RSS Feed

Lost and Found di Bangkok

Tidak pernah terpikir olehku bahwa aku akan melakukan hal yang paling ceroboh yang terjadi di negara orang. Yaitu menjatuhkan dompet tanpa sadar yang berisi uang dan beberapa kartu berharga tanpa ada informasi nomor telepon atau alamat terakhirku.

Kejadian itu terjadi di hari kedua ketibaanku di Bangkok, Thailand. Dihari  itu setelah aku membawa teman-teman menikmati sebagian tempat wisata di daerah ini, memang terasa sibuk aku beraktifitas. Dipagi hari sekali aku pergi sendiri kedaerah Phra Athit pier. Gelapnya pagi itu tidak membuat aku takut. Sudah sejak pertama aku ke sana aku dapat merasakan kebaikan orang-orang disana.

Ketika aku melihat sebuah toko souvenir di mulut gang atau yang di sebut soi sudah buka di jam 6 pagi itu, tiba-tiba aku jadi belanja oleh-oleh yang dipesan ibuku.  Aku beli tas khas motif sulam gajah thailand, sebungkus thai tea, beberapa pernak pernik motif gajah dan aku tambahkan 3 kemeja putih motif gajah pula untuk suami dan anak-anakku. Tanpa berpikir bahwa mungkin aku bisa lebih berhemat bila belanja di tempat khusus souvenir yang lain yang aku tahu. Aku hanya berpikir mungkin nanti aku akan sangat sibuk menemani teman-temanku menikmati kota ini. Aku juga membeli sesisir pisang  seharga 20 bath untuk menambah sarapan kami. Setelah belanja aku kembali berjalan ke hotel Nacorn tempat kita menginap.

Setelah kami semua sarapan, aku pandu teman-teman untuk mulai berwisata ke Wat Niwen Bowot, lalu ke benteng Phra Sumen dan ke Chanti Park yaitu taman yang terletak di samping benteng itu. Kita semua senang menikmati keindahan pemandangan sudut kota itu. Kita juga menikmati pemandangan sungai Chao Phraya yang membelah kota Bangkok dengan latar belakang jembatan Rama yang tiangnya tinggi menjulang. Kita mengabadikannya dengan berfoto ria disana. Setelah puas berfoto, kita melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Phra Athit untuk naik boat berbendera oranye menuju Wat Arun.

Kegiatan di Wat Arun cukup menyita waktu karena teman-teman banyak menghabiskan waktunya berfoto memakai baju khas thailand dan juga berbelanja bermacam souvenir khas Thailand. Sehingga yang awalnya kita akan lanjut wisata ke Wat Pho menjadi urung karena tidak memungkinkan bagi mereka berwisata sambil membawa banyak belanjaanny. Adapula urusan perut yang sudah menagih nasi karena sarapan di hotel hanya sebatas roti, cereal dan susu. Akhirnya kita kembali ke Phra Athit dan makan siang di sebuah restoran halal di seberang benteng Phra Sumen yang bernama Karim Roti Mataba.

Selesai makan, seorang teman di pijit ala thai karena ia sangat kelelahan, dan yang lainnya kembali berjalan ke hotel. Sementara aku dan seorang teman membawa semua belanjaan kami ke hotel dengan menggunakan tuk-tuk. Aku tidak merekomendasikan teman-teman lain untuk naik tuk-tuk Karena mereka belum hapal jalan, akhirnya mereka memilih untuk berjalan kaki. selain dari pada itu, tuk-tuk  cenderung lebih mahal dan rata-rata dari pengendara tuk-tuk semua sangat ngebut. Temanku yang ikut naik tuk-tuk pun merasa seperti terbang ketika naik kendaraan khas Thailand itu.

Setiba di hotel kami berdua tidak tahan menahan ketawa karena belanjaan kami sungguh amat banyak. Kami istirahat sejenak dan tak lama aku kembali ke tempat pijat untuk menjemput temankku yang sedang dipijat. Aku memesan grab bike agar dapat lebih cepat  menjemputnya dan dari naik itu aku mengetahui bahwa hotel kami sangat dekat jaraknya ke Khaosan Road yaitu daerah wisata yang ramai di malam hari.

bkk15Setiba di tempat pijit rupanya temanku masih menikmati pijitan dan masih tersisa 20 menit. Aku akhirnya ikut dipijit selama 30 menit. Aku memang ingin dipijit ala thai, karena sudah lama juga aku ingin dipijit kaki. Setelah selesai aku dan dia kembali ke hotel dengan menggunakan taksi. Dan tak lama sampai hotel aku minta teman-teman yang akan menikmati hiburan ladyboy  cabaret di Golden Dome untuk segera bersiap sementara aku dan teman lainnya yang tidak ikut nonton bersiap ke Khaosan Road. Setelah capai menikmati daerah itu, aku dan teman-teman kembali makan malam di restoran tadi siang. Selesai  teman-teman makan, aku memesan sebagian untukku dan teman-teman lain untuk take away  dan lalu kita kembali ke hotel.

Sampai dihotel, kita bergantian sholat dan saling berbagi cerita sambil menunggu teman lain yang belum datang. Aku berniat  mengajak mereka ke Khaosan Road namun itu tidak terjadi karena aku tersadar bahwa dompetku tidak ada di tasku,  di tempat seharusnya. Sungguh terasa aneh karena aku tidak ingat telah menjatuhkannya. Aku ke lobby hotel dan menceritakannya ke Mark. Dia adalah petugas hotel yang sangat baik. Dia menyarankan aku untuk melaporkan hal itu kekantor polisi terdekat di daerah Chanasongkhram. Karena melihat kebingunganku, dia meminta petugas hotel lain untuk mengantarkan aku kesana.

Sepertinya petugas  itu bernama Thew. Itu yang telingaku tangkap ketika aku menanyakan namanya. Dia tidak berbahasa Inggris dengan baik, tidak seperti Mark. Jadi percakapan kita selalu singkat dan  penuh senyum saja. Dia mengantarkan aku dengan motor bebeknya ke restoran terlebih dahulu, setelah tidak ada hasil baru kita ke kantor polisi. Aku berdoa dan memohon dalam hati agar urusanku ini dapat berjalan dengan lancar.

Sesampainya di kantor polisi, aku di layani dengan baik oleh seorang polisi turis bernama Mr. Winga tapi dia memintaku untuk memanggilnya dengan nama Leutenant Peter. Ketika ia tahu aku dari Indonesia, dengan seriusnya ia menyanyikan lagu “Rasa Sayange” sehingga ku jadi tersenyum mendengarnya. Dia berbahasa Inggris dengan baik. Asistennya pun dengan ramah menegurku dengan bahasa Indonesia “selamat malam” katanya. Semua baik kepadaku. Ketika aku serius menanggapi semua interogasi, Mr. Peter selalu menyisipi lirik lagu “Rasa Sayange” di sela-sela interogasi. Sehingga aku jadi tersenyum lagi dan lagi. Aku di pandu untuk  mencatat kronologi kejadian kehilangan itu.

Mr. Winga memperlihatkan aku beberapa dompet yang ditemukan yang dikumpulkan di sebuah kotak lost and found di situ tapi tidak ada dompetku di situ. Setelah selesai aku berterima kasih kepadanya. Dia memintaku untuk bersabar dan berterima kasih juga kepada atasannya. Aku haturkan terima kasih kepada atasan Mr. Peter dan lalu dihantar keluar menunggu Thew menjemputku. Dan tak lama, Thew menjemputku dan menghantarku kembali ke hotel. Aku memberi sedikit uang kepadanya, tapi dia menolaknya. Dia sungguh tulus membantuku.

Sampai di hotel aku jelaskan musibah kepada semua teman-teman.  Mereka semua ikut bersedih atas kehilangannku.  Walau dalam hal keuangan aku masih bisa mengurusi semua kegiatan mereka karena aku membagi dua tempat aku menempatkan uangku. Tapi tetap saja namanya kehilangan membuatku sedih. Beberapa dari mereka bahkan rela memberiku pinjaman. Aku terima niat baiknya, tapi aku tunda karena  aku yakin dompetku bisa ketemu. Dari beberapa sumber yang aku baca, Bangkok adalah kota yang ramah turis, karena kenyamanan dari kebaikan orang-orang Thailand di Bangkok yang percaya akan karma. Itu yang menyakinkanku.

Setelah sholat aku coba tidur agar kesehatanku tidak terganggu. Namun aku terbangun di jam 3 pagi hari dan tidak bisa tidur kembali walaupun sudah sholat tahajud beberapa rakaat. Aku berpikir untuk mencari informasi sekitar kehilangan di kota ini. Aku akhirnya menemukan informasi di beberapa blog turis yang mengalami kehilangan seperti aku. salah satunya aku baca di http://www.thaivisa.com.  ada tulisan dari Thanyaburi Mac yang menyarankan pembaca untuk menelpon no 1137 atau 02-1137 yaitu nomer telepon radio lokal yang biasa mengumumkan kehilangan.

Tak sabar rasanya ingin bertemu Mark untuk meminta bantuannya menelepon ke kedua no tersebut.  Aku sudah coba menelponnya namun karena kendala bahasa aku tidak dapat  berkomunikasi dengan lancar.  Aku meminta Mink, petugas hotel yang menyiapkan sarapan kami untuk menelpon Mark. Namun sayang dia tidak datang karena dia ada acara pernikahan saudaranya. Aku akhirnya di bantu oleh petugas hotel lain bernama Tina. Dia tidak berhasil menghubungi perusahaan taksi pink yang aku maksud tapi dia berhasil menghubungi radio lokal yang di maksud dan meminta nomer wa ku agar mudah memberi kabar selanjutnya karena hari itu adalah hari terakhir kami tinggal disana dan kami pindah ke hotel yang lebih dekat ke tempat wisata yang kami tuju dihari-hari berikutnya. Hari itu juga merupakan jadwal wisata kami menuju Pattaya.

Tidak lama sekitar 10 menit perjalanan menuju Pattaya, sebuah nomer tidak dikenal meneleponku. Rupanya itu nomer Tina. Aku kembali menelepon nomer tersebut dan Tina bilang bahwa seseorang menelpon ke hotel dan bilang bahwa dia menemukan dompetku. Si penelepon juga bilang bahwa ada banyak uang dalam dompetku. Aku duduk terdiam mendengarkan di kursi depan van, rasanya tidak percaya mendengar kabar baik ini, aku spontan menjerit kegirangan dan memberitahukan kabar baik ini ke teman-teman semua. Teman-teman semua juga ikut bergembira mengucap kata hamdallah. Tina menanyakan kesediaanku untuk mengambil dompetku. Aku memutuskan untuk mengambilnya jam 9 di hotel esok hari karena pada saat itu kita sudah berada di tengah perjalanan menuju Pattaya.

bkk12Sepulang dari Pattaya esok harinya,  aku kembali ke hotel Nacorn dan meninggalkan teman-teman menikmati Wat Pho beberapa saat. Aku tidak bertemu dengan Mark atau Tina. Aku bertemu dengan Pui staf hotel yang lain. Dia juga membantuku menghubungi Ms. Laddawan  yang menemukan dompetku. Setelah beberapa kali mencoba menelepon nomer Ms. Laddawan, akhirnya Pui memintaku untuk menghubunginya sendiri. Setelah beberapa lama aku mencoba, Ms. Laddawan menelepon ke telepon genggamku. Aku sodorkan itu ke Pui segera karena ketika aku tanya “English Please”, responnya adalah “No English”. Dari percakapannya, Pui memintaku untuk menemui Ms. Laddawan ke kantor polisi yang sama jam 11. Dia ingin mengembalikannya di sana agar jelas urusannya. Setelah berterima kasih kepada Pui, aku kembali ke teman-teman dan menghantar mereka ke tempat wiasata lainnya.

Aku kembali meminta izin teman-teman untuk menikmati Gems Gallery tanpa aku untuk beberapa saat karena aku akan kembali ke kantor polisi untuk menemui Ms. Laddawan. Aku memesan Grab Bike agar bisa cepat sampai kesana. Sesampai di sana rupanya ms. Laddawan sudah ada disana. Dia dengan segera  mengenaliku karena dia pasti bisa mengenaliku dari melihat fotoku di dompet. Aku sangat terharu bertemu dengan orang sederhana yang menemukan dan mengembalikan dompetku itu. Untuk memastikan itu milikku, aku memperlihatkan passporku kepadanya. Kami tidak banyak berbicara karena kendala bahasa  yang berbeda. Kita hanya banyak saling menatap dan tersenyum. Aku kerap  memperlihatkan rasa terima kasihku dengan mengatupkan kedua tangannku di dada sebagai tanda terima kasih dan dia senantiasa selalu menganggukan kepalanya.

bkk16

Pak polisi yang menangani kasus kami hanya sekali mengucapkan bahasa Inggris , yaitu “Is everything complete?” menyakinkan segala yang ada dalam dompetku lengkap. Tanpa aku hitung jumlah uangnya, aku lihat formasi tumpukan uangnya masih lengkap, segera aku jawab “yes, complete sir!”. Selelsai sudah urusan dikantor polisi, aku serahkan amplop yang berisi selembar uang 1000 bath ke malaikatku Ms. Laddawan. Awalnya dia menolak, karena saya agak memaksa, akhirnya dia mau menerimanya. Aku berkaca-kaca melihat ketulusannya mengembalikan dompetku. Karena waktu yang mepet, aku segera memesan grab bike lagi, namun karena  gangguan sinyal, aku sempat bingung. Ms. Laddawan muncul dari belakang sambil membawa sepedanya dan dia kembali untuk membantuku mencarikan taksi.

Aku segera naik taksi,  duduk di kursi depan dan menunjukkan alamat yang aku tuju. Si sopir sempat heran menatapku. Biasanya penumpang lebih memilih duduk di belakang. Aku memastikan jalan yang aku tempuh ke Gems Gallery  sama atau paling tidak aku sudah beberapa balik ke sana aku ingin mengingat kembali jalan yang sebelumnya aku tempuh. Beberapa kali aku menarik napas panjang, si supir menatapku dan tersenyum. Dengan gerakan tangan dia meragakan hal seperti nya aku akan membeli cincin dengan menyatukan jempol dan jari telunjuk tangan kanannya melingkar dan memasukkannya ke jari tengah kanan tangan kirinya. Aku segera menggelengkan kepala dan tersenyum karena bisa saja itu berarti lain hal bila aku berpikiran kotor.

Setibanya di sana aku kembali menemui tema-temanku dan menunjukkan dompet ku sebagai tanda kegembiraanku. Mereka semua juga ikut bergembira dan kita melanjutkan wisata terakhir di sana dengan mengunjungi pasar Chatuchcak yang hanya buka di akhir minggu. Pasarnya amat luas. Karena aku kecapean, aku tidak mengitari seluruh lokasi. Ada hikmahnya juga dari hal itu, uangku jadi banyak tersisa. Setelah puas disana,  akhirnya kita semua kembali ke bandara Don Muang untuk kembali kekeluarga di tanah air tercinta.

Advertisements

Gam-sa- ham-nida

korea9Kesempatan untuk dapat mengunjungi tempat-tempat baru menjadi suatu hal yang istimewa yang tidak dapat aku hindari sejak aku menyadari bahwa aku sangat menikmati setiap perjalanan yang dapat menghilangkan penat dan jenuh keseharianku

Program edutrip yang ditawarkan kepadaku kali ini tujuannya adalah Korea Selatan. Hal ini sangatlah mendadak dan aku tidak mengira akan kembali

mengerjakan tugas ini lagi. Segera aku kerjakan dengan rekan guru yang sama-sama bersemangat. Kami berdua sangat bersemangat karena kita berdua belum pernah ke sana dan ingin tahu bagaimana keadaan disana. Kepopuleran drama Korea dan K-Pop menjadi pemicu semangat itu pula.

Setelah beberapa waktu melewati beberapa hambatan dan kegalauan, sampai tiba waktu yang akhirnya visa Korea menempel di paspor kita masing-masing, kita semua siap berangkat ke Seoul, Korea selatan.

Setelah melalui perjalanan udara selama kurang lebih tujuh jam dengan sekali transit di Bali, kita sampai di bandara Internasional Incheon jam 9 pagi hari. Kita diberi T-pass, semacam kartu prabayar untuk alat transportasi disana. Kita melanjutkan perjalanan dengan kereta Arex dan pindah kereta jalur 9 di stasiun …. menuju stasiun Yeungmi yang tidak jauh dari lokasi hotel  menginap yaitu hotel Benikea.

Udara dingin mulai kita rasakan ketika keluar dari stasiun menuju hotel. Sesampai dihotel, kita hanya menyimpan koper-koper di lobi hotel karena jam check in hotel disana mulai jam 5 sore, dan kembali keluar hotel untuk makan siang.

Restoran terdekat menyajikan berbagai menu seafood yang halal rekomendasi dari agen perjalanan yang membantu kita. Semangkok nasi disajikan dengan sepiring kerang rebus, soup rumput laut dan berbagai macam makanan yang di awetkan seperti kimchi dan acar lobak. Kerang rebus setengah matang dan disajikan dingin tidak pas di lidahku juga teman-teman dan anak-anak peserta edutrip  tapi rasa lapar dan udara dingin membuat kita semua lahap memakannya.

Aku dan temanku harus berbagi kursi dengan seorang wanita Korea yang baik hati. Ia mengajari kita memakai sumpit yang disediakan di laci-laci meja. Dia juga memberi contoh bagaimana memadukan nasi  dengan saus yang ada.

Selesai makan kita kembali ke stasiun yeungmi  menuju beberapa tempat terdekat yaitu Cheonggyecheon stream sebuah aliran sungai yang ditata sedemikian rupa sehingga indah untuk di nikmati pengunjung. Keadaan kota sedang ramai karena adanya demo pro Amerika dan anti Cina yang sedang diadakan para veteran perang. Setelah itu kita lanjut menuju museum Hangeul yang terletak di bawah jalan.

Dari museum terlihat istana Gyeongbokgung yang megah. Banyak juga para gadis cantik menggunakan pakaian tradisional hanbook di jalanan menuju istana tersebut. Karena kita sudah terlalu lelah dan udara malam sangat dingin berangin, kita tidak mengunjungi istana tersebut. kita lanjut makan malam ayam kecap disebuah mall dan kembali ke hotel.

Esok harinya walau hujan, kita mengunjungi seouljo sebelum menuju pulau Nami, yaitu sebuah pulau buatan yang terkenal dengan keindahan taman–taman yang di desain untuk  lokasi suting beberapa drama korea yang terkenal seperti Winter Sonata. Kita kesana dengan menggunakan kereta dan lanjut menggunakan taksi. Kita makan siang di pelabuhan Nami sambil makan siang dengan ayam panggang  topoyaki jamur dan tak lupa kimchi dan yang lainnya sambil menghangatkan diri.

Setelah hujan reda kita naik kapal feri menuju pulau Nami. Nami sendiri berasal dari nama seorang Jenderal yang sangat setia kepada rajanya. Namun karena ia di fitnah, ia dihukum di pulau ini. Setelah beberapa lama kesetiaanya terbukti oleh raja dan raja memberikan nama pulau ini atas namanya untuk menghormati sang jenderal. Pemandangan indah dipulau itu didominasi oleh warna merah daun Maple dan warna kuning daun Ginko biloba

Cuaca sangat tidak mendukung kunjungan kita kesana. Kita banyak menghabiskan waktu didalam mushola untuk sholat dan berteduh sambil membaca buku di perpustakaan yang disiapkan di pulau itu.  Hujan tiada henti sampai kita kembali ke pelabuhan. Kita kembali ke stasiun untuk pulang. Sebelum sampai dihotel kita makan malam dengan ikan bakar disebuah kedai makan di dekat  Doota mall. Selesai makan kita mampir kedalam mall yang buka 24 jam. Kita mampir di sebuah toko souvenir bernama Arirang di lantai 2 atas rekomendasi agen travel kita. Aku membeli sebuah bendera Korea untuk koleksiku dan beberapa barang titipan teman-teman.

Setelah selesai belanja kita pulang kembali kehotel dengan menggunakan taksi. Amat penting bagi kita selaku  turis untuk selalu membawa kartu alamat hotel tempat kita menginap karena supir taksi bisa saja kesulitan mencari lokasi hotel yang kita tuju. Untungnya aku masih ingat patokan tempat menuju hotel kita sehingga aku tinggal menunjukkan kearah mana si supir harus membelokkan taksinya.

Kakiku terasa sakit akibat berjalan terlalu banyak berjalan. Sehingga aku memutuskan untuk tinggal di hotel dan menyusul ke KBRI di Seoul pada sore harinya. Pagi harinya peserta edutrip akan mengunjungi museum K-Pop dan berkunjung ke perpustakaan Starfield. Sampai siang aku diam di hotel. Sambil memantau pembicaraan para orang tua peserta di group WA yang memberitahukan tentang kecelakaan pesawat  yang terjadi di tanah air. Beberapa WA pribadi masuk dan memberikan doa agar perjalanan kami kembali bisa selamat. Hal itu tidak mengganggu aku karena aku percaya bahwa ajal bisa menjemput kita dimana saja.

Berbeda dengan acara tv di tanah air,aAku menonton acara televisi yang didominasi oleh acara promo penjualan jaket winter. Karena makan siangku tidak kunjung tiba, akhirnya aku memutuskan turun ke lobi lebih cepat setelah aku sholat jama ta’dim.

Aku berniat menuju restoran halal yang direkomendasikan namun karena kakiku masih terasa sakit akhirnya aku memutuskan langsung ke stasiun dan langsung menuju ke KBRI yang dekat dengan stasiun Saetgang. Aku konfirmasikan dulu kedatanganku sehingga ibu Uji yang aku hubungi melalui WA menginformasikan exit 3 yang terdekat menuju KBRI.

Aku tiba lebih awal satu jam sehingga aku bisa melihat lihat seputar pertokoan didalam stasiun itu. Aku melihat sebuah toko baju yang menjual sweater  trendi ala Korea. Aku menginginkan jaket tanpa lengan yang dipakai pelayan  toko yang cantik. Aku pikir itu untuk dijual, ternyata itu punya si pelayan. Ia tertawa sambil mengelengkan kepalanya, kami semua tertawa. Dia menawarkan baju lain dengan ramahnya sehingga aku tidak tega dan memutuskan untuk membeli salah satu sweaternya. Akhirnya aku membeli sebuah sweater biru untuk ibuku. Untung harganya tidak mahal karena obral. Semua baju ditoko itu  clearance sale karena persediaannya terbatas. Aku titipkan baju itu dan berjanji akan mengambilnya jam 6.

Keluar dari stasiun Saetgang aku langsung mengenali lokasinya karena aku sudah melihatnya di google maps. Rombongan peserta edutrip dan teman-temanku belum juga muncul. Aku jalan-jalan sekitar taman Ankara, duduk di halte, jalan-jalan mencari tempat makan yang cocok namun tidak aku temui. Sebetulnya aku mencari tempat dengan label halal namun karena tidak aku temui, aku kembali ke taman dan menunggu sampai bertemu rombongan disana.

Tepat jam 4 kita ke KBRI dan disambut oleh ibu Uji, pa Sugiarto dan pa Purno staff Pensosbud KBRI Seoul. Kami juga di jamu dengan baik. Makanan yang disajikan kita buat rekomendasi untuk membeli oleh-oleh walau tidak berlabel halal. Kita diberikan beberapa Informasi tentang kehidupan di Korea yang tidak seindah yang kita lihat di drama-drama Korea.

Sepulang dari KBRI aku ambil sweater ibuku di toko tadi. Tak lupa aku ucapkan terima kasih dalam bahasa Korea “Kamsa hamida”. Pelayan tokonya sudah berbeda namun sudah mengetahui kedatanganku karena diberitahu pelayan sebelumnya sepertinya.

Perjalanan dilanjutkan ke Myeongdeong untuk makan malam dan berbelanja. Myeondeong adalah pusat perbelanjaan yang terkenal di kota Seoul. Bagi penggemar kosmetik, tempat ini adalah surganya. Disana aku melihat beberapa gadis dengan muka yang memar berdarah dan tertempel banyak perban berjalan dengan santai. Dari situ aku baru menyadari bahwa memang operasi plastik disini sepertinya hal yang biasa seperti yang pak Purno sampaikan di KBRI.

Dihari terakhir sebelum kembali ke tanah air tercinta, acara kita mengunjungi istana Deoksugung. Kita tidak jadi mengunjungi istana Gyeongbokgung karena istana tersebut tutup setiap hari selasa. Istana Deoksugung ini merupakan tempat raja dan para pasukannya. Disana kita sempat melihat upacara pergantian penjaga istana yang amat menarik. Terasa kembali ke jaman dahulu. Prosesi pergantian dimulai dari jam 11 diiringi alunan alat musik tradisional yang khas. Setelah selesai upacara para pengunjung di persilahkan berfoto dengan para prajurit, juru kunci istana dan laksamana perang untuk beberapa saat.

Kita juga mengunjungi  Seoul Global Center(SGC) yang merupakan pusat informasi dan bantuan bagi orang asing yang tinggal di Seoul. Disana kami mendapatkan informasi penting sekitar kota Seoul dari bapak Andri seorang warga Indonesia yang sudah lama tinggal disana yang ternyata istrinya adalah alumni dari sekolah kita. Namun sayang kita tidak bisa bertemu dengannya.

Dari SGC kita naik taksi ke mesjid Itaewon. Disana baru terlihat  banyak restoran dengan label Halal didepan pintu atau di jendelanya. Namun sayang  kita sudah kenyang karena kita sudah makan nasi  goreng bebek sebelumnya. Di mesjid yang cukup besar itu kita sholat dzuhur berjamaah. Lanjut sholat ashar diawal agar tenang diperjalanan.

Dari daerah muslim Itaewon, kita menuju Namsan tower dengan menggunakan bus umum no 03. Pembayaran bus sama dengan kereta yaitu menggunakan kartu T-pass yang selalu kita bawa dan menggantung di leher kita semua disetiap perjalanan. Dari pemberhentian bus di Namsan, kita dapat melihat pemandangan kota Seoul yang  didominasi oleh gedung berwarna putih. Karena kakiku sakit lagi aku tidak ikut naik dan menunggu rombongan di toko seven eleven agar terhindar dari udara dingin.

Selesai menikmati Namsan tower, kita seharusnya ke Hongdae namun karena mempertimbangkan waktu, keefektifan dan keefisienan berkendara, akhirnya kita mengambil bus no 05 kearah Myeongdeong lagi untuk makan malam dan  berbelanja oleh-oleh lagi  disana. Setelah puas makan dan belanja kita kembali ke hotel. Dihotel kita segera membereskan koper karena esok harinya kita harus segera kembali ke bandara untuk pulang.

Disepanjang jalan kereta berhenti disetiap stasiun, terdengar suara pengumuman di speaker yang diakhiri dengan ucapan terima kasih dalam bahasa Korea “Gam-sa-ham-nida”. Hal itu pula yang ada dalam diamku. Aku  bersyukur dan berterima kasih atas kesempatan yang aku dapat sehingga kunjunganku ini menambah kaya pengalamanku.

Alhamdulillah setelah 7 jam kembali perjalanan di udara, kita semua kembali dengan selamat, sehat  dan bahagia semua. Ditanah air, kita kembali merasakan hangat, berkeringat dan sambutan kangen keluarga. Gam-sa- Ham- nida

Sawasdee ….. Mam, Where Are You From?

This slideshow requires JavaScript.

Perjalanan perdanaku ke Bangkok Thailand berawal dari informasi tiket promo sebuah maskapai penerbangan AA. Walaupun aku siap berjalan sendiri kesana, namun aku  ingin berbagi  pengalaman dan menurutku semakin banyak orang yang ikut, semakin meriah rasanya. Berbekal niat itulah aku memberanikan diri mengajak beberapa teman. Namun sayangnya perjalanan perdana tidak cukup menyakinkan teman-teman. Hanya Maryatilah yang percaya akan kemampuanku melakukan perjalanan keluar negeri. Dengan mudahnya dia bersedia mengikuti rencanaku ke Thailand di liburan semester tahun ini.

Maryati adalah temanku semasa SMA. Kami bisa cocok satu sama lain. Aku suka dia karena dia paling pintar dikelas. Sewaktu SMA dulu aku sering bertanya tentang pelajaran yang aku senangi dan  dia dengan mudah memberi penjelasan kunci jawaban selalu setelah ulangan. Maryati juga pernah bergabung dalam perjalan pertamaku membawa rombongan beberapa teman ke Kuala Lumpur dan Singapore. Dia cukup senang dengan perjalanan dengan biaya hemat yang aku adakan. Sepertinya itulah alasannya untuk kembali bergabung dalam perjalanan keluar negeri ini.

Dia segera mentransferkan sejumlah uang untuk memesan tiket pesawat dan sisanya menjelang keberangkatan. Walau ada keterlambatan keuangan yang ia miliki, namun dengan niat yang kuat, dia akhirnya dapat memecahkan masalahnya. Tidak akan sulit mencari solusi bagi orang pintar sepertinya. Kerjasamanya dengan seorang Dosen di sebuah Universitas negeri di Jakarta membuahkan kesepakatan kerja dengan uang lelah dibayarkan sebelum mulai proyeknya. Senang rasanya kalau teman percaya terhadap aku dan dari situ aku berjanji untuk dapat kembali menyenangkannya.

Namun berdasarkan pengalaman sebelumnya, hanya ada satu  hal yang aku kurang suka dari dia. Dia senang sekali berfoto ria di berbagai tempat sampai beberapa kali pose dengan beberapa persyaratan yang sangat detil yang menurutku hal itu menghabiskan waktu. Aku suka juga senang berfoto tapi aku lakukan cukup sekali dalam waktu yang singkat saja untuk dokumentasi.  Maka dari itu aku berniat lebih sabar menghadapi situasi itu.

Tiba waktu keberangkatan kami ke Bangkok, kami janjian di pool bus Damri namun kami naik taksi online ke bandara Soetta karena takut ketinggalan pesawat. Sesampainya kami di terminal 3 bandara Soetta kami langsung menuju gate atau pintu masuk pesawat dengan santai karena waktu kami masih luang. Awalnya kami tunggu di gate sesuai dengan yang kami lihat di papan pengumuman  namun karena aku curiga gatenya sepi maka aku tanya petugas di sekitar dan ternyata gate nya telah berubah dan kami pindah segera. Setelah menunggu selama  beberapa puluh menit kami pun masuk ke pesawat.

Kami menikmati kursi kami yang letaknya berada di barisan depan. Kami juga menikmati makanan ringan di pesawat dan tanpa terasa tidak sedikitpun kami berdua tidur karena kami saling berbagi cerita yang menarik dalam hidup kami masing masing. Padahal kami pun tidak tertidur di dalam taksi sebelumnya. Kami berdua terlalu bersemangat untuk mendapatkan pengalaman di Bangkok.

Setibanya kami di bandara Don Muang, kami antri di barisan passpor asing. Sebetulnya kami bisa saja antri di barisan pemegang passpor negara asean tapi karena sudah kepalang antri disitu kami menikmati saja antriannya yang cukup panjang. Bandara don muang ini merupakan  bandara lama  yang sangat sempit kesannya karena langit-langitnya yang sangat rendah.

Ada seorang petugas imigrasi wanita dengan potongan rambut yang amat pendek. Aku jadi terpana dibuatnya. Aku jadi teringat istilah ladyboy yaitu wanita yang sebetulnya laki-laki. Namun untuk petugas tersebut aku balikan isilahnya yaitu boylady karena dia amat terlihat seperti laki-laki yang sebetulnya wanita. Roknyalah yang menunjukkan identitas aslinya. Lain-lain terutama suaranya amat tegas mendukung pendapatku. Dengan tegasnya ia beberapakali mengusir para turis yang berdiri menunggu di selasar ruang setelah imigrasi. Hal ini memang menganggu lalu lintas turis yang akan turun ke gerbang ketibaan.

Selesai melewati imigrasi, kami langsung turun ke bawah dan mencari kios sim card lokal. Aku beli satu simcard lokal seharga 199bath untuk kami pakai berdua. Aku sempatkan diri menanyakan biaya sewa mobil ke hotel dikios sebelahnya, mereka menawarkan mobil dengan biaya 900bath ke hotel. Aku juga tanyakan harga sewa yang lebih rendah namun pelayannya menyarankan aku untuk memakai jasa taksi meter di gate 8 yang paling ujung.

Kami berdua akhirnya naik taksi meter. Bahasa thai yang amat asing bagiku membuat agak sedikit takut ketika aku lihat si supir tidak begitu fasih berbahasa Inggris. Aku sodorkan voucher hotel ku untuk menyakinkan dia mengerti kemana akan mengantar kami. Dia mengangguk-angguk dan berkata “yes, mahannop street”. Aku amati dan pastikan supir taksi yang akan mengantar kita terlihat baik dan ramah sehingga rasa itu hilang. Nama sopirnya adalah Phesan. Sebuah nama yang unik.

Didalam taksi aku berkomunikasi dalam bahasa sunda dengan Maryati dengan sengaja supaya phesan tidak mengerti toh kamipun tidak mengerti apa yang dia tanyakan kepada kami dalam bahasanya. Setelah ia mencoba berkomunikasi dalam bahasa Inggris sebisanya,  baru kamipun berbahasa Inggris.  Aku menanyakan beberapa bahasa thai dalam bahasa Inggris dan dari pelajaran bahasa thai yang singkat dalam taksi tersebut. kami cukup terhibur dengan caranya mengajarkan bahasa thai dengan bahasa Inggris yang minim. Awalnya aku berpikir Maryati akan tertidur didalam taksi sepanjang jalan, tapi rupanya dia hanya tidur sekejap saja dan kembali menikmati pemandangan kota Bangkok sambil kadang bersenandung.

Karena hostel yang kami tuju berada di dalam gang atau yang disebut “soi” dalam bahasa thai, phesan berputar-putar di sekitar jalan mahannop beberapa kali sampai-sampai ia keluar menanyakan hal tersebut ke beberapa orang sekitar. Sampai akhirnya dia dapatkan dan kami semua berteriak gembira “yaaay” seperti anak kecil. Phesan menunjukkan meter dan aku bayar beserta tips dan surcharge yang harus aku bayar sebanyak 50 bath. Total dengan tips untuk phesan aku bayar 300 bath. Cukup terjangkau. Dari pada aku ambil resiko naik bus di negara yang belum aku pahami daerahnya.

Sampai di hostel kami istirahat. Pemilik hostel adalah seorang bule Perancis yang dapat aku simpulkan dari logat bahasa Inggrisnya yang ke Perancisan. Dia bilang “second floor” kami mendengarnya “seven floor”. Kami terkaget mendengarnya. Setelah sama-sama tahu ada salah pengertian, kami semua tertawa. Di hari selanjutnya kami tahu bahwa istrinya  orang Thailand.

Hostelnya bersih dan kamarnya luas. Setelah istirahat sebentar, kami keluar mencari restoran berlabel halal tapi kami tidak menemukannya, sehingga akhirnya kami ke gerai seven eleven yang terdekat untuk mencari makan malam. Beruntung ada beberapa makanan beku yang berlabel halal disana. Dan beberapa makanan beku berlabel halal itu lumayan hemat dan enak sehingga menjadi beberapa kali menu makan malam kami disana. Cita rasa asem, asin, dan pedas, sangat khas cita rasa Thailand.

Esok hari setelah sarapan sederhana di hostel, pemilik hostel dengan ramah menanyakan tujuan kami hari itu. Aku beritahukan tujuan kami dan dia dengan senang hati memberikan petunjuk jalan menuju ke sana yang padahal sudah aku pelajari dari google maps. Sesuai dengan informasi yang aku dapat, ternyata hostel kami sangat dekat dengan lokasi beberapa tempat yang ingin kami kunjungi seperti Wat Pho, Wat Arun, Grand Palace dan Giant Swing.  Dari hostel ke Wat Pho cukup kami tempuh dalam waktu 10 menit saja.

Awalnya kami menuju Grand Palace namun karena antrian turis mengular akhirnya aku memutuskan untuk mengunjungi wat pho dulu yang letaknya berada tepat di belakang Grand Palace. Kami menuju Wat Pho dengan mudah dan menikmati keindahan sekitar istana itu yang sangat bersih.

Setelah kami menikmati Wat Pho, kami menuju Wat Arun yang juga tidak jauh dari Wat Pho. Keluar dari pintu kami menuju pasar tradisional dan pelabuhan kecil Tha Tien. Tiket untuk naik perahu menyebrangi sungai Chao Praya hanya sebesar 4 bath. Dan sampailah kami di kuil fajar Wat Arun yang terlihat putih megah dari pelabuhan. Dari sana kami kembali ke hostel untuk istirahat dan lanjut menuju Khaosan Road dengan taksi online.

Esok harinya kembali ke Grand palace. Sayangnya antriannya tetap panjang mengular. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke pasar tradisional di pelabuhan Tha Tien. Di perjalanan kami bertemu dengan seorang laki-laki yang pandai berbahasa Inggris. Dia memperkenalkan dirinya dan memberi tahu kami bahwa ia adalah seorang guru bahasa Inggris. Senangnya hati kami bertemu guru lain di luar negeri, dia dengan ramahnya menanyakan tujuan kami. Dia menyarankan kami untuk pergi ke pelabuhan Ranchapini untuk menikmati perjalanan dengan perahu sederhana  mengelilingi sungai kecil untuk melihat desa kuno dan pasar terapung disana. Sebetulnya kami tidak punya waktu untuk berlama-lama lagi karena kami ingin pergi ke MBK yaitu sebuah mall yang terkenal di tengah kota sesuai rencana kami.  Namun karena si lelaki itu menyarankan kami mengunjunginya dengan naik tuktuk kami jadi tertarik apalagi ongkos tuktuknya cukup murah hanya 20 bath.

Setibanya di pelabuhan itu, kami jadi urung karena perkiraan perjalanan perahu yang berkisar satu jam lamanya. Supir tuktuk yang mengetahui kebatalan kami sepertinya agak kecewa. Sepertinya dia jadi batal dapat komisi. Untuk meyenangkannya kami naik tuktuknya kembali keliling kota sebesar 100 bath dan melanjutkan perjalanan ke MBK dengan taksi online.

Di MBK kami membeli beberapa oleh-oleh dan barang-barang titipan. Kami menikmati beberapa makanan khas seperti manisan buah mangga dan durian kering yang banyak di tawarkan oleh setiap gerai makanan. Kami juga menikmati kegiatan tawar manawar ketika berbelanja disana. Walupun MBK merupakan mall besar, namun hampir semua barang yang ada didalam toko bisa kita tawar, apalagi bila kita membelinya dalam jumlah banyak. Kami juga melihat pasar malam di seberang mall MBK dan kami kembali melihat-lihat dagangan disana. Setelah selesai kami puas berkeliling, kami kembali ke hostel dengan memesan taksi online dan istirahat.

Esok harinya kami ke Giant swing yaitu semacan tugu di tengah kota berbentuk ayunan yang tinggi sekali. Setelah berfoto kami kembali ke hostel untuk check out dan pindah ke hotel di daerah Pratunam. Letak hotelnya tepat di belakang pratunam market. Setibanya disana kami langsung ke pasar pratunam yang ramai sekali. Kami makan siang dan belanja oleh-oleh disana. Pasar pratunam merupakan pasar yang cukup luas yang menyediakan segala kebutuhan dengan harga murah dan bisa di tawar pula. Di hari ketiga Maryati mulai merasa lelah,  sedang aku masih ingin mengunjungi tempat lain yaitu Asiatique. Sehingga aku memutuskan untuk ke sana malam hari sendirian dengan menggunakan ojek online. Sedangkan Maryati istirahat di hotel.

Sopir ojek online yang mengantar aku ke Asiatique bernama Fanny wang. Saya tanyakan namanya ke resepsionis hotel karena tulisan namanya dalam bahasa thai yang seperti tulisan sansekerta sebelum dia datang menjemput saya. Tampang fanny ini terlihat cape dan lusuh namun senyum dan caranya menyapa tidak akan pernah saya lupakan “Sawasdee Mam”. Saya balik merespon “Sawasdee kaa” dengan senyum yang manis dia berkata “Asiatique?”, aku mengangguk dan lalu dai berikan aku helm yang lain untuk aku pakai. Di tengah perjalanan kembali aku perhatikan Fanny dari belakang. Aku pastikan dia adalah wanita tulen Dia menanyakan sesuatu yang membuat telingaku geli mendengarnya karena logat bahasa thainya. “Mam, where are you from….”, aku jawab Indonesia, lalu kepalanya mengangguk-angguk.

Selesai menikmati Asiatique aku segera kembali memesan ojek online. Ketika menunggu ojekku datang, terdengar azan Magrib sangat jelas disana. Rupanya ada mesjid besar di seberang Asiatique sebuah mesjid Bangkok yang cukup besar. Ada keinginan untuk mampir kesana namun ojek online yang aku pesan sudah datang.Tak  lama aku duduk di motor, temanku Maryati yang menunggu di hotel jugamenelpon menanyakan keberadaanku. beberapakali dia menelponku. dia rupanya khawatir juga. perjalanan kami kesekian hari ini menambah kedekatan kami. yang awalnya aku tidak suka kebiasaanya berlama-lama foto, aku malah enjoy dan jadi suka berfoto ria.

Hari terakhir kami disana, kami mengunjungi teman di KBRI yang letaknya tidak jauh dari hotel. Dia adalah pak Olih, dia seorang guru di sebuah Sekolah Indonesia Bangkok yang sama-sama merupakan orang Bogor Kabupaten. Aku mengenalnya ketika ikut pelatihan guru di Adelaide, Australia Selatan. Yang diakhir cerita, dia merupakan teman dari temanku pak Roy. Betapa dunia ini sempit terasa. Setelah lama tak bertemu akhirnya kami bertemu di kota Bangkok. Dengan penuh kagum aku mendengarkan pengalamannya di sana.  Aku  jadi teringat ketika mengikuti program mengajar disekolah Indonesia di luar negeri ke Malaysia dan Davao Filipina, namun sayang aku tidak mendapat restu dari suami sehingga kesempatan itu tidak sempat aku nikmati.

Dari informasi yang aku dapat dari pa Olih, kami jadi bisa mengunjungi mesjid Darul Amman dan makan siang di sebuah restoran halal disebelah mesjid bernama restoran halal Hj. Fatornee yang letaknya tidak jauh dari KBRI. Kami juga mencoba kereta dari BTS Ranchidewi ke BTS Saphan Taksin PP dan kembali ke hotel untuk check out dan menuju bandara Don Muang untuk kembali ketanah air tercinta. kami sempat berkenalan dengan beberapa orang guru dari Indonesia dan kami membuat janji untuk kembali melakukan travel bersama di tahun depan. Dengan  setumpuk juta rindu untuk keluarga tercinta  dan restu dari Allah SWT SWT, kami akhirnya tiba dengan selamat di tanah air.

Aku tersenyum ketika teringat jaketku tertinggal di Bandara Don Muang namun Alhamdulillah selalu aku ucapkan dalam hati, karena yang penting dan sederhana  bagiku adalah aku sampai dengan selamat dengan banyak kenangan indah disana.

 

Passpor yang Hilang di SG2KL July 2018

This slideshow requires JavaScript.

SG2KL adalah rute perjalanan saya membawa rombongan teman-teman ke Singapore lalu ke Kuala Lumpur. Setelah beberapa kali membawa rombongan, rute SG2KL ini merupaka rute yang jarang saya tempuh. Saya lebih sering menggunakan rute yang sebaliknya yaitu KL2SG dengan alasan agar kepulangan kita ke tanah air bisa lebih cepat karena perjalanan pulang dari Singapore jarak tempuhnya  lebih pendek. Hanya dengan sekitar satu jam kita sudah sampai ditanah air tercinta.  Faktor lelah dan kangen pulang kadang juga memicu emosi dan bad mood para traveller. Belum lagi luasnya bandara KLIA lebih luas dari Changi dari pengalaman yang saya rasakan.

Perjalanan SG2KL bulan Juli 2018 ini diminta oleh beberapa guru dari MTS Negeri Bogor yang merupakan teman dari ibu Andi yang sudah ikut SG2KL bulan Desember 2017 lalu. Mereka hanya berjumlah 5 orang yaitu bu Laelatul dengan anakk bungsunya, bu Yunita, bu Lia dan bu Hani. Sehingga saya berusaha untuk mengajak teman lain di group “Plan SGKL” yang saya buat di applikasi Whatssaap.

Seharusnya SG2KL bulan ini merupakan  jadwal ideal untuk berlibur karena  jangka waktu libur anak sekolah yang cukup lama. Namun entah setelah beberapakali saya mencoba mengajak beberapa teman untuk ikut serta dalam perjalanan tidak satupun yang berminat untuk menambah kuota yang kosong. Banyak alasan mulai dari masih mudik, masih tugas, belum ada uang dan belum bikin passpor.

Total peserta hanya 6 orang dengan saya sebagai pemandu. Saya amat menyayangkan hal ini karena untuk sewa mobil sebagai media trasportasi disana minimal ada 10 kursi.  Dan biaya sewa mobil van bisa lebih murah bila dibagi lebih banyak peserta.  Biaya hotel juga sama halnya. Lebih murah kalau ditanggung lebih banyak orang. Setelah sekian lama menunggu teman yang ingin bergabung itu tak kunjung tiba, dan karena saya tidak suka hal yang mubazir, akhirnya saya memutuskan untuk membawa serta kedua anak saya setelah mendiskusikannya dengan suami saya.

Awalmya saya berniat untuk mengajak mereka di tahun berikutnya, namun karena hal tersebut akhirnya saya ajak mereka serta. Mereka amat senang campur heran seperti tidak percaya. Karena tiba-tiba saja saya segera memesan tiket pesawat PP CGK –KUL yang sedang promo. Tiket ekonomis yang cukup membantu dalam berhemat. Namun saya kembali memikirkan perjalanan ke Singaporenya, hal itu juga yang saya khawatirkan akan melelahkan kedua anak saya dan teman lain yang belum punya pengalaman keluar negeri bahkan mereka belum punya pengalaman naik pesawat terbang. Akhirnya saya putuskan untuk kembali memesan tiket pesawat dari Kuala Lumpur ke Singapore dan memesan tiket bus untuk kembali ke Kuala Lumpurnya.

Itinerary perjalanan saya rencanakan satu hari di Singapore dan dua hari di Kuala Lumpur. Tiket promo yang sudah saya pesan memang murah tapi itu membantu tersedianya biaya dalam pemesanan tiket pesawat ke Singapore, namun penerbangannya terakhir di malam hari. Saya sudah informasikan semua tentang persyaratan tiket promo ini mulai dari jadwal sampai dengan batas bawaan yang hanya seberat 7 Kg di kabin pesawat di pertemuan kami sebelum berangkat.

berkenaan dengan jadwal, ini sangat mepet sekali dengan waktu keberangkatan pesawat kita ke Singapore yang terbang diawal pagi. Sehingga tidak memungkinkan bagi kami semua untuk beristirahat ke hotel dahulu. Sehingga saya beritahukan semua bahwa kita akan istirahat dan mandi di KLIA sebelum naik pesawat menuju Singapore. Dan mereka semua setuju, begitu pula dengan kedua anak saya.

Saya kembali menghubungi pa Kanusi untuk meminta bantuannya kembali dan perihal menitipkan koper-koper kami. Karena kalau kita bawa serta, itu akan sangat tidak nyaman bagi kita semua untuk jalan-jalan sambil membawa koper walau koper-koper tersebut sudah ada rodanya. Untungnya pa Kanusi mau kami titip koper-koper tersebut  setelah memberikan rincian biayanya. Koper-koper tersebut  dia antar kehotel sebelum kami datang.

Semua tiket  pesawat sudah di pesan, begitu pula tiket bus dan voucher hotel sudah ditangan. Tiba waktu keberangkatan, kita semua bertemu di bandara Soetta terminal 3. Seperti biasa kita berkumpul dahulu untuk berkenalan dan foto-foto sebelum berangkat.

Pesawat yang kami tumpangi mengalami delay selama satu jam. Untungnya saya sudah hubungi pa Kanusi tentang hal ini. Sehingga ketika kami datang Pa Kanusi sudah siap. Saya kesulitan menghubunginya sewaktu ingin menanyakan posisinya, karena dia menginformasikan saya untuk menunggu di gate 4 dan saya tidak melihat gate 4 yang ada gate terakhir itu gate3. Stelah mengisu ulang kartu lokal yang saya punya, akhirnya kita dapat kejelasan posisi yang seharusnya kita tuju yaitu gate 3. Pa Kanusi spontan memanggil saya ketika dia melihat saya dan kami diajak ke mobilnya pribadinya yaitu sebuah toyota Alphard. Hal itu pula yang sempat membingungkan saya. Saya pikir dia seperti biasa membawa mobil van” Ababil”nya yang tidak saya lihat.

Setelah memasukkan semua koper yang akan kami titip, saya meminta pertolongannya untuk membawa kami ke level atas yang merupakan lantai keberangkatan atas pertimbangan kelelahan.  Pa Kanusi dengan baik hati bersedia menolong kami. Padahal tanpa sepengetahuan saya,  ada istrinya di dalam mobil menunggu. Pa kanusi juga memperkenalkan istrinya kepada kami semua. Kami tidak banyak meresponnya karena kecapean. Anak-anak juga, mereka mengalami jetlag.

Setelah sampai di lantai keberangkatan, kami istirahat sebentar sambil makan dan minum di seven eleven,  dan kami bergantian ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Ternyata keadaan malam itu sekitar jam 02.00 tidak seperti yang saya duga, keadaan KLIA amat ramai. Banyak dari mereka yang tidur di pinggiran lobby bandara dan itu juga yang menjadi pengalaman saya pertama melakukan hal yang sama dengan para calon penumpang lain, tidur di pinggiran lobby. Sementara teman-teman saya lain memilih surau untuk tidur-tiduran, saya memilih pinggiran gate untuk tidur bersama kedua anak saya. Ada sekitar satu jam saya menemani mereka tidur, dan saya kembali membangunkan mereka untuk segera menuju gate keberangkatan.

Setelah tiba di gate, anak-anak kembali saya suruh istirahat. Teman-teman saya cukup lama baru mereka sampai di gate sebelum pesawat berangkat. Saya duduk didepan sementara anak-anak dan teman-teman di belakang. Inginsekali bertukat tempat duduk tapi saya sengaja ingin melatih kemandirian dan keberanian anak-anak saya.

Mendarat di Changi, saya turun paling terakhir karena kedua anak saya sulit sekali bangun tidur. Apalagi anak saya yang bungsu. Sementara teman-teman guru dan  anaknya sengaja saya suruh untuk lebih dahulu keluar agar mereka leluasa ke toilet atau berfoto-foto.

Sekitar 15 menit  saya baru bertemu ibu Hani yang duduk di depan tiolet sementara yang lainnya  masih di dalam toilet. Saya kembali menunggu mereka semua keluar toilet sekitar 10 menit kemudian mereka mulai muncul keluar. Namun alangkah kagetnya ketika tiba-tiba bu Hani merasa kehilangan passpornya. Saya kembali menanyakan dan menyarankannya untuk memeriksa kembali tas, jaket, dan toilet. Hal ini pernah saya alami ketika membawa anak anak sekolah ke Amerika. Saya berusaha tenang dan  juga ikut memeriksa tas dan jaketnya dan memang passpornya tidak ada. Sampai kita berinisiatif untuk kembali ke pesawat namun di perjalanan kembali, seorang petugas melarang kami kembali karena pesawat kami sudah tidak ada. Kami pun membuktikannya karena dari jendela bandara, sudah tidak ada pesawat di gate kami keluar tadi. Muka saya pucat memikirkan hal ini dan terlebih bu Hani yang passpornya hilang.

Kami kembali menuju tempat semula dan bertemu teman dan anak-anak saya yang masih mengantuk. Kami semua segera menuju imigrasi. Saya meminta teman lain dan anak-anak saya untuk menunggu kami sementara saya dan bu Hani melaporkan hal kehilangan itu. Petugas yang kami datangi kembali meminta kami kembali mencarinya di tas dan jaket. Si petugas yang cantik itu juga meminta saya untuk memeriksa tas saya. Saya sempat menolak karena saya duduk berjauhan dengannya namun saya ikuti untuk memastikan itu.

Muka ibu Hani bertambah pucat ketika saya meminta keputusannya untuk ditinggal di Changi sendirian atau kami semua terpaksa  ikut menunggu perihal passpornya yang hilang itu tanpa kepastian dan kerugian  waktu dan uang yang pasti. Saya juga berusaha menenangkan nya tanpa menutupi kemungkinan passpornya benar-benar hilang. Bahwasanya dia tidak perlu khawatir karena ini masalah passpor yang hilang saja, bukan karena hal lain. Bahwa ada kemungkinannya ada  orang nanti dari embarkasi Indonesia untuk mengurusi hal itu sebagai layanan kepada warganya. Dengan sabar dia memutuskan untuk menunggu sendiri di changi dan mempersilahkan kami semua untuk keluar dari Changi airport untuk meneruskan perjalann kami sesuai dengan itinerary yang sudah kita setujui. Saya saran kan dia untuk segera menghubungi saya jika passpornya ketemu dan saya sarankan untuk segera menuju mesjid Sultan dengan taksi untuk bertemu kami disana.

Dengan tersitanya  waktu kami karena hal itu, saya menjelaskan ketidak mungkinan kita mengunjungi semua tempat yang ada di itinerary. Saya memutuskan untuk tidak mengunjungi Sentosa karena letakknya yang paling jauh. Kami makan pagi dahulu setelah keluar dari imigrasi di lobby terminal 4, memastikan makan dengan rapi dan tidak menyampah dan setelah selesai menuju tempat menunggu bus shuttle free untuk menuju terminal 2 karena stasiun MRT adanya di situ.

Di terminal 2 kami naik MRT menuju kota. Dan turun di stasiun Rafless Place untuk segera menuju Merlion park tempat di mana patung ikan berkepala singa yang menjadi ikon khas negara Singapore berada. Kami berfoto bersuka hati dan bersyukur keadaan dalam cuaca cerah. Walau sudah beberapa kali kesitu, tidak pernah merasa bosan melihat keramaian disana. Walaupun tak lupa selalu mengecek pesan di wa dan berharap agar passpor bu Hani segera di temukan. Dan benar adanya, bu Hani memberi tahukan kabar baik bahwa passpornya sudah ketemu namun belum ada di tangannya, passpor tersebut telah balik kembali ke Kuala Lumpur dan akan balik kembali ke Singapore di siang hari yang tak menentu waktunya.

Setelah puas di Merlion Park kami lanjut kembali naik MRT menuju Bugis. Kami makan siang masing masing disana dan langsug shopping dalam jangka waktu yang kita setujui untuk kembali bertemu di depan seven eleven di depan Bugis street. Saya dan kedua anak saya memilih makan siang menu makanan beku di seven eleven dan lanjut ikut bershopping ria dengan yang lain. Toko pertama yang kami kunjungi adalah toko “ABC” serba $1.

Setelah puas di Bugis street kembali saya terima pesan dari bu Hani yang memberitahukan bahwa dia sudah berada di mesjid Sultan. Saya minta dia untuk menunggu kami dilantai atas mesjid yang kebetulan adalah ruang sholat untuk wanita. Kami segera menuju ke masjid dengan menggunakan taksi. Biasanya saya ajak rombongan untuk berjalan kaki karena jarak ke mesjid dari Bugis itu dekat. Berhubung mereka sudah lelah saya bayarkan taksi untuk mereka.

Saya tidak kedalam mesjid karena sedang halangan namun ketidak hadiran teman-teman membuat saya terpaksa meminta mereka untuk turun dan segera menuju ke Golden Mile compleks tempat bus yang akan mengantar kami pada jam 16.00  kembali ke Kuala Lumpur berada. Jarak nya dekat dari mesjid namun untuk kesekian kalinya saya tidak tega membuat mereka berjalan kaki, apalagi bu Hani yang sudah terlihat tak bersemangat karena dia hanya dapat mengunjungi 1 tempat dari beberapa tempat yang ada di itinerary.  Saya mengerti kekecewaannya, namun waktu disana adalah sangat berharga. Bila kita tertinggal bus, itu berarti  hanguslah ongkos bus yang sudah dibayarkan. Karena taksi tidak bisa berehenti di halte bus,  kita naik bus umum menuju kesana. Saya totalkan kerugian saya sebesar $30 untuk naik 2 taksi dan sekali naik bus tapi itu tidak menjadi masalah dibanding kerugian waktu yang seharusnya bisa maksimal.

Setelah selesai melewati kedua imigrasi di perbatasan Singapore dan Malaysia kami kembali mengalami keterlambatan. Bus yang kita tumpangi mengambil penumpang lain dahulu di bus terminal Larkin Johor Bahru. Saya tertidur di perjalanan dan ketika terbangun saya langsung kenal bus terminal itu karena saya baru saja ke Johor di bulan Februari yang lalu. Saya perkirakan kita ketibaan kami di Kuala Lumpur akan sangat larut sehingga saya kembali menghubungi pa Kanusi untuk kembali menjemput kami di Berjaya Times square.

Dihari-hari selanjutnya di Kuala Lumpur berjalan dengan lancar karena keleluasaan waktu kita disana. Pengalaman dalam menghadapi berbagai situasi menambah kekuatan dan pemahaman saya dalam memecahkan masalah ketika travelling. Terima kasih kepada teman-teman atas kerjasama dan kesabaran dalam melakukan perjalanan ini.

Jalan-Jalan Bersama Nelly

This slideshow requires JavaScript.

Nelly adalah sebuah  kumpulan yang terdiri dari ibu-ibu cantik dan lincah yang dibentuk oleh salah seorang teman suami saya sewaktu SMP dulu. Sebagian dari mereka sudah menjadi nenek sehingga dari  situlah nama Nelly tercipta. Saya mengenal mereka melalui suami saya yang secara tidak sengaja menceritakan hobi saya jalan-jalan sambil bawa rombongan di salah satu acara reuni mereka.

Ketika suatu hari di awal bulan november 2017 suami saya memberitahukan keinginan para Nelly untuk jalan-jalan ke negara Singapore dan Malaysia dan meminta bantuan saya untuk menyusun rencana perjalanan dan juga pembiayaannya, saya dengan senang menerima permintaan itu, apalagi suami juga ikut karena selama ini saya selalu jalan sendiri. Dengan segera saya melihat kalender dan mencari tiga hari libur yang berderet.

Saya mencari info diawal desember 2017 dan saya temukan libur yang berderet itu di bulan Februari dan April 2018. Saya kemukakann ide tanggal di group WA yang saya buat dan dengan segala pertimbangan akhirnya mereka memilih tanggal 13-15 April untuk merealisasikan perjalanan mereka.  Dengan kompak merekapun langsung mentransfer sejumlah uang yang saya gunakan untuk memesan pesawat pulang pergi.

Itinerary perjalanan saya ajukan dengan rincian dua hari di Kuala Lumpur menginap 2 malam dan satu hari di Singapore tanpa menginap. Namun akhirnya itinerary berubah karena keinginan mereka untuk bisa menginap di Singapore semalam sehingga otomatis menginap di Kuala Lumpurnya juga hanya semalam. Dan karena biaya hidup di Singapore lebih besar 3x lipat, mereka mau  menambah biaya perjalanan untuk makan, akomodasi dan hotel di Singapore. Saya juga merubah dan menentukan perjalanan menuju Singapore dengan pesawat yang sebelumnya selalu saya lewat jalan darat yang menghabiskan waktu 5 jam karena mereka ingin tiba di sana sore hari untuk dapat menikmati kemegahan Merlion park dimalam harinya.

Awalnya semua berjalan dengan baik sampai tiba waktunya di awal tahun 2018 saya melihat kalender yang berbeda-beda versi liburannya. Sebagian tampak tanggal 13 April itu merah dan di sebagian kalender lain yang beredar, tanggal itu tidak merah alias tidak libur. Ini membuat kita semua yang akan jalan-jalan menjadi khawatir karena kita semua sebagian besar adalah pekerja. Dan ternyata tanggal 13 april itu tidak merah. Saya sendiri juga khawatir karena saya ada jadwal mengajar dihari jumat itu. Mendekati keberangkatan sebagian besar memutuskan untuk mengajukan cuti. Saya sendiri menunggu keputusan tanggal tersebut libur atau tidak sampai ke detik akhir dan akhirnya saya dapatkan pemecahan masalahnya. Yaitu saya meminta untuk menukar tugas mengawas saya ke hari lain dan di perkenankan oleh bagian kurikulum yang saya hadapi. Alhamdulillah masalah terpecahkan.

Tiba waktu berangkat kita semua berkumpul di bandara Soekarno Hatta. Dan kali itu pertama saya bertemu para Nelly setelah beberapa bulan sebelumnya kita hanya kontak di group WA saja. Mereka semua penuh gaya dan semangat dan juga dermawan. Saya menyenangi hal ini selalu disetiap perjalanan, yaitu bertemu orang baru dan mengenal mereka dengan singkat selama 3 hari perjalanan selalu dan berharap dapat melanjutkan hubungan di kemudian hari.

Pesawat kami berangkat menuju Kuala Lumpur dengan sedikit delay, ini sudah terprediksi sebelumnya karena pada waktu itu maskapai penerbangan kami sedang banyak di bicarakan orang kerena sering terjadi keterlambatan di jadwal penerbangannnya. Kami tiba satu jam lebih lambat dan keadaan imigrasi di KLIA2 sangat ramai waktu itu. Saya khawatir pa Kanusi yang selalu membatu perjalanan saya di Kuala Lumpur terlalu lama menunggu. Saya hitung dengan persiapan isi kartu sim lokal dan lain-lain, kami mengalami 2 jam delay. Setelah dapat menghubungi pa Kanusi, ternyata pa Rabei yang menjemput kami dan menghantar kami ke tujuan pertama kami yaitu ke mesjid Putra Jaya. Disana kami baru bertemu pa Kanusi yang akan  melanjutkan tugas pa Rabei menghantar kami keliling kota Kuala Lumpur. Sampai dimesjid  Putra Jaya kami langsung makan siang dulu di retoran melayu Warisan Putra yang halal tentunya. Setelah makan kami sholat Dzuhur dan sekalian Ashar. Dan melanjutkan perjalanan ke Batu Caves.

12Perjalanan cukup melelahkan dan sebagian besar dari mereka baru pertama kali naik pesawat ke luar negeri sehingga di van mereka semua tertidur. Sampai di Batu Caves mereka foto-foto dan kami menikmati air kelapa yang segar seharga 5 RM disana. Dan segera melanjutkan perjalanan ke Petronas dan Central market. Kami makan malan di restoran Chow Kit dan menuju hotel Aira di jalan Raja Laut.

Ada yang berbeda dengan perjalanan sebelumnya.  Selama ini saya membawa teman atau rombongan, saya belum pernah diberi tips dan saya pun tidak pernah mengharapkannya karena perjalanan yang saya ajukan adalah perjalanan hemat, namun perjalanan dengan Nelly ini saya menerima sejumlah uang tips yang lumayan besar dan mereka dengan inisiatif sendiri memberikannya kepada saya dan juga kepada pa Kanusi yang mengantar kami.  Sehingga pa Kanusi mendapat tips dua kali. Dari saya dan dari para Nelly. Sungguh kedermawan mereka terbukti.

Esok pagi  hari kami langsung check out dan kembali melanjutkan perjalanan keliling kota dengan pak Kanusi. Tujuan pertama adalah Dataran Merdeka , KL Gallery dan sultan abdul Samad building. Sungguh cantik keadaan di sana sewaktu pagi, masih sepi, bersih dan dingin. Kami puas-puaskan berfoto disana dengan dress code merah menyala. Kebetulan pa Kanusi pun memakai kaos kerah merah sama dengan suami saya, padahal saya tidak memberitahukannya sehingga kami semua sepertinya kompak sekali.

Setelah puas di dataran merdeka, kami lanjut ke KLIA untuk naik pesawat menuju Singapore. Alhamdulillah pesawat berangkat on time. Walau tampak lelah di pagi itu, Saya ajak Nelly untuk memcoba naik MRT ke Bugis dan sesampai di Bugis mereka langsung segar kembali. Terbukti dengan jelas bahwa shopping memang membuat semangat semua kelompok ibu-ibu.

Sementara mereka shopping,  saya dan suami yang sibuk mengurusi koper-koper mereka. Baru saja sehari semalam mereka di Kuala Lumpur, koper-koper mereka sudah beranak pinak. Saya salah menunggu taksi online. Tempat saya dan suami berada di depan Bugis juction  tempat taksi biasa dan taksi on line tidak boleh kesitu sehingga saya harus membatalkan pemesanan dan setelah beberapa waktu akhirnya saya memutuskan naik taksi biasa.

Awalnya ada kekhawatiran taksi biasa tidak akan mau mengangkut kami berdua dengan 10 koper dan beberapa tas lainnya. Tapi setelah mengantri bagian kami mendapatkan seorang supir taksi yang sangat ramah dan mau mengantar kami beserta koper-koper dan tas-tas bawaan yang lain. Sungguh sesuatu yang memalukan tampaknya kami berdua dengan segala itu ketika menunggu taksi di depan mall itu. Alhamdulillah terselamatkan oleh supir taksi yang baik hati itu dan juga ada suami yang setia membantu.

Setelah check in hotel, kami makan siang dulu di restoran Soul sebelah hotel. Ada simbol halal dipintu masuk restoran kecil itu. Nasi lemaknya enak sekali karena memang sudah jam 2 an waktu yang tepat dan makanan yang enak mengisi semangat saya dan suami kami bahkan memutuskan untuk memesan makan malam dan sarapan disitu.

kami kembali menemani para Nelly di Bugis Street. Berkenaan dengan kegiatan shopping, waktu dua setengah jam itu tidak cukup sehingga sambil menunggu Nelly berkumpul di tempat itu, saya dan suami ikut berbelanja oleh-oleh disana. Selesai  shopping kita kembali ke hotel dengan terpisah taksi. Supir taksi yang suami saya naiki tidak tahu letak hotel kami sehingga ia memutuskan untuk turun di mesjid Sultan dan berjalan kaki ke hotel yang jaraknya memang dekat. Ada untungnya begitu, para Nelly jadi tahu bahwa jarak hotel ke mesjid dekat sehingga mereka dapat kesana sendiri tanpa harus saya temani.

Malam hari setelah istirahat dan makan, kami pergi ke Merlion Park yang memang gemerlap di malam hari. Kami pergi dengan van yang kami sewa. Dan setelah puas disana, kami pulang. Saya dan suami kembali ke Mesjid Sultan untuk belanja oleh-oleh di toko depan mesjid setelah sholat Isha dan kembali ke hotel untuk istirahat.

Pagi harinya ternyata para Nelly sholat Shubuh di Mesjid Sultan berjamaah bahkan dan salah satu dari mereka setelah sholat  kembali ke Merlion Park supaya dapat menikmati foto-foto disana di pagi hari. Sungguh Nelly yang satu ini berani dan kreatif. Saya dan suami juga jalan-jalan dan foto-foto di sekitar mesjid juga. Kami menikmati kebersamaan kami setiap saat disana.

Setelah sarapan, kami semua check out hotel dan menitipkan koper-koper kami dan melanjutkan jalan-jalan dengan menggunakan van yang saya sewa di Hobijalanasia, kami menuju ke Merlion Park lagi untuk foto-foto dan lanjut ke Sentosa untuk foto-foto depan Universal Sudio Singapore dan mencoba naik Monorail ke patung singa disana yang lebi besar ukurannya dari yang ada di Merlion Park.  Disana kami jalan-jalan dan shopping.

13Dari Sentosa, kami menuju mesjid Sultan lagi untuk makan siang di restoran Minang yang letaknya di belakang Mesjid. Pa Nizzam yang kebetulan seorang muslim dari Fillipina juga ikut makan dan sholat disana. Dan setelah itu kita kembali ke hotel untuk mengambil koper-koper kami.

Kami mampir dulu ke Mesjid Hj. Fatimah yang letakknya juga tidak jauh dari hotel. Ini pertama kalinya saya  kesana dan mengajak teman-teman kesana karena saya perkirakan waktu kita masih leluasa sebelum ke bandara Changi. Sebelumnya jauh hari saya sudah tahu ada mesjid unik  yang namanya dari seorang nama perempuan ini namun tidak pernah sempat mengunjunginya. Kunjungan saya kesana menambah pengetahuan saya tentang masjid yang ada di Singapore.

Dengan sedikit masalah di van pa Nizzam, akhirnya kita tiba juga di bandara Changi. Sebagian Nelly kembali berburu belanjaan disana walau sebagian tidak ikut karena sudah lelah dan rindu keluarga sehingga ingin cepat pulang ke rumah masing-masing. Begitu juga dengan saya dan suami. Kami habiskan waktu berkomunikasi dengan menggunakan fasilitas Wifi gratis yang tersedia di bandara canggih itu. Alhamdulillah perjalanan kami selamat walau kami mengalami delay kembali untuk beberapa menit. Perjalanan dengan Nelly memberi banyak kesan indah dan menambah pengalaman saya dalam travelling.

Cerita Uang Receh 2 Shilling

Pagi hari di hostel saya terbangun, walau tidak saya dengar suara azan shubuh, saya segera bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan ambil wudhu. Kamar mandi sistem berbagi ini yang membuat saya semangat untuk beraktifitas lebih awal dari yang lain. Selesai mandi saya baru melihat jam dari telepon genggam yang ternyata masih lama ke waktu shubuh. Saya tunaikan shalat tahajjud dan lalu buka-buka telepon genggam memanfaatkan fasilitas wifi hostel yang lumayan kenceng. Saya balas-balas pesan yang kemarin tidak sempat saya respon. Tak lama beberapa teman juga terbangun dan sama memulai kegiatan pagi itu. Saya keasyikan WA-an setelah dapat respon dari suami di rumah. Dan akhirnya saya sadar teman-teman bahkan sudah sholat shubuh semua, dan saya malah sholat yang terakhir jadinya karena WA-an. Ya Allah Maha Pengampun, ampuni dosaku ini, dalam hati saya berkata.

Waktu makan pagi, saya memang agak curiga ketika memesan makanan take away untuk sarapan di restoran dekat hostel, kakak yang melayani pesanan, ia asal Batam, saudara saya,  meminta saya untuk membawa saja serta teman-teman untuk sarapan di restorannya dengan dalih belum ada pekerja yang mengerjakan take away dan murah sarapan hanya 2RM saja. Setahu saya paling murah sarapan di malaysia itu berupa nasi lemak paling tidak 3-4RM, 6RM sudah dengan teh Tarik hangat.

Ternyata memang 2RM tapi untuk satu macam hidangan saja. Jadi apa yang mereka siapkan prasmanan, setiap temanku mengambil tidak hanya satu macam saja lauk bahkan ada yang ambil nasi dan mie atau bihun pula, Karbo plus karbo gitu. Bagaimana tidak teman-teman pasti tergoda untuk mencoba berbagai lauk yang dihidangkan. Sebagian teman sudah saya minta untuk mengambil dua macam hidangan dengan minum namun ketika mereka mengambil hidangan si Kakak itu bilang boleh-boleh semua diambil sama makanya mereka ambil berbagai macam hidangan. Semua hidangan terlihat enak dan menggugah selera makan dan saya pun merasa begitu. Beruntungnya, kenyataan sebanding dengan apa yang di rasakan. Setiap hidangannya memang enak. Restonya dapat direkomendasikan. Restoran Engku sebelah hostel Warm Blanket.

Tiba giliran saya membayar semua yang sudah kami makan, si kakak asal dari Batam itu nyengir. Saya bilang dia sudah menjebak saya sehingga saya harus mengeluarkan ringgit saya lebih dari yang saya siapkan untuk makan pagi itu. Namun saya tidak keberatan membayarnya, kami sudah sangat puas dengan semua yang kami makan, pelayanannya cepat dan juga ramah. Saya pun sudah berjaga-jaga kalau ini terjadi. Dari pengalaman membawa rombongan teman sebelumnya, jadi selain  saya jatahkan minimal tapi saya juga siapkan jatah maksimal untuk makan teman-teman. Saya minta diskon untuk semua biaya makan kami. Dia hitungkan biaya makan kami kalau take away, dia perlihatkan hasilnya kepada saya dan saya bilang “curang”. Diapun memberikan diskon makan kami sambil tertawa.

Dia bilang saya pelit ketika saya menukarkan beberapa uang shilling 20 cent agar saya dapatkan 2 shilling uang 10 cent Malaysia untuk saya gunakan di mesin air otomatis depan hostel kami. “Kakak ni pelit kali! ” ujarnya. Saya tidak sedikitpun tersinggung dengan ucapannya, saya memang berusaha memanfaatkan uang shilling yang saya miliki untuk saya berikan ke teman-teman saya yang butuh air minum. “ini untuk teman-teman saya dan perjalanan kami masih jauh. “ saya jawab. Dia tersenyum dan malah meminta botol-botol air yang saya bawa dalam kantong plastik. Dia pergi kebelakang dan kembali membawa botol-botol itu penuh dengan air minum. Saya terima botol-botol itu  dan saya berikan uang receh shilling itu kepadanya, namun ia menolaknya. Saya  memaksa dia untuk menerima uang receh saya, tapi dia menolaknya lagi. Lalu saya bilang “ kalau shilling tidak mau ya?”. Dia menjawab “sudah lah kak, ambil saja”.  sambil tersenyum geli.

Saya dapatkan shilling-shilling itu ketika belanja makanan ringan atau air mineral di Larkin sambil menunggu teman –teman yang belum datang. Setiap belanja saya dapati kembalian shilling ini selalu tepat tidak kurang dan tidak lebih. Di kota saya tinggal uang-uang receh itu seperti tidak ada harganya, di buang dan dilupakan. Hanya pa ogah saja yang mau menerima uang receh itupun minimal gopek. Sama halnya kakak dari Batam itu berpikir. Tapi di sini 1 shilling bisa berarti sebotol minum air mineral refill dan 1 shilling itu dipakai teman saya mengisi air sepulang dari Sutera Mall. 1 shilling lainnya menjadi sebentuk bantuan sesama ketika seseorang belanja dan kurang 1 shilling untuk barang yang ia beli. Dia seorang laki-laki Cina yang belanja di mini market disamping Central market. Dia berterima kasih kepada saya hanya karena 1 shilling. Si kasir seorang melayu pun juga berterima kasih kepada saya karena saya sudah memberikan shilling itu kepadanya.koin malaysia

Perjalanan ke Johor Bahru

Februari lalu saya kembali membawa beberapa teman guru  yang ingin jalan-jalan ke Malaysia. Yang tujuan utama mereka adalah  ingin mengajak anak-anak mereka ke Legoland, maka saya atur perjalanan yang mulai dari Singapore lalu ke Johor Baru dan lanjut ke Kuala Lumpur.

Ditengah proses pembentukan group perjalanan, awalnya hanya ada 6 orang yang bergabung, lalu ada 3 orang lagi dari depok yang ingin bergabung dengan catatan mereka ingin melaksanakan tugas literasi yang diberikan oleh kepala sekolah mereka dengan cara mengunjungi  beberapa perpustakaan yana ada disana.

Karena tujuan pertamanya adalah mengunjungi legoland untuk anak-anak dari dua orang bunda di group, maka saya rancang perjalanan dari Jakarta ke Singapore, lalu ke Johor Bahru,  lanjut ke Kuala Lumpur dan pulang ke Jakarta.

Legoland berada di Johor Bahru yang berbatasan dengan Singapore. Saya sudah pernah menjalani rute dari Singapore ke Malaysia sebelumnya, namun saya tidak pernah singgah ke legoland Johor Bahru. Adapun saya pernah singgah beberapa kali di rest area di daerah bernama Gelang Patah yang merupakan daerah di Johor Bahru hanya untuk istirahat sebelum masuk ke imigrasi check point Malaysia dan lalu Singapore.

Dengan senang hati aku menerima permintaan mereka ke Johor Bahru, karena aku selalu senang dapat menambah wawasan dan pengalaman dalam melakukan setiap perjalanan. Dengan biaya yang terbatas dan terjangkau, saya atur mulai dari transportasi udara,  darat, penginapan dan makan dan lain-lain. Untuk tiket pesawat, pemesanan tiket pulang pergi dilakukan terpisah berselang hari. Pertama 6 penumpang termasuk saya, satu penumpang menyusul di keesokannya dan 3 penumpang lain di seminggu setelahnya. Harganya memang tidak sama namun masih terjangkau menurut hitungan saya.

Pada hari keberangkatan kami semua sepakat tepat waktu bertemu pagi di depan bandara Soekarno Hatta di terminal 2E. Saya janjian dengan peserta perjalanan yang dari Bogor untuk berangkat bersama menggunakan bus damri, sedangkan peserta dari Depok mereka memakai jasa taksi online bersama-sama untuk menuju bandara.

Setiba di bandara, kami semua saling berkenalan karena selama ini komunikasi berjalan melalui group di whatsApp yang saya buat saja. Setelah berkenalan kami semua melakukan check in untuk mendapatkan Boarding pass kami masing-masing. Ada sedikit kesalahan dalam pengetikan nama namun hal itu mudah tertanggulangi karena kebijakan maskapai yang mempermudah penumpang dalam hal pemesanan. Cukup memperlihatkan passpor asli sudah cukup. Alhamdulillah dan setelah mendapatkan boarding pass, kami semua melakukan prosedur imigrasi dan segera menuju lobby tunggu pesawat.

Beruntung pesawat kami sesuai jadwal sehingga kami tidak menunggu lama dan segera tiba di Changi bandara Singapore yang terkenal bagusdan lengkap fasilitasnya . Segera setelah mendarat di Changi terminal 1, kami ambil sky train menuju terminal 2 karena letak stasiun MRT ada di sana  dan segera aku mengingat kembali pengalaman mencari stasiun MRT yang berada di bawah bandara di kunjungan pertamaku ke Singapore beberapa tahun yang lalu.

Dengan bantuan tanda-tanda dan tanya-tanya, akhirnya kami berhasil menemukan stasiun MRT dan segera membeli tiket melalui mesin tiket yang berada tidak jauh dari loket manual. Saya agak lama mengingat kembali bagaimana menggunakan mesin tiket itu, namun ada seorang ibu tua yang bertugas membantu setiap orang yang ingin membeli tiket di mesin.  Aku beli 9 lembar tiket ke stasiun Rafles Place untuk teman-teman,  dan saya sendiri, saya pakai kartu MRT saya yang lama yang masih tersisa SG$ 16 ketika aku periksa di mesin tiket. Kami segera masuk ke MRT dan menikmati perjalanan setelah mendapatkan tiket.

Saya sempat lupa untuk segera pindah flatform ketika MRT kami mencapai stasiun Tanah Merah untuk pindah MRT yang menuju Tuas Link karena di Tanah Merah ada dua line hijau yang berbeda, ada satu berakhir di Tuas Link dan satu lagi berakhir di Pasir Ris. MRT yang kami naiki kembali ke Changi maka kami terpaksa turun di stasiun Expo yaitu stasiun yang letaknya diantara Changi dan  Tanah Merah dan lanjut balik naik MRT lagi ke arah Tanah Merah dan pindah MRT di flatform yang menuju Tuas Link diakhir stasiun jalur hijau itu. Dan akhirnya kami dapat mencapai stasiun Rafles Place setelah melewati beberapa stasiun MRT.

Keluar dari stasiun Rafles Place, saya langsung arahkan teman-teman menuju Merlion Park melewati jembatan penghubung yang ada di sebuah mall menuju hotel Fullerton di seberang Jalan. Setelah sampai di seberang, pemandangan ikonik kota Singapore berupa gedung bernama Marina Sand Bay, Museum Art,  Esplanade dan Merlion park membuat takjub teman-teman yang sebagian besar belum pernah melihatnya. Bagi mereka yang sudah pernah ke Singapore, termasuk saya tetap saja terpesona dengan pemandangan sekitar siang itu.  Dengan segera kami semua mengabadikan pemandangan dengan mengambil foto selfie dan juga wefie bersama dalam berbagai gaya, walaupun awan hitam ikut menghiasi langit Singapore siang itu.

Selesai berfoto dan menikmati pemandangan dan suasana merlion Park siang itu,  saya segera mengajak teman-teman untuk melanjutkan perjalanan ke Bugis. Sehingga kami semua kembali ke stasiun Rafles Place dan menambah tiket kami untuk lanjut naik MRT ke daerah Bugis.

Sampai di stasiun Bugis, awan hitam tak terbendung lagi untuk hujan sehingga yang awalnya saya akan mengajak mereka ke Mesjid Sultan dahulu saya urungkan. Saya sarankan mereka untuk menikmati belanja di Bugis Street dengan harapan hujan reda setelah beberapa waktu. Niat saya untuk mengantarkan beberapa dari teman yang ingin mengunjungi perpustakaan terdekatpun terganggu karena hujan cukup deras. Sehingga saya hanya sanggup menunjukkan gedung putih tinggi beratap kerangka baja putih  yang merupakan perpustakaan Nasional Singapore dari Bugis Street dan merekapun bisa mengerti.

Hujan cukup menyita waktu kami di Bugis Street. Segera setelah hujan mereda, kami lanjutkan perjalanan ke Mesjid Sultan yang tidak jauh letaknya dari  Bugis Street. Permasalahan muncul karena bawaan mereka mulai memberat oleh belanjaan mereka di Bugis tadi. Sebagian anak mengeluh kecapean dan bunda-bunda berusaha menghibur mereka dengan bujuk rayu ala bunda pintar.

Sesampai di Mesjid Sulthan kami melaksanakan Sholat dan setelah itu kembali berbelanja di toko-toko souvenir di sekitar mesjid. Saya sendiri menikmati hidangan ala Padang yang ada diujung belakang mesjid sendirian karena mereka sudah makan siang semua di Bugis. Selesai puas menikmati mesjid, tak lupa foto-foto, kami semua menuju stasiun bus menuju Johor yang berada tidak jauh dari Mesjid Sulthan yaitu stasiun bus Queen street.

Ditemani rintik hujan yang melemah, semangat langkah kaki kami semua menguat menuju stasiun bus Queen street. Namun sayang, pemandangan antrian penumpang bus begitu mengular membuat kami semua agak kecewa. Terpikir jarak dan waktu yang tidak mungkin terjangkau karena antrian itu, saya mengajak teman-teman untuk naik taksi ke Johor. Walau biaya transportasinya jauh lebih mahal, namun atas pertimbangan beberapa hal mulai dari kenyamanan imigrasi yang bisa dilakukan di mobil dan efektifitas waktu berhubung saya  sudah sewa mobil yang akan menjemput kami di stasiun bus Larkin jam 09.00 malam. Kebijakan sewa jemput dan antar harus tepat waktu. Bila lewat waktu maka saya akan kena wajib bayar kelebihan waktu tersebut. Saya beruntung teman-teman memutuskan yang terbaik untuk kita semua dengan menyetujui ide saya untuk ganti naik taksi menuju Johor Bahru walaupun mereka harus menambah biaya transportasi lagi.

Kebijakan taksi di Singapore yang hanya boleh mengangkut maksimal 4 penumpang membuat kami harus terpisah kendaraan menuju Johor Bahru. Aku harus sewa 3 taksi dan menyakinkan beberapa teman-teman yang terpisah untuk tenang dan juga beberapa kali menyakinkan para sopir taksi  yang akan membawa kami agar menurunkan kami ditempat yang sama di stasiun  bus Larkin di Johor Bahru. Setelah sepakat baru kami naik taksi semua.

Sepanjang jalan menuju perbatasan ternyata lalu lintas luar biasa sangat macet karena diakhir pekan banyak warga Malaysia yang pulang kerja pulang dan banyak pula warga Singapore yang ingin berlibur ke Malaysia. Dan kami warga Indonesia ikut memacetkan lalu lintas karena ingin ke Johor Bahru. Kami juga melihat banyak orang berjalan kaki di pinggiran jalan. Mereka berjalan dari imigrasi Singapore ke imigrasi Malaysia yang berjarak 3 kilo meter jauhnya karena mereka mungkin ketinggalan bus yang mereka tumpangi sebelumnya.

Hal itu sebetulnya sudah disampaikan oleh Mr. Jason. Ia adalah orang yang saya hubungi melalui WhatsApp, Ia dari pihak jasa sewa mobil khusus jalur Singapore- Johor Bahru (SGJB) yang akan menjemput kami dari stasiun bus Larkin ke Hotel Warm Blanket dan sebaliknya dihari berikutnya. Ia sudah informasikan keadaan macet dan sibuknya antrean di setiap imigrasi. Ia menyarankan saya untuk langsung ambil jasa layanan sewa mobilnya langsung dari Singapore ke hotel namun karena biayanya yang cukup mahal makanya saya hanya ambil sebagian layanannya. Lagi pula tetap lebih mahal biayanya dibandingkan memakai jasa taksi.

Perjalanan melewati perbatasan Singapore dan Malaysia menghabis waktu selama 3 jam yang biasanya hanya sekitar 1,5 jam atau 2,5 jam dengan bus umum dari informasi supir taksi dan juga dari yang saya baca di beberapa blog orang-orang yang berbagi pengalaman mereka mengunjungi Johor Bahru dari Singapore.

Setibanya di stasiun bus Larkin, saya lihat 3 dari teman saya sudah menunggu kami. Kami turun dari taksi dan tak lupa ucapkan terima kasih. Kami menunggu 4 orang teman kami yang belum muncul. Kami menunggu cukup lama, saya dan teman-teman lain cukup khawatir. Sambil menunggu saya sempatkan mengganti nomor hp dengan nomor Malaysia yang sudah saya bawa. Saya top up dan paketkan data agar saya dapat menghubungi supir yang akan menjemput dan mengantar kami ke hotel.  Saya minta mereka untuk menunggu kami 10 menit agak telat dari perjanjian. Dan setelah beberapa waktu akhirnya ke 4 teman kami muncul dari taksi yang mereka tumpangi. Kami semua bertanya atas keterlambatan mereka. Ternyata si supir taksi yang mengantar mereka melaksanakan sholat dulu di rest area sebelum perbatasan Singapore. Kami semua tertawa lega mengetahui pemasalahan keterlambatan mereka. Saya rasa itu adalah suatu keterlambatan yang penuh berkah bagi ke-4 teman kami dan juga kami yang ikut menunggunya.

Segera kami menuju mobil yang sudah menunggu kami di luar terminal, mereka menunggu di depan KFC dan kebetulan kami belum makan, saya tawarkan teman-teman untuk menikmati ayam goreng nanti di hotel dan mereka setuju. Apalagi anak-anak, mereka dengan senang menyetujuinya.

Kami tiba di hotel Warm blanket sekitar jam  10 malam, kamar-kamar keluarga yang kami pesan cukup menyenangkan. Walau tempat tidurnya bertingkat, tapi tidak sulit bagi kami untuk naik ke kasur atas karena tangganya besar-besar dan lebar. Anak-anak malah menikmati tangga-tangga tersebut untuk duduk-duduk santai bahkan makan dan beraktifitas lain disitu.

Saya tidak langsung tidur. Setelah shalat saya sempatkan keluar untuk mengisi ulang botol air minum kami di mesin air isi ulang yang letaknya di luar depan hotel. Beberapa teman ikut serta dan menikmati keadaan sekitar hotel yang tenang malam itu. Ada gerai Seven Eleven dan sebuah restauran yang cukup ramai. Saya yang belum sempat makan segera memesan makanan disitu. Makanannya enak dan dari menujuga daftar harga yang saya lihat cukup bervariasi dan terjangkau harganya. Maka saya putuskan untuk mengajak teman-teman untuk sarapan di restoran Engku esok paginya.

Setelah makan malam, sambil packing bersama,  saya ngobrol dengan teman-teman sekamar yaitu guru-guru dari sebuat SDIT di Depok. Saya senang mendengar kesan mereka semua pada hari itu. Mereka semua kecapean namun mereka semua merasa senang dan terkesan dalam melewati setiap waktu disana tadi. Kami cukup lama baru bisa tidur karena suasana di luar agak ramai dengan gelegar kembang api. Kami bahkan dapat melihat kilatan kembang api dari jendela di hotel.