RSS Feed

MINUS DERAJAT CELCIUS DI TURKI

tukrPulang beribadah Umroh saya dan suami langsung lanjut perjalanan ke Turki. Perjalanan kami ambil umroh plus Turki dengan pertimbangan  biaya ke Turki yang terhitung murah. Harap maklum setiap kali saya selalu berpikir hemat untuk setiap perjalanan kami. Saya ingin uang sisanya bisa lebih manfaat untuk hal lainnya sehingga faktor kenyamanan hotel dan fasilitas tidak menjadi hal yang paling penting dalam kegiatan backpack kami. Namun backpack kali ini diluar dugaan, kami malah dapat hotel dan fasilitas akomodasi yang terbilang mewah bagi kami. Mungkin karena tujuan utama perjalanan kami ini murni beribadah jadi berkah segala sesuatunya.

Bukan bermaksud apa-apa dengan menuliskan ini, lebih banyak kenangan lain tapi saya ingin kenangan manis ini dapat saya ingat detilnya dikala saya mulai sulit mengingatnya. maka dari itu saya berusaha menulisnya dari catatan-catatan yang saya buat di sobekan kertas dan dari ingatan-ingatan yang masih masih segar ketika saya menuliskan ini.

Day 1

Kami meninggalkan Mekah dini hari jam 03.00, penerbangan ke Turki dimulai dari Riyadh. Sampai bandara Riyadh yang menurut saya cukup kecil, kami sholat subuh setelah check in. Ada kejadian lucu ketika kami berdua terpisah rombongan ketika sholat subuh, kami agak bingung  ketika kami tidak melihat teman-teman serombongan, dan juga dengan masalah setiap sign dan notice yang didominasi oleh bahasa arab namun dengan percaya dirinya kami langsung saja kami memasuki imigrasi yang ternyata itu bagian penerbangan lokal.

Kami masuk terpisah,  bagian wanita di periksa di ruangan tertutup sedangkan suami masuk jalur imigrasi di luar. Setelah selesai saya keluar menuju belt untuk mengambil tas dan jaket saya namun ternyata petugas imigrasi berkata sesuatu yang terdengar tidak familiar bahasanya “Sisos” ucapnya. Karena saya berpikir dia sedang berbahasa Arab saya memintanya berbahasa Inggris. Saya berujar”in English please!”. Si petugas mengangguk dan kembali berujar “Sisos, ….English”. Masya Allah ternyata kuping saya yang error, saya baru ngeh ada gunting yang saya gunakan untuk Tahalull ads didalam tas saya. Saya langsung berpikir suami saya juga pasti mengalami hal yang sama, dan ternyata benar. Sambil senyum tertawa memikirkan kebodohan tadi kami langsung ke ruang tunggu.

Kami menunggu peserta lain sekitar 10 menit di ruang tunggu di depan gate penerbangan. Untuk penerbangan pesawat Saudi, informasi  gate tidak di cantumkan di boarding pass sehingga kita harus senantiasa stand by melihat papan boarding dan disitu kami baru sadar bahwa kami berada di gate yang salah yaitu di gate penerbangan lokal karena semua penerbangan yang terlihat di papan boarding semua tujuannya domestik.

Secepatnya kami keluar dari area penerbangan lokal dan kembali ke meeting point kami. Karena kami tidak juga bertemu teman-teman serombongan, kami akhirnya masuk segera ke bagian imigrasi lagi tapi kali ini kami yakin tidak salah masuk lagi, ini betul bagian penerbangan luar negeri dengan rasa yang agak cemas karena kami tidak juga melihat teman-teman serombongan di antrian imigrasi.

Setelah memastikan penerbangan di papan boarding, kami duduk diruang tunggu dan berusaha tenang karena yakin melihat jam penerbangan yang masih luang. Tak lama setelah 10 menit duduk disitu, barulah kami melihat serombongan teman-teman kami memasuki ruang tunggu. Rupanya banyak dari mereka yang berbelanja barang bebas pajak atau duty free sebelum memasuki bagian imigrasi. Alhamdulillah.

Di pesawat kami duduk dibarisan paling belakang bersebelahan dengan mushola pesawat. Pesawat yang kami tumpangi tidak penuh penumpang sehingga banyak dari teman serombongan dapat melanjutkan  tidur di bangku-bangku yang kosong dengan bebas. Ada  beberapa teman kami yang sengaja ke mushola pesawat untuk sholat dhuha, rebahan setelah sholat dan bahkan pijit-pijitan secara bergantian. Namun tak lama mereka yang melakukan aktifitas lain selain sholat di mushola itu di tegur seorang pramugara untuk kembali ke kursi masing-masing.  Perjalanan sekitar 4 jam menuju Turki berjalan lancar. Kami siap dengan long john, jaket, kupluk dan sarung tangan terpasang di  badan ketika sudah mulai turun mendekati tujuan. Saya melihat berderet-deret pegunungan yang putih tertutup salju dari atas pesawat.  Tidak terbayang dinginnya karena belum pernah mengalami musim dingin sebelumnya.

busSampai  turun di bandara Attaturk,  saya langsung merasakan angin dingin mengenai pipi. Saya spontan menutupi pipi saya dengan kedua tangan saya. Segera kami turun dari pesawat  dan naik bis bandara yang bentuknya lucu. Ukurannya lebih besar dan lebar dari bis-bis biasa sehingga dapat memuat penumpang lebih banyak. Saya duduk dibelakang dengan suami sambil menikmati pemandangan bus lucu yang lain yang berada di belakang bis kami. Di dekat kursi kamipun ada beberapa penumpang asli warga Turki yang cantik dan ganteng dan juga ramah-ramah. Kami nilai itu  dari senyuman mereka yang tulus.

Sampai didalam bendara kami semua berkumpul dan berfoto-foto dahulu dan menyiapkan masing-masing visa elektronik yang ada pada hp kami masing-masing. Setelah selesai melewati proses imigrasi kami menuju belt untuk mengambil koper masing-masing. Karena koper kami rata-rata sudah penuh oleh-oleh dari Arab, koper-koper tersebut terasa berat untuk di geret-geret, kami memerlukan troley barang. Troley disana tidak gratis. Untuk dapat memakainya,  kita harus memasukan coin 1 lira di slotnya. Karena kami tidak punya recehan koin, tour leader kami yang baik pa Fauzan memberi beberapa koin 1 lira yang ia punya. Kerena tidak semua kebagian koin maka saya gabungan dengan ibu Winda.

Sampai di barisan troley kami langsung masukan koin tersebut ke slotnya namun kami kesulitan untuk menarik troley tersebut. Kami minta bantuan petugas bandara yang sedang lewat. Dengan baiknya petugas itu membantu kami dan kami malah dapat koin gratis darinya karena dia tidak mau koinnya diganti. Baru sampai bandara Turki sudah di traktir, rejeki tapi kami harus berbagi. Kami berikan koin kami kepada yang lain yang tidak kebagian koin.

Keluar bandara Attaturk menuju tempat parkir dimana bus dan supir kami sudah menunggu. Udara dingin bersuhu -1 derajat celcius dengan langit biru yang cerah menakjubkan kami semua. Dingin sekali seperti berada di freezer, saya dan suami saling bermain hembus-hembusan udara yang keluar dari mulut kami. Ketika kami tersadar bahwa ketika berbicara atau terkekeh takjub, dari mulut kami keluar asap saking dinginnya, mulut kami menjadi mulut naga semua.

Kami di sambut oleh wanita muda cantik yang bernama Gamze pemilik travel Skyhav  yang rupanya sudah mempunyai anak karena ia bawa serta anaknya bekerja dan seorang sopir bis bernama pa Mehmet. Pa Mehmet membantu memasukan koper-koper kami kedalam bagasi bis. Kami segera masuk ke dalam bis putih itu mencari kehangatan. Dari luar, bis sepertinya biasa namun ketika kami masuk kedalamnya ternyata bisnya canggih karena terdapat wifi dan tv di setiap kursi sehingga penumpang bis  yang dudukdibelakang bisa melihat pemandangan depan bis dengan leluasa melalui tv tersebut. Gamze dan pa Fauzan memberikan beberapa informasi tempat-tempat yang kami lewati sepanjang jalan. Kami juga mendapatkan beberapa informasi sekitar budaya dan sejarah negara Turki dari mereka.

tirisDari bandara kami langsung menuju ke Bursa yang berada di bagian Turki Asia.  Di perjalanan menuju hotel Karsivaray di Bursa, kami berhenti sejenak disebuah rest area untuk sholat. Dari situ saya belajar bahwa bahasa Turki mesjid adalah”mescit’ dan istilah wanita itu “bayan” dan laki-laki adalah  “bay”. Saking dinginnya disitu saya tayamum karena tidak tahan terkena air walaupun tersedia air hangat untuk wudhu. Dan segera menuju bis menghangatkan badan.

Sampai di hotel saya kembali takjub karena hotelnya bagus bintang lima. Kami langsung makan malam ala Buffet yang mewah. Segala tersedia. Macam-macam makanan ala Turki tersedia. Namun saya tidak menemui kebab Turki yang terkenal di kota saya. Makanan yang memanjakan mata  rupanya tidak selaras dengan lidah saya. Sebagian besar terdiri dari sayuran dan selalu ada irisan buah zaitun yang sudah di asinkan. Saya memilih lebih banyak makanan desert berupa roti, kue, puding dan salad saja untuk makan malam itu.

Setelah makan malam saya mampir ke toko souvenir yang ada di dalam hotel  membeli pashmina untuk kakak ipar saya. Setelah melihat-lihat dan harganya lumayan mahal saya urung mau membeli salah satunya yang saya suka, tapi karena pelayannya baik sekali dan ramah pula, akhirnya jadi saya beli satu . setelah dibungkus saya dan suami langsung menuju kamar hotel. Kamar hotel kami sangat bagus. Ini merupakan kejutan indah, kami sudah lama tidak menikmati kebersamaan berdua karena rutinitas bekerja, anak-anak dan lain sebagainya, jadi kami anggap ini hadiah dari ibadah kami.

Day 2

Esok pagi kami sarapan bersama. Menu sarapan pagi itu lebih baik dari semalam saya bisa dengan lahap dan semangat makannya. Saya ambil beberapa roti, croisant dan yogurt untuk perbekalan di perjalanan bis. sesuai rencana kami berangkat pagi jam 07.00. keluar dari hotel terasa lebih dingin dari hari sebelumnya karena pagi itu suhu mencapai -5 derajat celcius. Didepan hotel terlihat gundukan salju putih di atas rumput taman hotel dan kami sempat berfoto dengan latar salju ditaman tersebut namun kala itu matahari masih belum tampak sehingga pemandangan masih gelap. Tour hari itu kami dipandu oleh seorang gadis Turki yang cantik bernama Nilai dan Pa Mehmet sudah siap kembali mengantar kami keliling kota Bursa dan lanjut ke Instambul daerah Turki bagian Eropa.

uluPertama-tama kami mengunjungi mesjid agung di Bursa bernama Ulucamii tepat jam 8 pagi. Ulucamii merupakan mesjid tertua dan terbesar yang ada diBursa. Sebelumnya saya sempat melihat-lihat mesjid lain disepanjang jalan. Sungguh unik mesjid-mesjid disana, mereka tampak sama semua dengan ciri khas kubah yang lebar dan menara-menara tinggi dan kurus di setiap sudut mesjid. Namun karena mesjid ini mesjid tertua maka tembok dan desain bangunannya lebih terlihat antik dan sederhana. Petugas masjid sempat sempat marah kepada Nilai karena kami menaruh sepatu di luar mesjid karena tempat sepatu di sediakan di dalam masjid. Didalam tengah masjid ada semacam kolam pancuran yang berguna untuk tempat berwudhu. Didalam mesjid terdapat-tiang-tiang besar yang di hiasi oleh kaligrapi yang indah. Saya sempat berfoto didalam masjid yang sebelumnya saya tidak tahu kalau itu dilarang. Saya tahu setelah salah satu dari rombongan kami di tegur untuk tidak berfoto oleh seorang petugas masjid.

Di luar masjid terdapat beberapa kios kecil. Saya sempat melihat beberapa souvenir yang akhirnya saya memutuskan membeli satu pashmina lagi dengan bertujuan menukarkan uang 100 Lira saya menjadi recehan yang lebih kecil. Pashmina yang ada disalah satu kios cantik-cantik. Saya membeli satu yang asli buatan Bursa seharga 35Lr. Saya minta 5 receh koin 1 Lr untuk kembalian saya. Ketika menuju bus saya berpapasan dengan wanita tua yang meminta sedekah. Untung saya sudah punya recehan jadi saya berikan koin 1Lr saya kepadanya lalu langsung bergabung naik bus dengan yang lain.

Tempat kedua yang kami kunjungi adalah  Munira, yaitu tempat penjualan lokumo turkish delight yang merupakan makanan khas Turki berupa gula-gula yang bahan dasarnya adalah madu dan atau juga dari gula. Pemilik toko memberikan beberapa deskripsi tentang barang-barang yang di jual di munira. Kami mendengarkan sambil mencicipi beberapa lokumo yang ditawarkan. Yang terbuat dari gula harganya  lebih murah dan sudah dikemas dalam kotak. Lokumo asli dari madu dijual di gerai terpisah. Satu kilo seharga 100Lr dan dapat di campur rasanya, ada yang di balut safron, coklat, kacang, dan lain-lain beraneka rasa. Selain Lokumo di jual juga minyak zaitun dan madu asli dengan kualitas terbaik di Bursa.  Kami hanya membeli sekotak lokomu karena kami kurang suka manis, sebotol kecil madu untuk menjaga  stamina dan bendera Turki untuk menambah koleksi saya. Sebetulnya bendera itu tidak di jual tapi saya meminta untuk  membelinya dan si pelayan mau menjual bendera setelah meminta ijin kepada bosnya dan kami setuju akan harganya.

Di perjalanan berikutnya Nilai juga memberikan kami beberapa informasi tentang budaya di Turki. Mulai dari kopi turki dan makanan khas sampai dengan mitos yang ada di itu Mata Biru yang dipercaya sebagai simbol pembawa berkah. kami berhenti sejenak di sebuah rest area, diberikan waktu 15 menit untuk mereka yang ingin ke toilet. Berhubung toiletnya berada didalam sebuah swalayan maka spontan kami serombongan ikut turun tidak sekedar ke toilet tapi juga berbelanja. Saya pun ikut serta berbelanja.  Karena waktu yang sempit saya hanya membeli sekotak kecil Lokumo dan beberapa gantungan kunci dan gelang dengan simbol Mata biru seharga 3 Lr. Saya melihat si pelayan dan bosnya kewalahan melayani kami karena kami semua bergegas dan terburu-buru dalam membeli barang-barangnya.

Kami melanjutkan perjalanan  ke kota, dan sepanjang jalan kami melihat banyak sekali pohon zaitun yang tertutup salju. Pa Mehmet menurunkan kami ditengah jalan yang tebal saljunya sehingga kaki kami amblas ketika turun dari bis. Kami bermain salju disitu sebentar dan berfoto bersama. Baru kali itu  saya dan suami memegang salju, walau dingin kami saling melempar bola salju seperti di film –film romantis.

Dari bermain salju kami lanjut ke sebuah cafe bernama Apollo di kota Istanbul untuk makan siang. Menuju ke cafe, Nilai guide kami menunjukkan kami  penjual roti  ismit di pinggir jalan dan menerangkan bahwa orang Turki biasa memakan roti itu di sore hari. Karena penasaran saya dan suami membeli sepotong roti Ismit yang cukup besar untuk berdua. Tekstur roti yang padat seperti adonan pretzel . Ketika kami berdua makan teman-teman juga ikut mencicipi roti itu. Rasanya enak dan wangi wijennya menambah selera. Untung kami berbagi sehingga tidak terlalu kenyang perut. Sampai di cafe kami lihat hidangan disajikan prasmanan dengan beraneka macam rupa. Saya ambil beberapa sendok nasi, macam salad ,  daging asap yang dicampur mayonaise dan roti beraneka rasa. Sayuran yang disajikan khas selalu dicampur minyak zaitun.

Setelah makan siang kami lanjut ke istana Topkapi. Sepanjang jalan menuju istana Topkapi kami mengagumi benteng-benteng konstantinopel tinggi sepanjang selat Bhosporus. Istana mewah yang berubah fungsi menjadi museum yang menyimpan banyak koleksi kejayaan Islam  ini merupakan istana bagi raja-raja penguasa Turki diabad kejayaan pada awalnya. Didalam museum saya melihat banyak koleksi barang-barang bersejarah. Saya senang melihat koleksi-koleksi senjata para rasul, sahabat nabi  , prajurit pahlawan penyebar agama Islam dan para kerabat terdekat. Beberapa barang koleksi yang saya lihat didalam baju jazirah yang masih lengkap dengan helm dan baju besi, tameng, palu gada, panah, pedang, senapan antik , berjenis-jenis jam antik, pakaian,  kaligrafi, kunci kabah dan juga Al quran .   Dari semua koleksi yang membuat saya takjub  adalah pedang Rasul, tongkat nabi Musa as dan baju siti Fatimah yang masih utuh.

Berdekatan dengan Topkapi ada museum lain yang megah dan terkenal Agung dengan menara-menara yang tinggi menjulang yaitu museum Hagia Sofia. Bangunan itu dulunya merupakan gereja  lalu berubah menjadi mesjid di masa kejayaan Utsmaniyah,  sekarang berubah fungsi  menjadi museum. Namun sayang  di hari senin Hagia sofia tutup maka kami tidak bisa mengunjunginya. Kami cukup mengagumi keindahan Hagia Sofia dari luar dengan berfoto berlatar bangunan Byzantium itu.

Kami Sholat Dzuhur di mesjid biru atau the Blue Mosque. Letak mesjid tersebut dekat dari Hagia Sofia. Mesjidnya sangat besar dan juga megah. Sebetulnya mesjid tersebut terbuat dari batu marmer putih namun nampak biru yang konon itu merupakan pantulan warna biru dari air laut  Marmara yang melintasi selat Bhosporus. Saya berwudhu walau menahan dingin udaranya dan lalu sholat didalam masjid tersebut. Takjub dan haru selalu menyertai waktu berdoa saya selesai sholat. Kembali selalu bersyukur atas segala nikmat yang saya rasakan.

Setelah sholat kami berkumpul didepan mesjid biru berfoto dan menikmati jagung rebus dan roti Ismit yang diolesi nutella bersama-sama sambil menunggu bis kami datang. Saya bertanya kepada Nilai bagaimana cara mengucapkan terima kasih dan juga mengatakan maaf dalam bahasa Turki sambil menunggu pa Mehmet datang. Dari situ saya tahu “Tesekkuler” mengucap terima kasih dan “Uzqunum” Meminta maaf. Saya merasa butuh untuk mengetahui itu karena saya sering bertemu orang-orang turki yang baik dan ramah lagi pula tujuan kami selanjutnya adalah pasar di Turki jadi akan banyak terjadi komunikasi ketika terjadi transaksi jual beli. Dua kata itu akan mewakili keramahan saya sebagai orang Indonesia di mata orang Turki.

Awalnya kami akan mengunjungi Grand Bazaar namun atas persetujuan bersama kami memutuskan untuk mengunjungi Spicy Market karena menurut teman kami yang pernah kesana, harga barang-barang di sana lebih murah dari pada di Grand Bazaar. Maka pa Mehmed mengantar kami kesana.

Hari mulai sore menjelang magrib. Pasar tutup jam 7 maka kami hanya punya waktu sekitar 1 jam untuk berbelanja. Diluar gerbang Spicy market berdiri beberapa serdadu gagah dengan pakaian bebas dan  dengan senapan laras berjaga-jaga karena waktu itu sedang ramai peristiwa penembakan sehingga setelah jam 7 keamanan di perketat. Kami masuk kedalam pasar tersebut dan menikmati waktu belanja kami. Harga barang-barang disana memang lebih murah, untuk gelang mata biru yang sama saya beli di rest area,saya beli dengan harga hanya 1 Lr. Saya beli lagi beberapa souvenir, kaos dan sebuah pasmina lagi untuk saya pakai menahan angin malam yang dingin. Tak lupa selalu saya ucapkan “Tesekkuler” selesai berbelanja dan saya lihat mereka senang sekali dan merespon dengan kata yang sama ” Tesekkuler”.

Keluar dari pasar keadaan sudah mulai gelap dan tak lama toko-tokonya pun tutup dengan cepat sekali. Saya lihat serdadu-serdadu bertambah banyak dan berpakaian komplit pula dan siap memegang senapannya  kembali berjaga-jaga di sekitar pasar yang hampir tutup semua. Kami semua berkumpul di depan pasar menunggu bis kami datang. Nilai berulang kali menelpon pa Mehmed dan tak lama  kemudian bis putih pa Mehmet datang menjemput kami semua.

Pa Mehmet langsung mengantar kami semua ke sebuah restauran kebab di tengah kota dan disitulah kami semua makan malam dengan menu yang sama yaitu kebab Turki. Reseptionis restoran menyambut kedatangan kami dengan ramah. Sebelum menyantap kebab kami semua diberi irisan buah apel dan jeruk, soup dan roti lalu, berbeda dengan kebab Turki yang selama ini saya makan di kota kami, kebab Turki disana tidak dibungkus oleh roti namun kebab disajikan dipiring berupa lipatan daging kebab yang digulung dan disajikan dengan nasi,  kentang  berbumbu yang di hancurkan dan sayuran.  Kami semua menikmati makan malam kami di restoran itu.

Setelah makan malam kami langsung diantar ke hotel Titanic. Sekali lagi kami merasakan pelayanan dan fasilitas hotel bintang lima. Kami langsung menuju ke kamar masing-masing dan beristirahat kerena besok hari kami kembali akan menikmat kota Istanbul  dan langsung menuju bandara untuk persiapan pulang ke tanah air.

Day 3.

Pagi hari jam 06.00 kami sudah bersiap sarapan dan siap menikmati kota Istanbul. Dari hotel kami mengunjungi sebuah butik lokal yang terkenal akan desain jaket yang bergaya dan berkualitas. Kami di beri suguhan teh hangat sebelum menyaksikan peragaan busana. Kami menyaksikan peragaan jaket-jaket musim dingin yang semuanya terbuat dari kulit domba Turki yang Halus dan ringan. Baru kali ini saya menyaksikan peragaan busana langsung. Para modelnya cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Beberapa teman di rombongan juga ada yang diajak untuk menjadi model. Itu merupakan hiburan tersendiri dan berkesan. Kalau ada jaket yang sesuai dengan selera, maka kita boleh mencatat nomor jaket yang ada tergantung ketika di peragakan diatas cat walk.

Ada beberapa jaket yang saya taksir. Saya pikir kalau harganya sekitar US$100-200 saya mau beli karena saya suka dengan detail dan warna jaket tersebut. Setelah selesai peragaan busana saya katakan niat itu ke suami dan dia menyetujuinya. langsung kami mencari-cari jaket nomer 303 yang saya suka. Namun Innalillahi ternyata jaket yang saya suka harganya diatas US$1000. Jaket-jaket lainnya pun harganya sama, mahal semua. Beberapa teman kami yang berduit ada yang membeli jaket-jaket tersebut. Wow …bahkan ada jaket yang seharga dengan biaya umroh backpacker kami. Karena tidak ada jaket seharga uang saya yang tersisa akhirnya saya turun gedung dan di lantai bawah ternyata banyak jaket dan tas dengan harga sale namun tetap mahal. Saya keluar gedung dengan penuh keheranan akan harga-harga Jaket tersebut. Salah satu teman saya dari Garut pernah menawarkan sebuah tas kulit seharga 400 ribu yang saya anggap masih mahal, disitu harganya bisa 10 x lipat lebih mahal. Masyaallah  mahal sekali jaket-jaket kulit itu.

Dari Butik kami diantar pa Mehmet ke kapal pesiar yang bersiap mengantarkan kami keliling dan menyusuri selat Bhosporus. Kami sebrangi jembatan Al Fatih, kami lewati Tanduk Emas,  kami susuri benteng-benteng peninggalan abad kejayaan dan kami kagumi pemandangan spektakular kota Istanbul yang unik dan romantis. Segala sudut kota cantik dan bersih.

Kapal pesiar yang kami naiki adalah milik Gamze pemilik travel. Kami tak kuasa menahan gembira menikmati keindahan pemandangan sekitar jetty yang cantik dan bersih romantis sekali. Sebelum pesiar kami berfoto-foto dan di dek kapal. Bendera Turki yang berkibar-kibar menjadi latar foto yang paling diminati kami semua. Rasa nasionalisme bangsa Turki sangat kental dengan berkibarnya banyak bendera itu disetiap sudut kota, gedung, pertokoan, rumah dan kapal pesiar. Setelah puas berfoto diluar kapal sambil menahan dinginya angin laut, kami kedalam kapal yang berada di bawah. Kami saling berbincang mengagumi keindahan dan keramahan Turki sambil menikmati teh hangat yang ditawarkan pelayan kapal. Sebagian dari kami menikmati kopi khas Turki. Tak lupa kami juga berfoto didalam dek kapal pemandangan pesisir yang indah tampak jelas terlihat dari jendela kapal.

Pesiar selama kurang lebih 1 jam setengah tak terasa berakhir di kala terasa akan merindukan saat-saat ini kelak karena hari itu merupakan hari terakhir kami menikmati Turki. Sedih rasanya meninggalkan tempat itu terlalu singkat. Seharusnya kami masih punya satu hari lagi untuk menikmati Turki namun terjadi perubahan jadwal berdasarkan pertimbangan cuaca. Beberapa teman dari rombongan menambah tinggal disana sehingga mereka tidak bareng pulangnya dengan kami. Sempat terpikir untuk ikut extend namun rasa rindu kepada anak-anak dan tanah air tidak sebanding nilainya dengan itu, belum lagi lelah dan waktu yang mepet menjelang habis liburan panjang. Saya rasa anak-anak kami juga berhak menghabiskan waktu dimasa liburan bersama kami orang tuanya.  Pa Mehmet mengantar mereka yang tidak ikut serta pulang di Spicy market.  Kami berpisah saling melambaikan tangan dan mengucap salam.

Dingin -1 derajat celsius kembali saya rasakan di airport. Namun kali ini saya tidak mengigil malah tertarik untuk menikmatinya. Sebelum turun bus saya tinggalkan buah pome dan beberapa jeruk mandarin di kursi bus untuk pa Mehmed yang sudah dengan berbaik hati menghantar kami. Peluk dan salam hangat untuk Nilai, gadis baik, cantik dan pintar yang selalu mendampingi kami,  kesan yang baik meninggalkan rasa dingin itu dengan menyelimuti hangatnya keramahan Turki yang tertinggal di benak saya.

 

Advertisements

My Day to Day Umroh Backpacker part 2

Hari kelima

Dihari kelima saya dan bu Winda berniat untuk kembali ke Raudhah namun atas saran tour leader kami ustadz Fikri dan pa Fauzan kami urungkan niat walaupun terasa sedih tidak bisa ke Raudhah lagi dan meninggalkan masjid Nabawi yang megah. Setelah sholat shubuh saya isi botol air saya dengan air zam-zam untuk perbekalan minum di bus. Panitia menyiapkan air mineral untuk jamaah namun rasanya tidak afdhol kalau tidak minum zam-zam. kami kembali ke hotel untuk persiapan berangkat mengambil miqot di Bir Ali dan menuju Mekah untuk melakukan Umroh. Dari hotel kami semua sudah mandi dan bersiap cantik polos memakai pakaian serba putih dan para laki-laki sudah gagah memakai kain ihram.

miqot-bir-aliSepanjang jalan di bus saya dan suami kembali membaca buku panduan berumroh kami saling berpandangan dan berharap umroh kami bisa lengkap. Setiap saat saya ingat saya meminta maaf selalu atas kesalahan-kesalahan yang pernah saya buat kepadanya. Tak lupa kami berdua senantiasa berzikir dan berdoa memohon kelancaran dan keselamatan untuk perjalanan umroh kami. Pemandangan sepanjang jalan menuju Mekah sungguh menakjubkan, sepanjang jalan saya lihat  gunung-gunung batu menjulang. Saya merasa seperti berada dia planet lain, buka planet bumi.

Setiba di miqot Bir Ali kita semua turun dan bersiap kembali membersihkan diri atau sekedar berwudhu dan sholat sunat 2 rakaat. Kami kumpul kembali sejenak untuk berfoto bersama dan sebelum melanjutkan perjalanan, kami kembali bersama-sama berniat Umroh “Labaika llahumma Umrotan” dan sebanyak-banyaknya membaca Talbiyah “Labbaikallahumma Labbaik, Labbaika Laa syarikalaka labbaik. Innal Hamda wan ni’mata laka walmulka laa syarika laka”. Setelah itu kami kembali menuju bus masing-masing untuk melanjutkan perjalanan ke Mekah.

Sungguh semangat berumroh kami rasakan sepanjang jalan kami semua terus bertalbiyah dan berzikir. Sampai tiba di malam hari kami di kota Mekah di tanah Haram. Perjalanan bus sekitar 6 jam tidak terasa ketika dari jauh jam raksasa Mekah sudah terlihat begitu menjulang tinggi sebagai patokan betapa sudah dekatnya kami ke Masjidil Haram ke Baitullah.

Bangunan fisik Hotel kami di Mekah tidak sebagus hotel di Madinah namun itu bukan sesuatu yang dapat menurunkan semangat kami beribadah. Setelah turun bus kami langsung menuju kamar masing-masing sekedar untuk menaruh koper dan kembali ke lobbi untuk lanjut ke Masjidil Haram berumroh.  Bagusnya dari kamar saya  dan kedua teman saya bu Erli dari Jakarta dan Bu Nur dari Madura adalah jendelanya yang langsung menghadap jalanan besar yang kanan kirinya banyak toko dan merupakan jalan utama menuju Masjidil haram. Jadi dari jendela kami jelas terlihat jamaah yang lalu lalang ke Masjidil Haram dan juga pemandangan orang-orang berjual beli dari jendela itu.

Suami saya sudah siap menyiapkan ekor kain ihram untuk dapat saya pegang ketika berumroh. Kami berjalan sekitar 700 meter malam itu menuju Masjidil Haram bersama-sama. Sampai di Masjidil Haram, kami masuk dari gerbang 88. Kami langsung mengambil wudhu untuk bersiap sholat Isya. Setelah sholat selesai kami mulai proses Umroh di pandu oleh Mutowif yang berpengalaman. Kami turun ke lantai dasar dan di situlah saya lihat Kabah yang begitu sederhana namun dasyat daya tariknya sehingga menjadi pusat ibadah umroh kami. Dengan spontan kami semua mengagungkan nama Allah.

Proses umroh kami diawali dengan tawaf mengelilingi Kabah sebanyak 7 kali putaran yang dimulai dari Rukun Hajar Aswad. Di tandai oleh lampu hijau dimana kami memulai putaran tawaf, kami miringkan badan kami ke kiri sambil mengangkat tangan sambil memulai membaca doa-doa yang sudah kami pelajari di buku panduan manasik Haji dan Umroh. Tak terasa putaran demi putaran kami lalui bersama dan tak terasa pula air mata ini selalu menetes mengucap syukur, merasa kagum, takjub dan berbahagia akan satu tahap proses umroh yang kami jalani dengan lancar.

Setelah tawaf selesai kami sholat 2 rakaat di belakang Maqam Ibrahim  dan lanjut menuju Ma’sa untuk lanjut melaksanakan Sa’i yaitu perjalanan sebanyak 7 kali bolak balik diantara bukit Safa dan Marwah. Tak lepas saya pegangi ekor Ihram suami walau terasa lelah namun lebih terasa besar semangatnya untuk menyelesaikan ibadah Umroh ini. Ibadah ini betul-betul merupakan ibadah fisik dan saya bersyukur bahwa kami masih sanggup melaksanakannya jika di banding para jemaah yang sudah tua bahkan renta terengah-engah, mereka beribadah didorong kursi roda atau di papah sanak saudaranya. Doa sa’i kami ucapkan dari awal di bukit safa sampai berakhir di bukit Marwa.

Selesai Sa’i kami berkumpul saling bergantian melaksanakan Tahallul yaitu mengunting rambut sebagai tanda pembebasan seseorang dari larangan Ihram. Saya dan suami rupanya yang paling terakhir menyelesaikan Sa’i. Tak terasa sudah jam 2 dini hari kami semua kelelahan namun kami tetap berada di Masjidil Haram untuk menunggu sampai sholat Subuh.

Hari keenam

Selesai sholat subuh kami semua kembali ke hotel. Sepanjang perjalanan hotel kami melihat sederet tukang bersih-bersih yang menunggu sedekah dan kebaikan para jemaah yang ingin berbagi rejeki. Saya dan suami sudah menyiapkan beberapa lembar uang 1 Real an untuk dibagikan sebagai tanda berbagi kebahagian kami yang sudah dapat sampai ke tanah Haram ini.

Kami bersyukur walaupun di hotel ini fasilitas nya kurang bagus namun makanan yang disajikan pihak katering hotel sangat nikmat karena semua sajiannya merupakan hidangan khas Indonesia. Kami mengobrol dengan para pekerja kateringnya yang merupakan orang Indonesia dari Madura. Bagi saya mereka juga pahlawan-pahlawan bangsa yang sudah berjuang meningkatkan kesejahteraan keluarga dan pendapatan negara. Saya salut mereka orang-orang yang berani meninggalkan tanah air dan menahan rindu berada jauh dari kampung halaman dan keluarga tercinta. Kami berkenalan dan saling berbagi cerita. Salah satu pegawai yang ramah bernama mas Hidayat dan yang lain yang juga ramah bernama mas……saya lupa namanya karena namanya agak unik tampangnya galak tapi baik hati orangnya. Dia senang kepada saya karena kalau habis makan saya selalu membantu mereka membawakan piring-piring kotor ke dapur.

Setelah sholat Dzuhur, sesuai jadwal kami akan diajak keliling kota Mekah ke peternakan onta, ke museum Masjidil Haram dan ke miqot  di Hudaibiyah. Namun bukan rejeki saya dan suami beserta dua orang teman serombongan ibu Ani dan Ibu Wiwi yang tidak bisa ikut karena kurang cepat menuju lobi. Kami berempat ketinggalan bus yang akan membawa kami kesana. Kami sudah berusaha mengejar bus namun tidak terkejar karena busnya hampir ditilang polisi setempat, sopir bus meninggalkan kami. Kami berusaha mengejar namun urung karena lalu lintas cukup macet dan sopir taksi yang kami tanya tidak mengerti alamat museun Masjidil Haram. Akhirnya kami berempat menikmati waktu keliling pasar dan berbelanja.

Hari ketujuh

Dini hari kami terbangun, setelah mencuci baju dan mandi saya dan bu Erli menuju masjidil Haram untuk kembali tawaf. Tawaf kami akhiri dengan sholat di Hijr Ismail. Kami juga sempat menyentuh kiswah, Alhamdulillah dan setelahnya menangis mengucap syukur atas segala kemudahan dalam beribadah. Kami lanjut menunggu sholat subuh dan baru kembali kehotel setelah sholat.

Setelah sarapan kami kembali diajak keliling berziarah ke beberapa tempat seperti Jabal Tsur, Arafah, Musdalifah, Mina, Jabal Nur, Jabal Rahmah dan Jaronah. Bagi yang ingin mengumrohkan bisa mengambil miqot lagi diJaronah. Kali ini semua jamaah tidak ada yang ketinggalan. Saya sudah diwanti-wanti suami agar bergegas kumpul di lobi jika tidak ingin ketinggalan lagi.

jabalrahmah

Jabal Rahmah

Yang paling berkesan adalah ketika kami berada di Jabal Rahmah. Saya dan suami berdoa menghadap kiblat, khusuk berdua kami berdoa meminta segala yang terbaik dan yang utama supaya kehidupan berkeluarga kami bisa damai, langgeng dan harmonis sampai kami tua. Kami berfoto berdua bergantian dengan pasangan yang lain dari rombongan. Romatis sekali rasanya kami bergandengan tangan mendaki puncak Jabal Rohmah, rasanya seperti ledakan rindu dipertemukan lagi layaknya nabi Adam dan siti Hawa yang baru bertemu di tempat itu setelah sekian lama berpisah.

Hari kedelapan

Rombongan terbagi dua pada hari ini sebagian dari rombongan pergi ke Thaif untuk menikmati keindahan alam disana. Thaif merupakan salah satu daerah yang paling subur disana. Kami tidak ikut rombongan itu karena untuk ke Thaif dikenakan biaya lagi yang lumayan besar bagi kami. Saya dan suami memilih untuk berwisata kuliner menikmati makanan khas Arab.

Kami sengaja membeli makanan disalah satu kios makanan cepat tepat di depan gerbang 88 Masjidil Haram karena tiap kali kami pulang dan pergi sholat di Masjidil Haram, kios makan itu selalu penuh pembeli. Awalnya kami ingin sekali membeli Al Baik yang merupakan ayam goreng cepat saji yang terdiri dari 4 potong ayam goreng tepung yang hidangkan bersama kentang goreng, roti 2 bongkah, saos tomat dan mayonaise seharga 13 real cukup untuk kami berdua makan. Namun kami bosan dan ingin mencoba menu lain jadi kami berdua memilih membeli Kobtha. Semacam sawarna namun berisi daging  yang tebal seperti patty namun berbentuk persegi panjang. Kami juga mencoba martabak telur ala arab, martabak mereka lebih tebal kulitnya dibanding martabak ala Indonesia yang renyah karena tipis kulitnya. Untuk minumnya kami beli juice buah campur yang segar.

Hari kesembilan

Di hari Jumat di kota Mekah terlihat lebih ramai dari hari biasanya, kegiatan berdagang dan belanja lebih ramai. Banyak penjual jalanan yang biasanya tergesa-gesa sambil waspada berjualannya kalau tidak bisa ditangkap polisi setempat  tapi pada hari jumat  para penjual yang banyak terdiri wanita-wanita kulit hitam lebih santai berdagang di pinggir jalana. Dagangan mereka murah meriah mulai dari pacar arab, pashmina, tasbih, siwak, gamis India, gamis Arab, bahkan jam tangan. Saya sempat beli jam tangan seharga 5 Real yang di toko saya lihat harganya 10 Real sepulang sholat subuh.

Saya sempat tidak sengaja mengambil foto latar belakang keramaian pasar namun tiba-tiba seorang penjual terlihat marah dan spontan menutupi mukanya dengan  gamis dagangannya. Dia pikir saya sengaja memotonya. Saya cukup mengelengkan kepala dan menunjuk kearah keramaian sehingga dia tidak jadi marah. Untung Allah memberikan kesempurnaan tubuh saya, dimana bahasa kita berbeda namun bahasa tubuh cukup membantu satu sama lain untuk mengerti.

didepan kios-kios makanan penuh orang mengantri makanan yang disedekahkan bagi para jamaah yang membutuhkan. Karena banyak pula para jemaah yang tidak cukup bekalnya. Saya melihat jemaah yang banyak mengantri itu berasal dari negara-negara miskin. Nikmat berbagi lebih sering saya rasakan di Mekah. Selesai sholat banyak jamaah yang baik hati bersedekah kurma, biskuit, jus, permen bahkan tisu. Sering kali saya menginginkan sesuatu saya dapatkan selesai sholat di masjidil Haram. Misalnya saya merasa lapar dan ingin ngemil yang manis-manis, tiba-tiba saja seseorang dari belakang menyodorkan kismis manis dan legit. Ketika saya duduk di pinggiran hotel Hilton, saya tak sengaja memperhatikan anak-anak yang sedang membagikan kurma tiba-tiba mereka mendekati saya dan memberi saya kurma tersebut sambil berebutan memberi saya kurma. Sejak kecil mereka sudah belajar bersedekah.

Adapula hal lucu ketika saya berdiri di depan hotel sambil WA an dengan anak saya, seseorang laki-laki lokal disebelah saya dengan lahap makan biskuit yang ia dapat sekantong besar. Setelah selesai makan, ia membuang sampah sembarangan ke depan jalan dan lanjut memakan kue yang lain. Karena sebal melihat tingkahnya membuang sampah sembarangan saya spontan jengkel dan bergerutu kepadanya dalam bahasa sunda. Saya membelakanginya karena sebal namun tak lama dia malah menarik lengan baju saya dan ketika saya membalikkan badan dia malah memberi saya sekantung penuh berisi biskuit, kurma dan minuman dan langsung berjalan meninggalkan saya. Ya ampun, orang yang saya sebal malah memberi saya banyak makanan.

Ketika saya bertemu suami sepulang sholat Jumat saya ceritakan kejadian itu dan saya serahkan kantung itu kepadanya. Saya tidak terbiasa menerima makanan dari orang asing tapi suami saya malah senang saja membuka makanan-makanan tersebut dan menikmatinya. Akhirnya saya juga ikut menikmatinya bahkan kami  simpan sebagian untuk esok harinya.

Setelah sholat siang itu kami sengaja membeli jaket yang tebal untuk suami saya karena dikabarkan di Turki cuacanya ekstrim dingin sekali bahkan bersalju. Kami sudah bersiap memakai long john yang tebal untuk mengatasi hawa dingin namun jaket suami saya tidak begitu tebal, sedangkan saya sudah beli sudah merupakan jaket winter yang cukup tebal dan hangat. Jaket yang agak tipis dia hibahkan ke pegawai katering di hotel yang baik hati.

Jelang sholat Magrib  kami kembali tawaf dan setelah selesai suami saya mengajak sholat di lantai paling atas. Dia bilang pemandangannya Indah dan dapat view foto yang bagus dengan latar belakang hotel al Haram dengan ikon jam raksasanya. Ternyata betul apa yang suami saya katakan kami berfoto-foto setelah sholat Isya dan sambil menunggu jalan keluar masjid lenggang.

haram

hotel Al Haram mudah diambil di rooftop Masjidil Haram

Hari ke sepuluh.

Saya sudah bersiap-siap packing pagi hari itu, dihari terakhir di Mekah kami perbanyak ibadah. Saya sempatkan tawaf berkali-kali dengan bu Erli dan bu Nur. Dan setiap sholat berusaha datang lebih awal supaya kami dapat sholat tepat di depan Kabah.

Siang hari setelah sholat Ashar kami diajak berkeliling ke rumah Rasul. Untuk menuju ke rumah Rasul kita berjalan agak kebelakang melewati belakang Istana raja Salman. Istana yang saya lihat tidak seperti istana istana layaknya seperti yang saya tahu sebelumnya. Istana sederhana seperti gedung perkantoran bertingkat namun terlihat jelas sistim keamanan yang hebat. Entah dalam istananya saya bertanya-tanya sepanjang jalan.

Rumah rasul bentuknya sederhana dan setelah di renovasi rumah tersebut sekarang dijadikan perpustakaan. Di samping belakang rumah tersebut terdapat sumur zam-zam. Kami memang sengaja membawa botol minum yang kosong untuk diisi zam-zam yang langsung dari sumurnya. Bahkan salah satu teman kami sengaja membeli jirigen untuk itu. Segarnya meneguk zam-zam di tengah terik matahari.

Pulangnya kami langsung kembali ke Masjidil Haram berfoto depan Kabah dan menunggu sholat Magrib. Tak lupa saya mencari posisi sholat yang dapat langsung menghadap Kabah. Senang sekali mendapat posisi yang bikin takjub, ketika sholat biasa kabah hanya dalam bentuk gambar diatas sajadah saja.

Malamnya setelah sholat Isya kami sengaja berlama-lama membaca Al Quran, berdoa, dan berdzikir didalam masjidil Haram karena esok dini hari kami akan meninggalkan kota Mekah menuju Turki. Belum kami meninggalkan kota Mekah sudah terasa sedihnya meninggalkan tanah suci ini. Saya berdoa kelak nanti kami dimampukan lagi untuk kembali berkunjung ke Baitullah. Aamiin.

 

My Day to Day Umroh Backpacker

masjidilrooftop

Umroh backpacker saya dan suami Desember 2016  berjalan selama sepuluh hari dan setelah ibadah umroh selesai, kami dan sebagian rombongan lanjut berwisata religi ke Turki selama empat hari jadi umroh plus tour yang saya jalani  total selama 14 hari.  Ini adalah perjalanan berumroh saya yang pertama kali. Saya berharap saya bisa kembali ke Baitullah lagi dan lagi karena perjalanan ke Baitullah merupakan perjalanan  ibadah tidak sekedar jalan-jalan. Dengan alasan yang tepat, berumroh sangat berkesan bagi saya. Senang campur haru merindu menyelimuti hati setiap kali mengingat perjalanan ini. Dimana ketidak mungkinan menjadi nyata dengan niat utama saya menghapus dosa, saya pasrah menjadi tamu Allah. Saking berkesan saya ingin hal yang indah ini  tidak terlupakan. Maka dari itu saya tuliskan pengalaman berumroh kami. Berikut saya coba ceritakan kegiatan umroh kami dari hari kehari.

Hari pertama

Kami pergi ke Kuala Lumpur dengan penerbangan pertama jam 06.25 pagi. Kami berangkat dari rumah jam 03.00 sebelum subuh. Kami diantar kakak ipar saya yang tinggal di Bekasi. Anak-anak ikut serta karena mereka akan diasuh oleh dia selama satu minggu dan anak-anak kami akan tinggal di rumah seorang teman dekat selama satu minggu berikutnya.  Anak-anak kami yang sholeh dengan mudah melepas kepergian kami ibu dan abinya dengan bangga, padahal anak saya yang bungsu Hisyam sedang sakit kakinya dan yang sulung rela meninggalkan teman-teman bermainnya di perumahan. Tak lupa sebelumnya kami titipkan mereka pula kepada sang penguasa dan pengasih Allah SWT.

Setiba di bandara Soekarno Hatta terminal 2E kami langsung mencari group UBP yang sama penerbangannya dengan kami. Kami memakai penerbangan Air asia. Saya booking jauh-jauh hari sehingga saya dapat tiket dengan harga yang murah.

Setelah berhasil bertemu dengan group UBP saya langsung di beri seragam UBP berupa kaos Umroh Backpacker lengan panjang warna oranye dan jilbab syari merah cabe supaya eye catching oleh mbak Saul, untuk suami kaos yang sama hanya saja lengannya pendek dan baju koko model Pakistan berwarna biru muda. Kami juga dapat name tag dan buku panduan berumroh masing-masing. Ini diluar dugaan saya karena saya pikir kami tidak akan menerima apapun dari UBP karena sudah murah biayanya.

Tiba di KLIA2 kami lanjut ke KLIA dengan menggunakan KLIA transit passanger untuk penerbangan internasional ke Jeddah. Karena teledor saya ketinggalan jaket saya ketika menunggu kereta transit. Kami naik pesawat Saudia Airlines  dengan no penerbangan SV 831 yang sedikit mengalami delay. Jam 17.00 pesawat take off menuju Jeddah. Saya baru tahu bahwa didalam pesawat saudia tersedia mushola kecil untuk shalat. Atas saran bu Mia, saya sempat mencoba akan shalat disana namun setelah agak lama menunggu giliran sholat saya urungkan lagi niat di mushola pesawat karena ruangnya terlalu kecil dan banyaknya jemaah laki-laki yang akan sholat di sana sedangkan saya perempuan satu-satunya waktu itu. Saya kembali ke kursi dan sholat sambil duduk. Suami saya sendiri sudah selesai sholat sambil duduk juga. Dia agak gugup karena perjalanan 9 jam lamanya dan turbulensi juga sering terasa malam itu.

saudi

Ada hal yang menganggu kenikmatan perjalanan ibadah ini, tiba-tiba saya sakit gigi. Saya lihat gigi yang sakit malah gigi saya yang sudah rapi tambalannya. Ini yang selalu membuat saya takut ketika bepergian yaitu sakit gigi. Padahal saya sudah merapikan dan cek gigi saya rutin ke dokter menjelang umroh. Saya meminta obat sakit gigi kepada pramugari cantik Saudia. Dia memberikan 2 kaplet pil Fenadol untuk meredakan sakit gigi. Saya langsung minum 1 pil dan setengah jam kemudian alhamdulillah sakitnya mereda.

Kami tiba di Jeddah malam hari jam 23.05 waktu setempat. Proses imigrasi dan pengambilan bagasi cukup lama, kami menunggu di lantai atas sehingga kami bisa langsung melihat pemandangan proses imigrasi dilantai bawah. Subhanallah malam itu saya melihat banyak jamaah dari berbagai negara sudah siap berumroh dengan kain ihram yang sudah terpakai dibadan jamaah yang berarti jamaah siap langsung menuju tanah haram Mekkah. Setelah proses imigrasi selesai kami keluar menuju bus yang akan membawa kami ke ke Madinah. Pemandangan malam hari kurang saya nikmati karena lelah dan gelap. Saya hanya melihat bukit batu, pohon-pohon kurus,  jalan yang lebar, dan lampu-lampu dari bangunan yang sangat jarang. Karena lelah dan kantuk saya tertidur namun tak lama saya terbangun karena saya merasakan sakit lagi pada gigi saya, saya tahan sakitnya sampai ke kota Madinah. Kembali saya minum 1 pil fenadol lagi sebelum turun dari bus sambil banyak beristigfar.

Hari Kedua

al-anshar

Kami tiba di Madinah menjelang subuh. Jalan  aspal yang lebar dan bangunan-bangunan yang tinggi  dan toko-toko mendominasi pemandangan. Gersang karena sama sekali tidak ada pepohonan. Banyak orang berbondong-bondong menuju Mesjid Nabawi. Kami menuju Hotel cukup besar dan mewah bernama New Palace al Anshar dahulu untuk sekedar pembagian kamar, saya dan suami terpisah begitu juga dengan yang lain dan tak lama kami sudah bersiap sholat subuh di Mesjid Nabawi. Tidak jauh dari hotel kami berjalan lurus sampai ke gerbang no 17.  Namun karena kami datang setelah azan berkumandang kami tidak kebagian tempat untuk sholat didalam mesjid Nabawi. Kami sholat di pelataran masjid yang sangat luas. Saya merasa kedinginan sholat diluar masjid, dinginnya angin shubuh, lantai marmer dan air wudhu membuat saya mengigil. Dari situ saya berniat untuk sholat shubuh didalam mesjid lain waktu. Subuh itu disebelah saya adalah seorang jamaah yang berasal dari Perancis. Lucu ketika itu saya tegur dia menggunakan bahasa Inggris dan rupanya dia tidak paham. Jadi komunikasi kita masing-masing menggunakan bahasa berbeda, dia berbahasa Perancis dan saya berbahasa Indonesia dan Inggris namun kita bisa saling mengangguk, acung jempol, tertawa dan bercanda. Diakhiri sholat kami saling salam erat peluk cium saudara seiman.

Setelah sholat subuh kami kembali ke hotel, saya gunakan fasilitas wifi gratis di lobby untuk memberi kabar kesampaian kami kepada anak dan sanak saudara. Setelah itu kami sarapan pagi di lantai M ala buffet dengan hidangan asing ala hotel, berkenalan dengan para penghuni kamar, dan beres-beres. Kamar hotel saya berada di lantai 13. Teman sekamar saya ibu Mia, bu Wiwi, mereka berdua sama-sama dari Bandung. Ada juga bu Winda dari Palembang. Saya bersyukur sekamar dengan bu Mia, dialah yang mengajak saya gabung UBP. Karena perjalanan kami naik pesawat dan perjalanan dari Jeddah ke Madinah amat melelahkan.  Kami istirahat dan beres-beres pakaian. Bu Winda sibuk membuatkan kami jemuran dari tali tambang yang dikaitkan di jendela kamar hotel kami.

Setelah istirahat sejenak, saya pergi untuk sholat dhuha ke mesjid Nabawi bersama suami. Sepanjang perjalanan dari hotel ke mesjid kiri kanan toko sudah ramai dengan aktifitas berjual-beli kami sendiri singgah ke money changer untuk menukar sebagian mata uang Real kami ke Lira untuk persiapan ke Turki diakhir kegiatan Umroh kami. Agak sulit mencari Lira dikota kami makanya kami tukar Lira disitu.

Para pedagang pintar merayu menawarkan barang dagangannya, banyak dari mereka juga pandai berbahasa Indonesia dan sunda, tak sungkan mereka menyapa dan mengulurkan tangan untuk merayu kami jamaah agar mau melihat-lihat barang dagangan mereka. Karena belanja bukan niat utama kami disana kami sekedar melihat-lihat saja. Yang unik di toko busana wanita banyak gamis dengan model berbeda namun dominasi warnanya hitam dan sedikit warna putih, tidak seperti di toko Indonesia, gamis kami bermacam warna dan corak.

nabawi1Saya dan suami sepakat untuk selalu bertemu sehabis sholat fardhu di gerbang  17.  Jadi kami setuju untuk pergi masing-masing namun bertemu setelah sholat. Dan pada hari itu setelah suami sholat Jumat lalu sholat dhuhur kami bertemu di gerbang 17 untuk kembali kehotel dan makan siang di kedai sebelah hotel. Kami makan Sawarna masing-masing. Sawarna yaitu semacam kebab namun isi daging ayam dan sayuran seharga 4 Real dan teh tarik seharga 2 Real. Budaya belanja disana dilakukan oleh laki-laki jadi saya tinggal duduk menunggu suami, penjual terlihat sungkan ketika pembelinya adalah wanita. Saya tidak melihat ada pelayan wanita disetiap toko yang melayani pembeli dan pembeli adalah rata-rata laki-laki.

Sehabis sholat Ashar kami kembali bertemu dan kembali keliling sekitar mesjid Nabawi. Kami foto-foto di pelataran mesjid yang luas dan berharap payung di pelataran masjid berkembang. Kami ke apotik terdekat. Saya beli obat sakit gigi seharga 30 Real. Cukup mahal tapi saya ingin ibadah saya tidak terganggu rasa sakitnya. Saya sudah berusaha berkumur-kumur pakai air zam-zam yang banyak tersedia di mesjid Nabawi namun sakitnya hanya mereda sebentar. Biarlah mahal asal saya bisa dengan sehat dan khusuk beribadah.

Niatnya tidak belanja kami gugur setelah dipikir untuk oleh-oleh sebaiknya belanja oleh-oleh di Madinah sehingga nanti di Mekkah kita bisa khusuk ibadah akhirnya kami belanja kurma dan coklat di salah satu toko dekat hotel. Ada banyak macam kurma dan coklat disana. Kami diberi kurma untuk dicicipi. Saya tidak suka kurma awalnya. Tapi kurma di sana yang saya rasa enak-enak jadi saya menjadi suka kurma. Kurma pertama yang saya coba jenis Ajwa. Kami beli beberapa macam kurma ditoples plastik kecil beratnya setengah kilo tiap tempatnya dengan beragam mulai dari 10 Real sampai dengan 30 Real tergantung macam kurmanya. Coklatnya kami beli 3 dus dengan berat satu kilo tiap dusnya seharga 35 Real, beragam jenis dan kebetulan coklatnya buatan Turki jadi lengkap sudah untuk urusan oleh-oleh makanan. Lalu kami kembali ke hotel untuk packing oleh-oleh dan kembali ke mesjid.

Setelah sholat Isya saya ikut rombongan untuk bersiap-siap menuju gate 25 ke Raudhah. Kami di pandu oleh mutowif wanita bernama ibu Siti yang sangat mahir berbahasa Arab. Ternyata untuk sholat di Raudhah tidak mudah, begitu banyak jamaah yang ingin sholat disana karena memang dibatasi bagi jamaah wanita. Hanya di saat-saat tertentu di malam hari setelah Isya, setelah dzuhur dan setelah shubuh saja. Untuk mencapai Raudhah sebetulnya sudah di jadwal dan di pisah berkelompok antar jamaah dari berbagai negara namun banyak jamaah yang tidak sabar sehingga terjadi keributan dan berdesakan. Saya merasakan perjuangan dalam beribadah ketika di Raudhah untung saya bertemu mbak Elly Lubis dishaf depan, dia memberi ruang sehingga saya dapat kembali sholat dua rakaat di shaf depan.

Hari ketiga

Di hari ketiga pagi setelah sarapan kami pergi berziarah ketempat-tempat bersejarah di Madinah. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah jabal Uhud, tempat perang Uhud. Disana kami melihat kuburan para sahabat Rasul yang ikut berjuang di perang Uhud. Sebuah petak pemakaman sederhana yang dibatasi tembok.  Ketika hendak menuju tempat berikutnya saya lihat teman-teman serombongan membeli kurma segar dan buah pomegrade yang besar-besar. Saya beli kurma 5 setengah kilo seharga 5 Real sekedar untuk camilan di bus dan sebuah pome seharga 3 Real untuk camilan dikamar hotel.

Tempat kedua yang kita kunjungi yaitu kebun kurma. Disana kami melihat-lihat  kebun pohon kurma dan ada juga toko besar yang isinya menjual berbagai macam kurma, teman-teman kami banyak yang berbelanja disana, kami juga bertemu seorang aktor selebriti dari kota kami yang sedang beribadah umroh juga. Dari kebun kurma kami mengunjungi mesjid Quba, sebuah mesjid bersejarah. Disana juga banyak yang berjualan sehingga banyak teman-teman kami yang berbelanja lagi. Kami sholat dzuhur disana dan bertemu dengan jamaah dari Yordania yang sangat ramah. Kami berfoto bersama dan saling berpeluk cium ketika kami berpisah. Ketika akan kembali ke bus saya di sodori buah kurma oleh dermawan yang sedang bersedekah saya ambil beberapa biji kurma itu dan berterima kasih.

Di sore harinya setelah sholat Ashar kami berkumpul di depan gerbang 13 untuk manasik. Ketika saya menuju gerbang tiba-tiba seseorang memberikan saya sekotak jus buah. Saya pikir ini semacam tester promo sebuah produk, rupanya saya salah. Orang disana berlomba-lomba bersedekah dan jus itupun merupakan suatu bentuk sedekah dari seorang dermawan disana. Kebetulan sore itu masih terasa terik, sambil mendengarkan materi manasik terasa nikmat sekali jus itu di tenggorokan saya. Setelah materi manasik disampaikan kami berkunjung ke museum asmaul Husna dan berada tepat di depan gerbang 13.

 

Hari keempat

Pagi hari setelah sholat Shubuh, saya dan bu winda kembali ke Raudhah. Untuk sholat di Raudhah kali ini agak lenggang namun tetap ramai saya kebetulan duduk depan gerbang menuju Raudhah sehingga ketika gerbang terbuka kami langsung berlari sekuat tenaga sambil bergandengan tangan menuju Raudhah. Saya sempat beberapa kali tergelincir karena saking cepatnya berlari memakai kaos kaki di lantai marmer namun alhamdulillah kami dapat sholat didepan Raudhah dengan cepat walau tetap penuh perjuangan. Teman saya dapat sholat terlebih dahulu. Saya menunggu jamaah dari negara lain yang sholat lebih dari 6 rakaat sambil menangis. Dibelakang saya seorang jamaah dari Pakistan sudah tidak sabar menunggu giliran. Saya sudah berusaha mencolek dan mengingatkan si jamaah yang sholat sambil menangis tersedu-sedu untuk bergantian dan ketika ia akan kembali sholat untuk yang ke 4 kalinya,  tiba-tiba jamaah tersebut ditarik oleh Jamaah lain secara paksa. Awalnya saya yakin si Jamaah dari Pakistan itu akan mengambil shaf saya tapi teryata dia mempersilahkan saya sholat duluan. Alhamdulillah, saya  berterima kasih kepadanya dan setelah sholat dua rakaat saya selesai si Pakistan yang baik hati baru mengambil tempat saya.

Dihari ini kegiatan ibadah seperti biasa namun serasa sedih karena esok pagi hari kami segera berangkat menuju Mekah. Jadi saya dan suami menikmati kota Madinah dengan berjalan-jalan ke depan gate 25 untuk foto-foto dan menyaksikan banyak burung dara. Setelah-berfoto kami mampir ke sebuat toko emas, saya beli sebuah cincin disana atas ijin suami lalu kami ke swalayan Bin Dawood. Saya beli jaket untuk persiapan di Turki yang sedang musim dingin, kami beli  dua dus Mamool yaitu sejenis kue kurma khas arab beraneka rasa, kami juga beli madu untuk menjaga stamina kami. Berhubung persiapan vitamin menipis, kami tambah suplemen kami dengan madu. Setelah itu kami makan siang bersama di restoran Indonesia. Kami makan nasi kebuli. Sang pelayan seorang warga Indonesia dari Jawa Barat menyarankan kami untuk pesan satu porsi saja karena  rata-rata satu porsi orang Arab akan cukup untuk  dua orang Indonesia kecuali orang tersebut memang gembul. Saya dan suami sudah terbiasa makan seporsi berdua, sepertinya romantis ya, padahal memang kami makannya sedikit dan kami niat berhemat selama beribadah.

Dimalam hari setelah Sholat Isya kami berkumpul di hotel untuk pembekalan, kami juga makan bersama. Menu kami malam itu adalah nasi dan ayam Mandi khas Arab. Tampak seperti nasi kebuli namun ada yang lain dari bumbunya. Rasa rempahnya lebih terasa. Kami makan berkelompok. Serunya makan bareng-bareng berebut tarik menarik ayam Mandi. Awalnya kami akan diajak makan keluar hotel tapi makan bareng-bareng di hotel seperti itupun sangat menyenangkan dan kekeluargaan kami jadi semakin terasa akrab.

 

Gabung Umroh Backpacker (UBEPE)

ubpBerdasarkan pengalaman saya backpakeran ke luar negeri dengan suami alhasil kita ketagihan backpakeran lagi karena di backpackeran awal kita sudah sukses dengan budget minim bisa jalan-jalan mendapatkan pengalaman yang berkesan dan menyenangkan selalu plus beli oleh-oleh di dua negara Asia sehingga bisa berbagi dengan teman dan keluarga.

Dari pengalaman itu juga saya jadi sering searching di google tentang backpackeran. Dipacu bisikan lembut suami saya diakhir perjalanan backpack kita di bandara Soekarno Hatta yang memotivasi kegiatan backpack ini. Dia bilang “klo punya uang kita backpackeran lagi yu” cieee…. Mendengarnya terasa lucu tapi senang karena pada awalnya dia tidak mau ikut backpackan dengan alasan sayang buang-buang duit. Setelah pulang backpackeran dia malah ketagihan.

Pada suatu ketika secara tidak sengaja saya temukan kata “Umroh Backpacker” di google seaching.  Yang ada dalam pikiran saya waktu itu umroh lumayan mahal dan masa bisa backpack??. Saya ikuti rasa penasaran saya.  Saya masuki lamannya yang ternyata di Facebook. Saya telusuri informasi beberapa contact person namun sayang ketika saya telpon hampir mereka semua bilang sudah tidak gabung dengan Umroh backpacker lagi namun satu orang contact person bernama Adinda Susanti yang sebetulnya  juga sudah tidak gabung namun dari informasi yang saya dapat dari dia, cukup menyakinkan saya bahwa Umroh backpacker ini memang ada dan nyata kegiatannya.

Ada sekali waktu saya lihat di FB UBP bahwa akan ada pertemuan UBP di Universitas Indonesia. Saya antusias dan langsung menghubungi contac person mbak Ely Lubis. Awalnya saya mengajukan pertemanan di FB. Setelah dikomfirmasi saya langsung inbox beliau dan bertanya-tanya tentang UBP.  ternyata mudah sekali berkomunikasi dengannya. Saya langsung ajak salah satu tetangga saya yang juga antusias tentang berUmroh. Kebetulan senang sekali ada teman ke UI, saya kurang tahu lokasi pertemuannya karena UI sangat luas. Setelah beberapa saat berputar-putar akhirnya ketemulah pertemuan UBP Kafilah Akbar ini di salah satu Mesjid di tepi danau. Pertemuan yang sudah setengah jalan membuat saya kurang mengerti tentang apa yang mereka bicarakan, sesi pertanyaan pun terbatas. Rupanya para peserta yang datang merupakan jemaah yang sudah siap berangkat. Karena waktu yang terbatas saya tidak bisa memuaskan rasa ingin tahu saya tentang UBP. Namun saya menikmati pertemuan itu karena banyak makanan dan kue yang enak-enak. Saya bahkan dapat sebotol air mineral beroksigen yang mahal pula. Diakhir acara saya membeli buku berjudul “ A-Z Umroh Backpacker” yang ditulis oleh mbak Ely Lubis dan rekannya untuk saya baca nanti.

Antusias untuk umroh backpaker saya sempat koma selama satu tahun karena kesibukan bekerja sampai suatu hari di bulan Januari seorang teman saya bernama Ibu Mia Damayanti mengajak saya untuk ikut serta bergabung dalam UBEPE atau UBP yang merupakan Singkatan dari Umroh BackPacker. Jadwal keberangkatan yang dia usulkan yaitu Desember2016 dan itu sangat  sesuai dengan keinginan saya. Maklum saya ingin berumroh tanpa harus meninggalkan pekerjaan dan harus di waktu libur supaya suami bisa ikut walaupun keuangannya tidak memungkinkan untuk kita berdua pergi umroh pada waktu itu.

Ajakan bu Mia serasa menyadarkan pencaharian saya yang sedang  pingsan karena alasan kesibukan bekerja,  tidak ada dana, tidak siap kurang ilmu dalam beribadah, tidak paham bahasa arab dan yang paling utama adalah takut akan dosa.  Sebelumnya saya dengar kata orang-orang yang sudah pernah kesana berhaji atau berumroh,  di Baitullah biasanya di perlihatkan atau di balas segala dosa-dosa kita, maklum dosa dan kesalahan saya kepada suami, orang tua, anak dan teman sekitar banyak sekali. Ya tidak ada manusia yang sempurna kan?.

Ibu Mia adalah teman yang saya dapat percaya. Ketika saya di Adelaide  tahun 2010, dengan suka rela  dia membantu memberi informasi- informasi penting yang amat membantu saya  dan beberapa peserta guru seJawa Barat yang menjadi peserta pelatihan Guru disana ketika menghadapi masalah adaptasi disana. Saya juga mengenal dia sebagai sosok yang penuh ide ,gigih dan suka membantu. Entah secara tak sengaja saya sangat beruntung kenal dengan dia melalui Facebook. Saya menerima pertemanan dengan dia karena sewaktu itu dia memuat status yang berisi tentang tips-tips mencari oleh-oleh halal di negeri kangguru itu. Saya lanjut berhubungan dengan dia karena saya ikut terlibat dalam salah satu program  pegiat baca yang dia ketuai dia juga merupakan pencetus program budaya baca di Jawa Barat.  Maka dari itu ketika dia mengajak saya ikut UBP saya langsung antusias dan yakin bisa berumroh dengan ala backpacker bersama orang yang saya percaya.

Ibu Mia langsung gabungkan account facebook saya di group umroh Desember 2016 yang dia buat agar segala informasi yang di perlukan bisa dengan mudah di bagikan dan didiskusikan melalui group umroh ini. Dia juga koordinir beberapa orang guru lainnya yang banyak tinggal di daerah Bandung dan sekitarnya untuk ber UBP. Sebagian besar guru yang bergabung adalah para alumni Adelaide Teacher’s Training dari berbagai angkatan.  Ibu Mia juga memperkenalkan kami kepada salah seorang tour leader UBEPE dari Bandung bernama bapak Hafiez yang selanjutnya saya hubungi dia melalui Telegram dan WA.

Pada saat tiket  promo muncul di FB  dan ditawarkan beberapa  tambahan kunjungan ke negara lain seperti ke Malaysia dan disekitar Arab saudi seperti Mesir,danTurki. Saya merasa senang karena saya memang suka traveling. Pada awalnya saya niat berumroh saja karena lebih hemat. Namun setelah saya hitung-hitung saya berminat ke Turki juga karena hanya tinggal nambah sedikit fee saja. Kalau dengan sengaja melancong ke Turki dari Indonesia saya lihat biayanya mahal. Setelah berdiskusi dengan suami akhirnya kami putuskan untuk gabung UBP Plus Turki. Yay!!

Langkah pertama yang saya lakukan berdasarkan prosedur yang dia sarankan adalah melakukan booking tiket penerbangan. Di facebook group, bu Mia giat mengingatkan peserta group untuk sesegera mungkin melakukan booking tiket ketika tiket masih dalam keadaan harga promo. Uang saya yang ada sewaktu itu hanya cukup untuk booking satu tiket. Ini cukup meresahkan saya karena saya ingin sekali suami bisa ikut walaupun dia sudah dengan ikhlas mengijinkan saya pergi berumroh sendiri.  Pada hari saya transfer uang untuk booking tiket ke pa Hafiez, sempat terbersit kekhawatiran takut tertipu karena saya belum kenal dan bahkan belum bertemu langsung dengan nya, namun saya bulat tekad untuk beribadah berumroh dan dengan langkah awal berucap Bismillah, saya transfer uang tersebut malam itu. Saya sudah pasrah menerima resiko apapun yang akan terjadi, saya berserah diri kepada Allah SWT.

Esok hari saya hubungi dia untuk menanyakan kabar booking tiket. Karena pada malam harinya dia sempat memberitahukan bahwa booking tiket promo tidak berhasil karena ada gangguan diinternet. Saya berdoa sepanjang hari itu agar booking tiket saya bisa segera berhasil saya tidak sempat booking tiket sendiri karena sibuk bekerja. Sampai sore saya baru dapat kabar baik bahwa pa Hafiez sedang dalam proses booking tiket lagi .

Malam hari itu saya langsung laporan kepada suami bahwa saya sudah transfer dan booking tiket sedang dalam proses.  Tak disangka suami saya ternyata  pada hari itu mendapatkan rejeki yang lumayan, dia malah langsung memberikan sejumlah uang dalam amplop kepada saya untuk tambahan biaya umroh saya.  Saya langsung terharu dan tak lama saya berpikir, saya  mengusulkan agar uangnya untuk booking satu lagi  tiket  agar kita bisa berumroh bersama. Awalnya dia menolak dengan alasan uangnya masih kurang kalau dipakai Umroh berdua,  dia juga khawatir harus meninggalkan anak-anak agak lama kalau berumroh.  Namun setelah saya jelaskan keleluasaan waktu untuk menabung kekurangan dana umroh yang hampir satu tahun kedepan, untuk anak-anak saya yakinkan untuk menitipkan anak-anak kami kepada Uwa-uwanya dan karena saya juga sedikit merayu dayu akhirnya dia mau dan malah dia berikan lagi tambahan uangnya yang sebelumnya dia niatkan untuk menambah tabungannya. Alhamdulillah keinginan saya untuk berumroh berdua suami semakin terlihat jalannya.

Langsung malam itu juga saya kabari pa Hafiez bahwa saya akan transfer uang lagi untuk tambah satu tiket lagi. Dengan lancarnya malam itu dia booking tiket   dan segera dia kirim email tiket kami. Kami cetak tiket tersebut  dua kali di warnet terdekat setelah itu kami berdua pegang masing-masing tiket, kami pelajari tiket tersebut, saya terdiam mengucapkan alhamdulillah dalam hati rasa masih tidak percaya tapi nyata tiket sudah ada di gengaman kami. Saya mempelajarinya dengan harap yang amat membuncah namun saya tahan karena ini masih terasa belum nyata dan masih terasa  jauh. Saya rasa suami sayapun berpikir yang sama malam itu.

Waktu demi waktu berlalu, berhari hari, lalu berminggu-minggu dan akhirnya berbulan bulan lamanya saya tatap setiap waktu teringat niat berumroh, tak lupa saya sempatkan diri berkali-kali membaca buku  yang saya beli karya mbak Ely, saya juga beli buku lain yang berisi panduan berhaji dan umroh, dan ada satu buku yang berisi tentang perjalanan haji dengan berjalan kaki seorang berkebangsaan Bosnia bernama Senad  yang menambah motivasi saya berumroh. Tak malu saya bertanya beberapa informasi yang saya belum mengerti kepada pa Hafiez, bu Mia dan beberapa teman yang sudah pernah berumroh dan tak lupa saya menambah tabungan saya agar siap pada waktunya saya berangkat umroh. Niat saya seimbangkan dengan usaha saya berhemat untuk umroh.

Mendekati keberangkatan umroh saya mendapat informasi manasik di beberapa tempat di Indonesia yang di informasikan di komunitas UBP di FB. Saya beruntung ada jadwal manasik di Pondok Gede karena itu lokasi terdekat dari rumah kami di Bojong Gede. Bersama suami pagi itu kami naik kereta menuju lokasi manasik. Dan disanalah baru kami bertemu langsung dengan pa Hafiedz. Subhanallah pa Hafiedz yang kami bayangkan jauh lebih tua padahal pada kenyataanya dia masih muda dan menyenangkan orangnya.

Peserta manasik berasal dari berbagai daerah dan dari berbagai kalangan, saya pikir kita yang ingin berbackpack adalah mereka yang dari segi finansial cukup bahkan kurang saja. Ternyata banyak peserta dari berbagai kalangan yang saya anggap secara finansial sudah mapan seperti dokter, pengusaha, …ko mereka yang banyak uang masih ingin ber-backpack ria ya???….ko saya jadi iseng ya…ternyata banyak dari mereka sudah berkali-kali gabung umroh backpaker, saya salut terhadap orang-orang seperti itu.

Ada beberapa group dari travel yang manasik di tempat yang sama waktu itu. Sungguh berbeda penampilan group UBP dengan group umroh dari travel lain. Kami berpakaian berbeda satu sama lainnya alias bebas  dan berwarna warni tapi sopan,  sedangkan group dari travel lain berpakaian seragam putih-putih lengkap dengan atributnya seperti syal dan buku panduan tergantung di leher masing-masing jamaah.

Kegiatan manasik diawali dengan materi seputar umroh yang dibawakan oleh seorang ustadz senior yang sangat bersahaja. Kami juga di perkenanalkan satu sama lain kepada jamaah lain dan beberapa  tour leader. Waktu itu kami berdualah peserta yang berangkat pada tanggal 22, yang lain berangkat di tanggal yang berbeda. Para jamaah berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan dari daerah kami ternyata juga ada. Dia seorang supir ojek bernama pa Firman yang beruntung di  beri hadiah UBP dari sebuah yayasan kerena  ia banyak menampung anak yatim dirumahnya.  Allah SWT senantiasa memberi jalan bagi mereka yang berniat tulus ingin beribadah, bila mana kita tidak dapat menabung ternyata Allah akan memberikannya cuma-cuma melalui hadiah. Subhanallah.

Di bulan Desember keberangkatan umroh yang dinanti-nanti, saya persiapakan segala hal yang sudah saya pelajari, segala cobaan saya hadapi,  tak lupa saya meminta maaf kepada orang tua, teman, anak-anak, saudara, tetangga dan tak lupa kepada suami, walaupun suami ikut berumroh jauh sebelumnya tiba waktu berumroh saya senantiasa selalu meminta maaf kepadanya, dialah teman saya berbagi tawa dan berselisih. Selalu saya ingatkan dia untuk tulus memaafkan kesalahan-kesalahan yang pernah saya perbuat. Dan begitupun saya meminta dan memaafkan dengan tulus dan ikhlas dengan niat agar ibadah umroh kami dapat diterima oleh Allah SWT. My husband is my best true friend for me…. cieeee so sweet!!

Tiba waktu keberangkatan tanggal 22 Desember 2016,  kami berangkat ke Kuala Lumpur masing-masing jamaah dan  berkumpul serentak dari berbagai daerah di KLIA meeting point. Tak disangka ternyata rombongan umroh  kami lumayan banyak jemaahnya, ada dari Jakarta, Depok, Bali, Surabaya, Yogya, Medan, Aceh, kalimantan dan lain-lain. Ternyata banyak jamaah yang merasa beruntung seperti saya dan suami. Dengan UBP alhamdulillah kami bisa berumroh dengan hemat. Terima kasih kepada semua panitia, tour leader, mutowif dan semua orang yang terlibat di UBP. UBP oke !

The Lion Who Wish to Eat Grape

 

Long time ago, lived a very arrogant and cruel lion that lived in a forest. He always gets everything that he wanted. And if he didn’t get what he wanted, he got angry and killed anyone who stopped him with his sharp claws and fangs.

One day when he was walking around the forest, he saw a monkey eating some grapes on a tree branch. The monkey seemed to enjoy his grape very much so the lion thought that the grape must be delicious and he wanted to eat it. Then the lion said,”hey monkey, what did you eat, give me some I order you!” The monkey replied, “this is grape, are you sure you want to eat this?” the lion answered impatiently, “I never eat grape before, of course I want to eat it, I said give me some, you foolish monkey”

Hearing the lion’s rage, the monkey was scared, so he told the lion that grape is not a suitable food for him. “I will not give this to you because you will not like it. It’s sour and tasteless.” Said the monkey by trying to convince the lion. But the lion did not believe the monkey. He said, “I don’t believe you stupid monkey, if it’s not delicious why do you enjoying it so much?” the monkey tried to convince the lion again. he said,” I have told you the truth, I’m afraid soon after you eat it and you don’t like it and you will kill me” the lion got angry, he said angrily “how dare you ignored my order, I’m the king of the forest, I could kill you with one bite and my sharp claws will tear your small body apart if you don’t do what I’ve said”

Hearing the lion’s threat, the monkey said, ”if you really want the grape, then get it yourself! It’s right above you” then he escaped from the lion. The lion tried as hard as he could to reach the grape, but since he couldn’t climb, he failed to get the grape, he asked the other animals to help him, but they were too afraid to say yes and they ran away from him. No one wanted to help him.

“aaaargh, why all of you ran away from me? I’m the king of the forest, how dare you disobey me. ok, if no one wanted to help me, I’ll get it myself” the lion yelled and roared really loudly until the grape tree shook and made the grape fell from the tree. “see, I told you I can get it myself, you useless little creature, hahaha, even the wind is on my side” the lion quickly grabbed the grapes and put it into his mouth.

Not long after he ate the grapes, he splitted all the grapes to the ground and grumped, ”yuck, what is this food? This is tasteless, I don’t like it. Hpw the monkey could eat this?” and he felt his stomach rumbling and sharp pain.” There’s something wrong with my stomach, what’s happening? It’s so hurt I can’t stand anymore!”

The lion suffered from a terrible stomachache. He ran immediately to the river. Why he went to the river? I think you can figure it out by yourself.

The end

From the story, I just want let all you know that not everything that we want is good for our self.

 

 

A Poem to WJLRC

I admire this simple habit

To see those developed people sit

In a bus or a bench or even in a pit

To read and write with their kit

A view of literate people that seems right and fit

 Here  I mourn to literacy

For it happens in my beloved country

Don’t blame of a dangerous conspiracy

Causes of losing assets and identity

It is just a form of stupidity

I trust this new and old movement

Born from simple big ideas and strong commitment

Not a dream but a real intention of improvement

A willing to race the development

A might to a huge result not just an experiment

I’m not scared and  who else dare

I have proved that I can share

This literacy movement without any fare

Being tired that I don’t care

But being left behind please be aware

For you  I have made a vow

Right here in west Java with my fellow

A reading challange program to follow

By the next generation with a hope to glow

Like the sun shining bright without sorrow

A Night Shadow

long time ago I moved into a house in a quiet housing complex in a small city. I lived there along with my parents and my two brothers Bowo and Tono. I had to lived in that house because my father got a promotion in the city.

The house is located in the corner of a dead end. It has two stories which has a bedroom in the first floor and three bedrooms in the second floor. My parents bedroom is in the first floor and the children’s bedrooms are in the second floor. My bedroom is between my brothers bedrooms.

Our neighbour Mr. Didi has a bigger house than ours but his house is not a two stories house so we can see his roof and his backyard from my brother’s bedroom’s windows. He is a very busy businessman so he often left his house for days or weeks for business or holidays going abroad with his family.

One night, I heard one of my brother sreaming out loud in his bedroom. “Aaahhhh!!!” He sreamed. We were all rushing to his bedroom and my father asked him “What Happened…. why are you screaming Tono?”. My brother was gasping so my mother gave him a hug and tried to calmed him down. After some minutes he managed to calm him self and told what happend. “first I heard some foot steps on Mr. Didi’s roof so I looked at the window and there I saw a white shadow outside the window… I think it was a ghost!!”. He said it scarely.

My father directly opened and looked outside the window and he found nothing .“ are you sure?? Here look,….. there is nothing outside the window.” My father asked him. So we all directly came close to the windows and looked outside to make sure of his words. When we looked, there was nothing but Mr. Didi’s roof and dark shadows of trees in his backyard. “but I was so sure… I heard some foot steps then saw a white shadow and a bald head shape outside my windows minutes ago.” My brothers Tono tried to convince all of us. But since he couldn’t prove his story we all went to our rooms to continue our sleep and left him in his room alone.

After some minutes my brother Tono came to my room and woke me up. “ Hey Luthfi….wake up, will you sleep in my room?” He whispered. I was so sleepy so I refused his request at first. “No I can’t…I’m so sleepy…go back and sleep Tono” . I replied. But he begged me to accompany him to sleep in his bedroom. “Luthfi I beg you …please stay in my room for tonight.” He begged. He made me agreed to sleep in his room by mocking me as a coward. He said “you such a coward Luthfi, you must be afraid to see a ghost!!”. So I got up and felt upset of his words and I said “ I’m not afraid of ghost, eventhough I never see such thing like ghost…. alright then, I’ll accompany you to sleep in your room”. So both of us went back to the room and got some sleep there.

Just as I slept for about 15 minutes, I heard a very slowly footsteps on the roof. I was so surprise, so I immediatelly opened my eyes and there I saw my brother Tono was Starring at me and gave me a sign to be quiet then he whispered “Ssstt…that’s what I heard….the foot steps but this time it sound slower and weaker then before….Luthfi I’m so scared”. I felt numb and speechless at first but after a while I whispered back to him “Tono…. Let’s see what’s that…don’t be scared, you’re not alone”. So we got up and walked slowly to the windows. While Tono stand behind me, I started to opened the curtain and there I saw a shadow of a bald man wearing a white clothes. I was shaking and turning around to my brother after our eyes contacted each other, we both suddenly screamed “Aaaahhh ….. Gggg …   ghost!!”

In a hurry we both ran toward the door and tried to open it panicly. As I succeded to open the door, my brother Tono always closed it again and again so we got locked up in the room screaming in terrify. All of the family member definetely woke up when they heard our screaming so they all ran fast to Tono’s bedroom and tried to open the door. My brother Bowo reached the door first and so he pushed the door inside and saved us.

My parents looked very worry and then my father asked us “What happend boys?” . Tono answered angrily “I have told you before dad, I saw a ghost but you don’t believe me,….and now Luthfi has proved my words”. My father asked me “Is that true Luthfi?”. “It’s true dad…I also saw the ghost, it was bald and wore a white clothes”I convinced him. Suddenly my brother Bowo said “Dad…Mr. Didi’s House, I guess it’s empty, he went this morning with all of his family”.

My father thought for a moment then straight told my brother Bowo to join him to go out to Mr. Didi’s house and we all followed him in confuse . He asked my brother Bowo to kick and break Mr. Didi’s door and entered the house. There they busted some thieves in the house. All the thieves ran by the open door and I see one of the thief was bald and he was exactly looked the same with the ghost shadow. So we all shouted and screamed loudly and woke all the neighbors. “ Thieves… Help…help!!!”.

Finally we all succeded in catching the thieves. The thieves were surrender for they were too many people blocking their ways and they were not lucky at the moment as they couldn’t run away from the complex. Since that, my brothers and I were famous as a thief catcher among our neighbours and we also got some prizes from Mr. Didi as gratitude.

The end.