menyodorkan kismis manis dan legit. Ketika saya duduk di pinggiran hotel Hilton, saya tak sengaja memperhatikan anak-anak yang sedang membagikan kurma tiba-tiba mereka mendekati saya dan memberi saya kurma tersebut sambil berebutan memberi saya kurma. Sejak kecil mereka sudah belajar bersedekah.

Adapula hal lucu ketika saya berdiri di depan hotel sambil WA an dengan anak saya, seseorang laki-laki lokal disebelah saya dengan lahap makan biskuit yang ia dapat sekantong besar. Setelah selesai makan, ia membuang sampah sembarangan ke depan jalan dan lanjut memakan kue yang lain. Karena sebal melihat tingkahnya membuang sampah sembarangan saya spontan jengkel dan bergerutu kepadanya dalam bahasa sunda. Saya membelakanginya karena sebal namun tak lama dia malah menarik lengan baju saya dan ketika saya membalikkan badan dia malah memberi saya sekantung penuh berisi biskuit, kurma dan minuman dan langsung berjalan meninggalkan saya. Ya ampun, orang yang saya sebal malah memberi saya banyak makanan.

Ketika saya bertemu suami sepulang sholat Jumat saya ceritakan kejadian itu dan saya serahkan kantung itu kepadanya. Saya tidak terbiasa menerima makanan dari orang asing tapi suami saya malah senang saja membuka makanan-makanan tersebut dan menikmatinya. Akhirnya saya juga ikut menikmatinya bahkan kami  simpan sebagian untuk esok harinya.

Setelah sholat siang itu kami sengaja membeli jaket yang tebal untuk suami saya karena dikabarkan di Turki cuacanya ekstrim dingin sekali bahkan bersalju. Kami sudah bersiap memakai long john yang tebal untuk mengatasi hawa dingin namun jaket suami saya tidak begitu tebal, sedangkan saya sudah beli sudah merupakan jaket winter yang cukup tebal dan hangat. Jaket yang agak tipis dia hibahkan ke pegawai katering di hotel yang baik hati.

Jelang sholat Magrib  kami kembali tawaf dan setelah selesai suami saya mengajak sholat di lantai paling atas. Dia bilang pemandangannya Indah dan dapat view foto yang bagus dengan latar belakang hotel al Haram dengan ikon jam raksasanya. Ternyata betul apa yang suami saya katakan kami berfoto-foto setelah sholat Isya dan sambil menunggu jalan keluar masjid lenggang.

haram

hotel Al Haram mudah diambil di rooftop Masjidil Haram

Hari ke sepuluh.

Saya sudah bersiap-siap packing pagi hari itu, dihari terakhir di Mekah kami perbanyak ibadah. Saya sempatkan tawaf berkali-kali dengan bu Erli dan bu Nur. Dan setiap sholat berusaha datang lebih awal supaya kami dapat sholat tepat di depan Kabah.

Siang hari setelah sholat Ashar kami diajak berkeliling ke rumah Rasul. Untuk menuju ke rumah Rasul kita berjalan agak kebelakang melewati belakang Istana raja Salman. Istana yang saya lihat tidak seperti istana istana layaknya seperti yang saya tahu sebelumnya. Istana sederhana seperti gedung perkantoran bertingkat namun terlihat jelas sistim keamanan yang hebat. Entah dalam istananya saya bertanya-tanya sepanjang jalan.

Rumah rasul bentuknya sederhana dan setelah di renovasi rumah tersebut sekarang dijadikan perpustakaan. Di samping belakang rumah tersebut terdapat sumur zam-zam. Kami memang sengaja membawa botol minum yang kosong untuk diisi zam-zam yang langsung dari sumurnya. Bahkan salah satu teman kami sengaja membeli jirigen untuk itu. Segarnya meneguk zam-zam di tengah terik matahari.

Pulangnya kami langsung kembali ke Masjidil Haram berfoto depan Kabah dan menunggu sholat Magrib. Tak lupa saya mencari posisi sholat yang dapat langsung menghadap Kabah. Senang sekali mendapat posisi yang bikin takjub, ketika sholat biasa kabah hanya dalam bentuk gambar diatas sajadah saja.

Malamnya setelah sholat Isya kami sengaja berlama-lama membaca Al Quran, berdoa, dan berdzikir didalam masjidil Haram karena esok dini hari kami akan meninggalkan kota Mekah menuju Turki. Belum kami meninggalkan kota Mekah sudah terasa sedihnya meninggalkan tanah suci ini. Saya berdoa kelak nanti kami dimampukan lagi untuk kembali berkunjung ke Baitullah. Aamiin.